
KABAR JAWA – Mangkunegara I atau Raden Mas Said dikenal dengan sebutan Pangeran Sambernyawa karena kepiawaiannya di medan laga, khususnya ketika menghadapi pasukan Belanda.
Sejak muda, keberanian dan keteguhannya membuatnya tidak gentar menghadapi lawan.
Pada masa dewasanya, ia bahkan harus berhadapan beragam lawan, sehingga perjuangannya yang tidak kenal lelah inilah yang membuat lawan kesulitan menghadapinya.
Perang Panjang Melawan VOC
Perjuangan Raden Mas Said berlangsung selama bertahun-tahun. Pada periode 1741-1742, ia memimpin pasukan Tionghoa melawan VOC.
Saat itu, campur tangan Belanda dalam pemerintahan setempat memicu kerusuhan di pusat kota.
Rakyat dari wilayah Rembang, Brebes, Tegal, Lamongan, dan orang Tionghoa di Batavia bersatu di bawah komando Sunan Kuning.
Sebagian warga terpaksa mengungsi ke Cirebon dan Indramayu demi mendapatkan perlindungan dari Sultan Cirebon.
Melansir dari berbagai sumber, sekitar tahun 1743 an Raden Mas Said kemudian berupaya melawan VOC.
Meskipun jumlah pasukannya cukup sedikit, rupanya mereka mampu bergerak cepat dan menguasai medan pertempuran.
Hal ini tak lepas karena strategi yang diterapkan Raden Mas Said terhadap para anak buahnya.
Taktik Perang yang Mengguncang Lawan
Pangeran Sambernyawa menguasai strategi gerilya yang mematikan. Pasukannya dikenal mampu mundur lalu menyerang dari berbagai arah yaitu kiri, kanan, depan, dan belakang secara mendadak, membuat lawan kewalahan.
Tiga taktik utama yang ia gunakan dikenal dengan sebutan Ddhedemitan, Weweludhan, dan Jejemblungan. Lalu, apa artinya?
Weweludhan
Weweludhan berasal dari kata “welut” yang berarti belut. Belut dikenal licin dan sulit ditangkap.
Dalam peperangan, hal ini menggambarkan pasukan Pangeran Sambernyawa yang sulit dikepung maupun ditangkap musuh.
Ddhedemitan
Ddhedemitan diambil dari kata “demit” atau setan. Taktik ini menggambarkan pasukan yang bergerak senyap dan tak terlihat, namun mampu memberikan serangan mengejutkan yang mematikan.
Jejemblungan
Jejemblungan dapat diartikan sebagai tindakan gila-gilaan. Pasukan yang menggunakan taktik ini akan maju tanpa rasa takut, menghadapi lawan secara langsung, dan melibas siapa pun yang ada di hadapan mereka.
Semangat Tiji Tibeh dan Julukan Sambernyawa
Pangeran Sambernyawa juga memiliki semboyan Tiji Tibeh, akronim dari “mati siji mati kabeh, mukti siji mukti kabeh” yang berarti mati satu mati semua, berjaya satu berjaya semua.
Julukan Sambernyawa sendiri diambil dari nama pedang yang selalu dibawanya dalam setiap pertempuran melawan penjajahan asing.
Dengan demikian, kini diketahui bahwa kisah Pangeran Sambernyawa bukan hanya cerita tentang perang, tetapi juga tentang kegigihan, persatuan, dan strategi cerdas.
Hingga kini, namanya tetap diingat sebagai pahlawan nasional yang mampu mengubah jalannya pertempuran dengan taktik sederhana namun mematikan, yang membuat sejarah mencatatnya sebagai salah satu pejuang paling berbahaya yang pernah dihadapi Belanda di tanah Jawa.***