
KabarJawa.com – Keraton Yogyakarta kembali bersiap menggelar hajatan sakral. Dalam rangka memperingati Isra Miraj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah, Keraton akan melaksanakan upacara adat Yasa Peksi Burak. Berdasarkan jadwal resmi, agenda ini akan dilaksanakan pada Kamis, 15 Januari 2026.
Mungkin bagi masyarakat awam atau wisatawan, istilah ini terdengar asing. Padahal, di balik namanya yang unik, tersimpan filosofi mendalam tentang akulturasi budaya Jawa dan Islam yang dilestarikan oleh Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat setiap tanggal 27 Rajab (Kalender Jawa/Sultan Agung).
Lantas, apa sebenarnya Yasa Peksi Burak itu dan simbol apa saja yang tersembunyi di dalamnya? Berikut ulasan lengkapnya.
Mengupas Arti Nama “Yasa Peksi Burak”
Mari kita bedah istilahnya satu per satu. Dalam Bahasa Jawa, Yasa berarti membuat atau mengadakan. Peksi berarti burung.
Sedangkan Burak merujuk pada Buraq, makhluk tunggangan Nabi Muhammad SAW saat melakukan perjalanan Isra Miraj menembus langit ketujuh.
Jadi, secara harfiah, Yasa Peksi Burak adalah tradisi membuat replika burung Buraq sebagai simbol kendaraan Nabi untuk memperingati peristiwa suci tersebut.
Filosofi “Pitu” dan Simbol Kesejahteraan
Replika Burak ini tidak dibuat dari sembarang bahan. Berdasarkan laman resmi Kraton Jogja, diketahui bahwa Keraton menggunakan kulit jeruk bali yang diukir sedemikian rupa hingga membentuk badan, leher, kepala, dan sayap burung. Burung-burung ini kemudian diletakkan di atas sarang (susuh) dari daun kemuning.
Uniknya, replika burung ini bertengger di atas pohon buah buatan. Pohon ini dirangkai dari tujuh macam buah lokal. Dalam budaya Jawa, angka tujuh disebut Pitu.
Pemilihan tujuh jenis buah ini bukan tanpa alasan. Kata Pitu merupakan doa agar masyarakat dan keraton senantiasa mendapatkan Pitulungan (pertolongan), keselamatan, dan kesejahteraan dari Tuhan Yang Maha Esa.
Ketujuh buah tersebut disusun secara berurutan, yaitu:
- Salak.
- Sawo.
- Apel Malang.
- Jeruk Bali.
- Rambutan.
- Manggis.
- Pisang Raja (di bagian paling bawah).
Khusus untuk Pisang Raja, ini melambangkan harapan bahwa Sultan atau Raja Kesultanan Ngayogyakarta dapat senantiasa menjadi pengayom bagi seluruh rakyatnya.
Gambaran Taman Surga
Selain pohon buah, ada juga pohon bunga yang dibuat dari rangkaian dedaunan dan melati. Pohon-pohon bunga ini menyimbolkan keindahan taman surga.
Jadi, visualisasi sepasang Peksi Burak (jantan dan betina) yang bertengger di antara pohon buah dan bunga tersebut adalah gambaran suasana surga yang damai dan indah.
Aroma wangi melati yang melilit pohon buah juga melambangkan kesucian peristiwa Isra Miraj itu sendiri.
Prosesi Yasa Peksi Burak
Keistimewaan lain dari tradisi ini adalah pelaksananya. Prosesi pembuatan (Yasa) Peksi Burak yang berlangsung pagi hari yaitu pukul 09.00 hingga 12.00 WIB. Kegiatan ini biasanya dilakukan secara tertutup di Bangsal Sekar Kedhaton, area Keputren.
Pekerjaan merangkai ini hanya boleh dilakukan oleh kerabat dekat Sultan yang wanita, seperti Permaisuri, Putri Sulung, istri Pangeran, cucu (Wayah Dalem), dan para Abdi Dalem putri (Keparak). Ini adalah momen di mana sentuhan lembut para wanita Keraton merangkai doa melalui simbol-simbol alam.
Arak-arakan Menuju Masjid Gedhe
Setelah selesai dirangkai dan didoakan oleh Abdi Dalem Punokawan Kaji selepas salat Asar (sekitar pukul 15.30 WIB), Peksi Burak akan diarak keluar Keraton.
Rutenya dimulai dari Bangsal Sekar Kedhaton, melewati Regol Kamandungan Lor, menyusuri Jalan Rotowijayan, hingga berakhir di Masjid Gedhe Kauman.
Di sanalah replika taman surga tersebut diserahkan kepada pengurus masjid untuk didoakan bersama demi keselamatan Sultan, Keraton, dan kesejahteraan rakyat Yogyakarta.
Tradisi yang Masih Dilestarikan
Jadi kesimpulannya, Yasa Peksi Burak adalah tradisi Jawa yang masih dilestarikan Keraton Yogyakarta dalam rangka memperingati Isra Miraj Nabi Muhammad SAW.
Adapun kegiatan ini juga sering dilaksanakan setiap tanggal 27 Rajab. Kini, diketahui pula bahwa makna tradisi tersebut menyimpan makna mendalam, termasuk simbol pertolongan, keselamatan hingga kesejahteraan.***