
KabarJawa.com– Kabut tipis menyelimuti lereng Gunung Merapi ketika langkah-langkah pelan ribuan orang menyusuri jalur pendakian sakral dari Kinahrejo, Cangkringan, Sleman.
Di tengah udara dingin dan aroma tanah basah, Keraton Yogyakarta kembali menghidupkan Tradisi Labuhan Merapi, sebuah ritual adat sakral yang sarat makna spiritual, sejarah, dan doa keselamatan bagi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menggelar Upacara Adat Labuhan Merapi sebagai bagian dari rangkaian Tingalan Jumenengan Dalem, peringatan ke-38 tahun bertahtanya Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai Raja Keraton Yogyakarta.
Prosesi sakral ini berlangsung khidmat pada Selasa (20/1/2026) dan menjadi penanda kuat hubungan spiritual antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Prosesi Sakral Labuhan Merapi
Upacara Labuhan Merapi dimulai sejak pukul 06.00 WIB dari Pendopo Museum Petilasan Mbah Maridjan. Juru Kunci Merapi, Mas Kliwon Suraksohargo Asihono atau Mbah Asih, memimpin langsung prosesi tersebut bersama para abdi dalem Keraton Yogyakarta.
Rombongan berjalan kaki menempuh jarak sekitar 2,5 kilometer menuju Bangsal Srimanganti Hargo Merapi, lokasi utama pelaksanaan labuhan.
Jalur pendakian yang dilalui bukan sekadar lintasan fisik, melainkan ruang spiritual yang menyimpan doa, harapan, dan penghormatan kepada kekuatan alam Gunung Merapi.
“Upacara Labuhan Merapi menjadi sarana agar masyarakat mengenal, memahami, dan mencintai tradisi budaya Jawa. Keraton mempersembahkan ritual ini untuk masyarakat luas,” ujar Mbah Asih, putra almarhum Mbah Maridjan, dengan suara tenang namun penuh makna.
Keraton Yogyakarta menggelar Tradisi Labuhan Merapi dengan tujuan utama memohon keselamatan dan menjauhkan masyarakat dari malapetaka, khususnya bagi wilayah DIY.
Melalui ritual ini, Keraton juga memanjatkan doa agar masyarakat tetap aman dan tenteram apabila Gunung Merapi mengalami aktivitas vulkanik di masa mendatang.
“Tradisi ini mengandung harapan agar Merapi selalu membawa berkah, bukan bencana. Kami memohon keselamatan untuk masyarakat Yogyakarta,” ungkap Mbah Asih.
Prosesi labuhan tidak sekadar menaruh sesaji lalu ditinggalkan. Keraton justru membagikan ubarampe dan makanan yang telah didoakan kepada masyarakat. Masyarakat meyakini berkat tersebut membawa keberkahan, keselamatan, dan ketentraman hidup.
Upacara Labuhan Merapi menghadirkan berbagai ubarampe sakral yang masing-masing menyimpan filosofi mendalam.
- Nyamping Cangkring
- Kawung Kemplang
- Semekan Gadhung
- Semekan Gadhung Mlathi
- Semekan Banguntulak
- Kampuh Poleng Ciut
- Dhesthar Daramuluk
- Paningset Udaraga
- Sela Ritus Lisah Konyoh
- Amplop Yatra Tindhih
- Sepuluh biji Ses Wangen
- Apem Mustaka
“Setiap ubarampe memiliki makna. Semekan Banguntulak, misalnya, melambangkan harapan untuk menolak bala dan menjauhkan masyarakat dari hal-hal buruk,” jelas Mbah Asih.
Setelah prosesi doa, panitia membagikan nasi kepal beserta lauk pauk kepada masyarakat dan wisatawan. Warga percaya makanan tersebut membawa berkah karena telah melalui ritual sakral Keraton.
Pentas Seni Budaya Meriahkan Tingalan Jumenengan Dalem
Selain prosesi adat, Keraton Yogyakarta juga menampilkan berbagai pentas seni dan budaya sebagai penutup rangkaian Tingalan Jumenengan Dalem.
Pagelaran tersebut meliputi tari klasik gaya Yogyakarta Sekar Pudyastuti, wayang kulit dengan lakon Lampahan Wahyu Kalimosodo, serta pertunjukan seni tradisional lainnya.
Pentas seni ini mempertegas komitmen Keraton dalam nguri-uri budaya Jawa sekaligus mengenalkan kekayaan adat Yogyakarta kepada generasi muda dan masyarakat luas.
Tradisi Labuhan Merapi mampu menjadi magnet wisata budaya. Ribuan masyarakat, wisatawan domestik, hingga wisatawan mancanegara mengikuti prosesi ini dengan penuh antusias.
Para relawan dari berbagai unsur seperti SAR, Pramuka, petugas kesehatan, dan komunitas lokal turut mengawal jalannya upacara agar berlangsung aman dan tertib.
Antusiasme semakin terasa ketika masyarakat berebut menyaksikan prosesi ritual dan menerima berkat labuhan. Kehadiran mereka membuktikan bahwa tradisi leluhur tetap hidup dan relevan di tengah modernitas.
Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, turut menghadiri Upacara Adat Labuhan Merapi bersama Paring Dalem Surakso Hargo (Mbah Asih) dan abdi dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Kehadiran pemerintah daerah menegaskan dukungan terhadap pelestarian budaya adiluhung Yogyakarta.
Setibanya di Bangsal Srimanganti, rangkaian upacara dilanjutkan dengan ritual utama, doa bersama, serta pembagian berkat kepada masyarakat dan wisatawan yang hadir.
Tradisi Labuhan Merapi Keraton Yogyakarta tidak sekadar ritual tahunan. Tradisi ini menjadi penjaga harmoni antara manusia dan alam, sekaligus warisan budaya yang mengajarkan nilai syukur, kebersamaan, dan penghormatan terhadap kekuatan semesta.
Di lereng Merapi, doa-doa terus mengalir bersama kabut pagi. Keraton Yogyakarta kembali menegaskan bahwa budaya bukan sekadar masa lalu, melainkan jalan hidup yang terus menyala demi keselamatan dan kedamaian Yogyakarta. (ef linangkung)