
KabarJawa.com– Prosesi Upacara Adat Garebeg Besar Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat tahun ini akan berlangsung dengan suasana yang lebih khidmat dan tertutup.
Di balik penyederhanaan format, Keraton Yogyakarta justru menegaskan komitmen dalam menjaga nilai sakral tradisi warisan leluhur yang telah bertahan ratusan tahun.
Keputusan penting itu muncul setelah Keraton Yogyakarta memusatkan seluruh rangkaian prosesi pembagian pareden hanya di dalam lingkungan Keraton dan memperuntukkannya khusus bagi para abdi dalem.
Kebijakan tersebut dijalankan sesuai instruksi langsung Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai Raja Keraton Yogyakarta sekaligus Gubernur DIY.
Garebeg Besar Keraton Yogyakarta 2026
Langkah tersebut langsung mengubah wajah Garebeg Besar tahun ini. Tidak ada lagi iring-iringan gunungan dan pareden menuju Kompleks Kepatihan maupun Puro Pakualaman seperti tahun-tahun sebelumnya.
Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi ribuan masyarakat kini tidak akan menyaksikan keramaian tradisi rebutan gunungan yang selama ini menjadi magnet budaya sekaligus wisata spiritual masyarakat.
Meski demikian, Pemerintah Daerah DIY memastikan bahwa penyederhanaan tersebut sama sekali tidak mengurangi makna filosofis Garebeg Besar sebagai simbol sedekah Raja kepada rakyatnya.
Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, menegaskan bahwa masyarakat perlu memahami substansi utama dari keputusan tersebut. Menurutnya, Keraton hanya menyesuaikan format pelaksanaan, bukan menghapus tradisi.
“Masyarakat perlu memahami bahwa penyesuaian format tahun ini merupakan bentuk penyederhanaan dan bukan peniadaan upacara adat. Tidak digelarnya prosesi pembagian pareden ke luar lingkungan Keraton sama sekali tidak menghilangkan esensi utama Garebeg sebagai wujud syukur dan sedekah dari Raja,” tegas Dian pada Rabu (20/05).
Pernyataan itu sekaligus menjawab berbagai pertanyaan masyarakat mengenai absennya prosesi besar yang selama ini identik dengan Garebeg Besar.
Dian menilai esensi utama tradisi tetap berjalan utuh karena Keraton masih melaksanakan seluruh rangkaian adat secara internal dengan tata cara yang sakral.
Ia menjelaskan bahwa nilai luhur Garebeg sebagai simbol sedekah Raja kepada masyarakat tetap terjaga melalui keberadaan para abdi dalem yang menerima pareden secara langsung dari Keraton.
Seluruh mekanisme pembagian berlangsung tertib dan sepenuhnya berada dalam pengaturan manajemen domestik Keraton Yogyakarta.
Keputusan tersebut memang membawa dampak besar terhadap atmosfer Garebeg Besar. Dalam kondisi normal, masyarakat selalu menantikan iring-iringan gunungan yang bergerak keluar dari Kompleks Keraton menuju beberapa titik penting, termasuk Kompleks Kepatihan dan Puro Pakualaman.
Ribuan warga biasanya memadati kawasan Malioboro dan Alun-Alun Utara demi menyaksikan prosesi budaya yang penuh simbol spiritual itu.
Kini, suasana berubah lebih tenang. Tidak ada gegap gempita massa maupun perebutan gunungan yang biasa berlangsung penuh antusiasme.
Namun, Keraton justru ingin menempatkan kembali Garebeg pada ruh utamanya sebagai ritual doa, syukur, dan keselamatan bagi masyarakat.
Asal Mula Garebeg
Secara historis, Garebeg bukan sekadar tontonan budaya. Tradisi ini memiliki akar panjang dalam perjalanan peradaban Jawa.
Kata garebeg sendiri berasal dari istilah gumrebeg yang berarti suara riuh atau keramaian banyak orang yang mengiringi sebuah peristiwa besar.
Tradisi tersebut berakar dari budaya Jawa kuno bernama Rajawedha, sebuah ritual sedekah Raja kepada rakyat.
Dalam perkembangan sejarahnya, tradisi itu mengalami transformasi pada masa Kesultanan Demak. Para Wali Songo menggunakan Garebeg sebagai sarana syiar Islam di tanah Jawa.
Sejak saat itu, Garebeg berkembang menjadi perpaduan harmonis antara budaya Jawa dan nilai-nilai Islam.
Hingga kini, Keraton Yogyakarta terus menjaga tradisi tersebut melalui tiga perayaan besar setiap tahun.
- Garebeg Syawal
- Garebeg Besar
- Garebeg Maulud
Dalam setiap pelaksanaannya, Keraton mengeluarkan berbagai jenis gunungan yang sarat makna filosofis.
Gunungan Kakung melambangkan kemakmuran dan tanggung jawab laki-laki, sementara Gunungan Putri menggambarkan kesuburan dan kesejahteraan.
Selain itu, terdapat pula Gunungan Darat, Gepak, hingga Pawuhan yang masing-masing memiliki simbol spiritual mendalam.
Dian menegaskan bahwa perubahan format seperti tahun ini bukan pertama kali terjadi. Keraton Yogyakarta sebelumnya juga pernah menerapkan pembatasan ketat saat pandemi Covid-19 melanda Indonesia.
Saat itu, Keraton memilih mengurangi keterlibatan publik demi menjaga keselamatan masyarakat tanpa menghilangkan inti ritual adat.
Menurut Dian, adaptasi justru menjadi bagian penting dari kemampuan tradisi bertahan menghadapi perubahan zaman.
Keraton Yogyakarta selama berabad-abad selalu mampu menjaga keseimbangan antara pelestarian adat dan situasi sosial masyarakat yang terus berkembang.
“Masyarakat perlu melihat bahwa tradisi besar seperti Garebeg tetap hidup karena mampu menyesuaikan diri dengan kondisi zaman tanpa kehilangan nilai filosofisnya,” ujarnya.
Sementara itu, mengenai alasan filosofis maupun pertimbangan mendalam di balik keputusan penyederhanaan internal tahun ini, Dian menegaskan bahwa hal tersebut sepenuhnya menjadi ranah domestik Keraton Yogyakarta.
Pemda DIY memilih menghormati sepenuhnya keputusan tersebut sebagai bagian dari otoritas budaya Keraton dalam menjaga kesakralan tradisi.
Pemerintah juga mengimbau masyarakat agar memahami langkah penyesuaian tersebut dengan bijak dan tidak memandangnya sebagai pengurangan nilai budaya. (ef linangkung)