
KabarJawa.com— Padukuhan Gudang, Kalurahan Kampung, Kapanewon Ngawen, pada Kamis Kliwon (28/5/2026), terasa berbeda.
Embusan angin lereng Gunung Wijil membawa aroma kemenyan bercampur wangi janur muda yang menghiasi sepanjang jalan menuju lokasi upacara adat Grebeg Besar Gunung Wijil.
Sejak matahari belum sepenuhnya menampakkan sinarnya, warga sudah memadati kawasan sakral tersebut. Mereka datang dengan pakaian adat Jawa, membawa harapan, doa, sekaligus semangat menjaga warisan budaya leluhur.
Grebeg Besar Gunung Wijil kembali menjadi penanda bahwa masyarakat Gunungkidul masih memegang kuat akar tradisi.
Ritual tahunan ini tidak sekadar menjadi agenda budaya, melainkan juga ruang spiritual yang menyatukan masyarakat lintas agama dalam satu ikatan persaudaraan.
Grebeg Besar Gunung Wijil Gunungkidul 2026
Suara gamelan yang bertalu pelan mengiringi langkah para pembawa gunungan. Barisan warga berjalan tertib mengikuti prosesi pasrah lan tampi gunungan.
Hal itu merupakan sebuah simbol penyerahan doa dan harapan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar masyarakat selalu mendapatkan keselamatan, kesejahteraan, serta ketenteraman hidup.
Purrahuan yang mewakili masyarakat menyerahkan sarana upacara kepada Agus Sumaryana. Prosesi berlangsung khidmat. Warga yang menyaksikan tampak larut dalam suasana sakral.
Di balik kemeriahan ritual tersebut, tersimpan sejarah panjang perjuangan bangsa. Gunung Wijil bukan sekadar lokasi upacara adat.
Tempat itu menjadi pengingat perjuangan Raden Ngabehi Jayakrama, tokoh penting yang dimakamkan di kawasan tersebut.
Raden Ngabehi Jayakrama adalah bagian dari Bergada Kawandajaya Alap-alap Pangeran Sambernyawa yang gigih melawan penjajah demi mempertahankan tanah air.
Warga percaya, menghormati leluhur bukan berarti terjebak masa lalu. Sebaliknya, penghormatan itu menjadi cara menjaga jati diri bangsa agar tidak tercerabut dari akar budaya sendiri.
Nilai tersebut tergambar dalam filosofi Jawa yang terus bergaung dalam Grebeg Besar Gunung Wijil, yakni Rumangsa melu handarbeni, wajib melu hangrungkepi, mulat sarira hangrasa wani.
Filosofi itu mengajarkan masyarakat untuk merasa ikut memiliki, wajib menjaga, serta berani melakukan introspeksi diri demi menjaga warisan budaya agar tetap lestari.
Semangat kebersamaan terlihat sangat kuat dalam pelaksanaan Grebeg Besar tahun ini. Tidak hanya umat Islam yang terlibat, tetapi juga umat Hindu, Kristen Jawa, Katolik, hingga Muhammadiyah ikut membaur dalam satu prosesi budaya.
Pelajar dari tingkat SD hingga SMK pun turut ambil bagian. Mereka menampilkan berbagai kesenian tradisional sebagai bentuk kecintaan terhadap budaya Jawa.
Kehadiran lintas agama dalam satu ritual budaya itu menjadi pemandangan yang menggetarkan hati. Di tengah berbagai isu perpecahan yang kerap muncul di media sosial, masyarakat Ngawen justru menunjukkan wajah Indonesia yang sesungguhnya.
Apresiasi dari Bupati
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, yang hadir langsung dalam acara tersebut memberikan apresiasi tinggi kepada masyarakat. Endah menegaskan bahwa kebudayaan merupakan alat pemersatu bangsa.
“Perbedaan suku, agama, dan ras dibingkai dalam Bhinneka Tunggal Ika,” tegasnya.
Bupati mengingatkan bahwa masyarakat Indonesia boleh memeluk agama berbeda, tapi identitas sebagai bangsa Indonesia harus tetap dijaga bersama.
Menurutnya, Grebeg Besar Gunung Wijil menjadi contoh nyata bagaimana budaya mampu merawat persatuan di tengah keberagaman.
Endah juga mengapresiasi semangat gotong royong warga yang rela bekerja hingga dini hari demi menyelesaikan hiasan janur dan penjor untuk upacara adat tersebut.
Kerja bersama itu, menurutnya, mencerminkan nilai luhur masyarakat Jawa yang masih terjaga dengan baik.
Ia kemudian mengingatkan pentingnya membangun kepribadian bangsa melalui kebudayaan sebagaimana ajaran Tri Sakti Bung Karno.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang berkepribadian dalam kebudayaan,” ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menunjukkan komitmen menjaga warisan budaya melalui dukungan anggaran infrastruktur menuju kawasan Gunung Wijil.
Melalui Dinas Pekerjaan Umum, pemerintah mengalokasikan anggaran sekitar Rp300 juta untuk rehabilitasi jalan menuju lokasi ritual.
Perbaikan akses jalan itu bertujuan agar wisatawan, peziarah, maupun masyarakat umum lebih mudah menjangkau kawasan Gunung Wijil.
Pemerintah Kabupaten Gunungkidul bahkan telah memasukkan Grebeg Besar Gunung Wijil ke dalam kalender event tahunan daerah.
Langkah tersebut menjadi bentuk keseriusan pemerintah dalam mendorong pelestarian budaya sekaligus pengembangan wisata budaya berbasis masyarakat.
Dukungan Berbagai Kalangan
Dukungan terhadap acara itu juga datang dari berbagai pihak. KGPAA Mangkunegara turut memberikan donasi untuk mendukung pelaksanaan kegiatan budaya tersebut.
Selain itu, Ikatan Keluarga Gunungkidul (IKG) bersama sejumlah pelaku usaha lokal ikut membantu menyukseskan acara tahunan tersebut.
Kemeriahan Grebeg Besar Gunung Wijil semakin terasa dengan hadirnya berbagai pertunjukan seni tradisional. Jathilan tampil memukau dengan atraksi penuh energi. Reog ogoh-ogoh mengundang decak kagum penonton.
Sementara itu, penampilan seni dari sekolah-sekolah di wilayah Ngawen menambah semarak suasana sekaligus menjadi bukti bahwa generasi muda masih mencintai budaya daerahnya.
Menjelang akhir acara, suasana kembali berubah khidmat. Tokoh-tokoh agama berdiri berdampingan memimpin doa bersama.
Mereka memanjatkan harapan agar masyarakat Ngawen dan Gunungkidul dijauhkan dari segala malapetaka atau nir ing sambikala.
Masyarakat berharap semangat golong gilig atau persatuan yang selama ini terbangun dapat terus dijaga demi menciptakan kehidupan yang tenteram, damai, dan raharja.
Di tengah derasnya arus modernisasi, Grebeg Besar Gunung Wijil seolah menjadi pengingat bahwa budaya bukan sekadar tontonan seremonial. (ef linangkung)