
KabarJawa.com – Di tengah kehidupan masyarakat Jawa, ada satu tradisi yang tetap bertahan meski perkembangan zaman terus melaju dengan cepat.
Tradisi itu adalah kebiasaan menghitung hari baik berdasarkan weton. Weton bukan hanya sekadar penanda kelahiran, tetapi juga dipercaya menyimpan petunjuk mengenai energi, keberuntungan, serta kecocokan waktu untuk melakukan berbagai hajat besar.
Banyak orang menggunakan perhitungan ini ketika hendak pindah rumah atau membuka usaha. Pertanyaannya, mengapa hitungan dina weton begitu penting dan dihormati? Inilah kisah dan rahasia yang tersembunyi di baliknya.
Makna Dina Weton dalam Tradisi Jawa
Jika kita menelusuri ajaran primbon Jawa, kita akan menemukan bahwa konsep hari baik sangat melekat dalam kehidupan masyarakat.
Menurut penjelasan dari Universitas PGRI Kanjuruhan Malang, diketahui bahwa pemilihan hari baik masih sering dilakukan hingga sekarang.
Keyakinan ini lahir dari anggapan bahwa setiap hari membawa energi tertentu. Sebagian hari dipercaya membawa keberkahan, sementara sebagian lainnya dianggap memunculkan tantangan.
Hubungan antara weton dan hari baik inilah yang membuat hitungan dina begitu dihargai. Melalui kombinasi hari tujuh harian seperti Senin, Selasa, hingga Minggu, dan hari pasaran Jawa seperti Kliwon, Legi, Pahing, Pon, dan Wage, muncullah nilai numerik yang disebut neptu.
Nilai inilah yang kemudian dianalisis untuk menentukan apakah suatu hari cocok digunakan untuk menjalankan hajat besar atau sebaiknya ditunda.
Masyarakat Jawa meyakini bahwa rahasia hitungan dina weton terletak pada keselarasan antara energi alam dan siklus waktu.
Dengan memilih hari yang tepat, seseorang berharap dapat membuka jalan menuju keberuntungan, mendekatkan kesejahteraan, dan menjauhkan segala bentuk kesulitan.
Hitungan Dina Weton untuk Pindah Rumah
Kepindahan rumah bukan hanya soal memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lain. Dalam pandangan orang Jawa, pindah rumah berarti memasuki fase hidup baru.
Oleh karena itu, hari kepindahan harus membawa kedamaian, kesehatan, dan kelancaran rezeki di tempat tinggal yang baru.
Proses perhitungannya dilakukan melalui langkah berikut:
Menentukan neptu weton seluruh anggota keluarga
Setiap orang yang ikut pindah memiliki neptu yang berasal dari gabungan hari dan pasaran kelahirannya. Neptu seluruh anggota keluarga perlu dijumlahkan terlebih dahulu.
Menentukan neptu hari kepindahan
Setiap hari juga memiliki nilai neptu tersendiri.
Menjumlahkan keduanya
Neptu keluarga ditambah dengan neptu hari yang direncanakan untuk pindah.
Membagi hasilnya dengan angka empat
Sisa dari pembagian inilah yang menjadi kunci analisis
Adapun makna dari sisa pembagian berdasarkan metode Catursuda adalah:
- Sisa satu disebut Guru, menandakan hari yang sangat baik.
Hari ini dipercaya membawa kesejahteraan serta kelancaran rezeki. - Sisa dua disebut Ratu, juga termasuk hari yang sangat baik.
Cocok untuk awal baru karena dipercaya menghadirkan keberwibawaan dan kemakmuran. - Sisa tiga disebut Rogoh, dianggap kurang baik.
Hari ini diyakini berpotensi mengundang masalah seperti perselisihan atau kehilangan. - Sisa empat atau nol disebut Sempoyong, dan sebaiknya dihindari.
Masyarakat Jawa memandang hari ini membawa keberuntungan yang lemah dan risiko kesialan.
Dari sinilah banyak orang tua zaman dahulu selalu memastikan hari pindahan tidak berada pada kategori Rogoh atau Sempoyong.
Hitungan Dina Weton untuk Membuka Usaha
Selain pindah rumah, hitungan hari baik juga diterapkan ketika seseorang ingin memulai usaha baru. Banyak yang meyakini bahwa hari permulaan akan memengaruhi perjalanan usaha ke depannya. Setiap hari dalam satu pekan memiliki karakter energi yang berbeda.
Berikut gambaran umum mengenai hari baik untuk membuka usaha menurut primbon:
Senin
Hari yang dianggap paling tepat untuk memulai apa pun. Energinya stabil sehingga sangat disarankan bagi mereka yang baru merintis usaha.
Selasa
Cocok untuk membuka usaha, walaupun perjalanan bisnis mungkin tidak selalu mulus. Dibutuhkan kesiapan mental untuk menghadapi hal yang tidak terduga.
Rabu
Hampir serupa dengan hari Senin, namun kekuatannya sedikit lebih ringan. Tantangan bisa muncul, tetapi masih dapat dihadapi dengan usaha yang konsisten.
Kamis
Kurang disarankan. Usaha yang dimulai pada hari ini dipercaya lebih sering menghadapi hambatan.
Jumat
Hari yang penuh ujian emosional. Primbon menyebutkan adanya potensi kekecewaan dan beban pikiran yang bisa mengganggu perkembangan usaha.
Sabtu
Menjadi hari yang paling tidak dianjurkan untuk memulai usaha. Energinya dianggap berat dan berpotensi membawa kesulitan.
Minggu
Bersifat netral. Hasilnya biasa saja, tidak terlalu baik namun juga tidak membawa kesialan.
Kekayaan Kearifan Lokal yang Tetap Hidup
Jadi, kebiasaan menghitung dina weton bukan sekadar tradisi turun-temurun. Di baliknya terdapat pemahaman mendalam mengenai keselarasan hidup, hubungan manusia dengan waktu, serta upaya menjaga keseimbangan energi. Baik untuk pindah rumah maupun membuka usaha, hitungan ini diyakini membantu seseorang melangkah dengan lebih yakin.
Meskipun kini banyak orang yang tidak lagi menjadikan weton sebagai patokan utama, tidak sedikit pula yang masih menghormatinya sebagai bagian dari warisan budaya Jawa.
Hitungan weton menjadi salah satu bentuk kearifan lokal yang memperkaya perjalanan hidup masyarakat hingga hari ini.***