Mengenal Tradisi Tedak Siten dalam Budaya Jawa, Upacara Anak Saat Pertama Kali Menginjak Tanah

Bagikan :
Foto ilustrasi Mengenal tradisi Tedak Siten, upacara adat Jawa saat anak pertama kali menginjak tanah, serta makna simbolik di balik setiap prosesi. (AI/KabarJawa)
Foto ilustrasi Mengenal tradisi Tedak Siten, upacara adat Jawa saat anak pertama kali menginjak tanah, serta makna simbolik di balik setiap prosesi. (AI/KabarJawa)

KabarJawa.com – Bagi masyarakat Jawa, setiap tahap pertumbuhan seorang anak sering kali dipandang sebagai perjalanan penting yang layak disyukuri. Salah satunya adalah Tedak Siten, tradisi yang menandai saat seorang anak mulai menapakkan kaki di tanah untuk pertama kalinya.

Dalam budaya dan tradisi masyarakat Jawa, Tedak Siten merupakan bagian dari upacara daur hidup yang menyimpan harapan orang tua, doa keselamatan, sekaligus penghormatan terhadap bumi sebagai tempat manusia menjalani kehidupan.

Menurut “Warisan Budaya Takbenda Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi” Tedhak Siten Kota Surakarta telah ditetapkan sebagai warisan budaya Indonesia melalui SK Nomor 372/M/2021.

Istilah Tedhak Siten sendiri berasal dari kata tedhak yang berarti menapakkan kaki dan siti yang berarti tanah atau bumi. Jadi secara bahasa Tedhak Sinten bisa diartikan sebagai menapakkan kaki ke tanah atau menginjak tanah.

Dalam tradisi Jawa, Tedak Siten umumnya dilaksanakan ketika anak berusia tujuh lapan, yakni 7 x 35 hari atau 245 hari dalam perhitungan kalender Jawa. Masa ini bertepatan dengan fase ketika anak mulai belajar duduk, berdiri, dan mengenal lingkungan di sekitarnya.

Namun, pelaksanaan di berbagai daerah dapat memiliki perbedaan. Dalam buku “Siti Tedak Siten” yang diterbitkan “Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa” dijelaskan bahwa tradisi ini sebagai adat turun ke tanah bagi anak berusia sekitar 8 hingga 10 bulan. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa praktik budaya dapat mengalami variasi sesuai lingkungan masyarakatnya.

Baca juga  Slametan Kemerdekaan: Tradisi Jawa yang Menggabungkan Doa, Kebersamaan, dan Rasa Syukur

Inti dari tradisi ini tetap sama, yakni memperkenalkan anak kepada tanah sebagai bagian dari perjalanan hidupnya. Orang tua menyampaikan rasa syukur atas pertumbuhan anak sekaligus memanjatkan harapan agar sang anak kelak mampu menjalani kehidupannya dengan kuat dan mandiri.

Tedak Siten biasanya dilengkapi dengan sejumlah perlengkapan atau uborampe. Salah satu prosesi yang dikenal luas adalah anak diarahkan untuk menginjak jadah atau makanan yang terbuat dari beras ketan dengan berbagai warna.

Jadah tersebut sering dimaknai sebagai gambaran tahapan atau tantangan kehidupan yang akan dihadapi anak. Setelah itu, anak dapat menaiki tangga yang dibuat dari tebu. Dalam pemaknaan tradisional, tebu kerap dikaitkan dengan harapan agar anak memiliki tekad dan jalan hidup yang baik.

Prosesi lain yang juga dikenal dalam sejumlah pelaksanaan Tedak Siten adalah memasukkan anak ke dalam kurungan. Di dalamnya dapat diletakkan berbagai benda, seperti alat tulis, buku, uang, atau benda lain. Anak kemudian dibiarkan memilih salah satu benda tersebut.

Pilihan anak dalam prosesi ini bukanlah ramalan pasti tentang masa depan. Dalam konteks budaya, simbol tersebut lebih tepat dipahami sebagai sarana doa dan harapan keluarga mengenai potensi serta perjalanan hidup anak.

Baca juga  Mengungkap Sejarah Masjid Agung Jawa Tengah: Ikon Religi dan Wisata Budaya

Beberapa pelaksanaan juga meliputi mandi dengan air bunga setaman, penyebaran uang atau udhik-udhik, serta pemotongan tumpeng. Setiap daerah dan keluarga dapat memiliki tata cara yang berbeda.

Penelitian mengenai Tedak Siten di sejumlah wilayah menunjukkan bahwa prosesi seperti menginjak jadah, menaiki tangga tebu, menginjak pasir, memilih benda dalam kurungan, hingga pembagian tumpeng dapat menjadi bagian dari tradisi tersebut.

Makna utama Tedak Siten terletak pada doa. Orang tua berharap anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang kuat, mampu berdiri sendiri, serta berguna bagi keluarga dan masyarakat.

Tradisi ini juga memperlihatkan hubungan manusia dengan lingkungan. Anak yang mulai menginjak tanah seolah diperkenalkan kepada dunia yang lebih luas setelah sebelumnya banyak menghabiskan masa awal pertumbuhan dalam dekapan keluarga.

Dalam kajian sosial budaya, Tedak Siten juga dipahami sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan dan permohonan keselamatan bagi perjalanan hidup anak. Penelitian lapangan mengenai tradisi ini di Ponorogo menemukan bahwa Tedhak Siten berkaitan dengan rasa syukur serta harapan agar anak mampu menjalani kehidupan di masa depan.

Baca juga  Dulu Dianggap Kuno, Sekarang Kebaya dan Lurik Malah Jadi Pilihan Buat Tampil Elegan dan Unik

Seperti banyak tradisi lainnya, Tedak Siten juga mengalami perubahan. Prosesi yang dahulu dilakukan dengan tata cara lebih lengkap kini dapat disederhanakan sesuai kondisi keluarga. Sebagian masyarakat mempertahankan unsur simbolik, sementara sebagian lainnya menyesuaikan pelaksanaan dengan kehidupan modern.

Penelitian terbaru mengenai perubahan tradisi Tedhak Siten menunjukkan bahwa modernisasi tidak selalu berarti hilangnya tradisi. Sebaliknya, masyarakat dapat melakukan penyesuaian bentuk dan pemaknaan agar warisan budaya tetap relevan.

Pada akhirnya, Tedak Siten mengajarkan bahwa tradisi tidak hanya berbicara tentang masa lalu. Di dalamnya terdapat nilai syukur, doa, hubungan keluarga, penghormatan terhadap alam, serta harapan agar seorang anak tumbuh menjadi manusia yang mampu menghadapi kehidupan.

Karena itu, Tedak Siten tetap menarik untuk dikenali dan dilestarikan. Bukan semata-mata karena seluruh prosesi harus dilakukan dengan cara yang sama, melainkan karena nilai dan pesan di baliknya masih memiliki arti bagi keluarga Jawa hingga hari ini.***

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Lokasi Tilang Operasi Patuh Progo 2026 Jogja
Titik Lokasi Rawan Tilang di Jogja, Operasi Patuh Progo 2026: ETLE Sleman, Bantul dan Sekitarnya
Kesalahan Penulisan Aksara Jawa di Kantor Disdikbud Jateng Jadi Sorotan, Begini Fakta dan Evaluasinya
Mengenal Aksara Swara (A, I, U, E, O): Pengertian, Ciri-ciri dan Fungsinya