
KABARJAWA – Pemerintah Kota Yogyakarta menetapkan target menurunkan angka prevalensi stunting di bawah 10 persen pada tahun 2025.
Untuk mencapai target ini, Pemkot Yogyakarta menggelontorkan anggaran sebesar Rp72,8 juta per kelurahan untuk pengadaan makanan tambahan bagi balita stunting.
Pemkot Yogyakarta mengerahkan seluruh jajaran organisasi perangkat daerah (OPD) untuk bekerja serentak dalam penanganan dan pencegahan stunting.
Data Stunting
Pemerintah membagikan data stunting secara transparan melalui sistem Jogja Smart Service (JSS) agar semua instansi terkait dapat memantau dan melakukan intervensi tepat sasaran.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Emma Rahmi Aryani, mengungkapkan bahwa per April 2025 prevalensi stunting di Kota Yogyakarta masih berada di angka 11,3 persen.
Namun, berdasarkan data Pemantauan Permasalahan Gizi Balita (PPGB) di JSS hingga 20 Mei 2025, angka tersebut telah menurun menjadi 10,49 persen.
Selain itu, prevalensi wasting (gizi kurang atau kurus) tercatat sebesar 5,77 persen, dan underweight (berat badan kurang hingga sangat kurang) mencapai 11,58 persen.
Target Prevalensi Stunting
“Pak Wali Kota menargetkan prevalensi stunting masuk satu digit, di bawah sepuluh persen. Karena Bali bisa, kita juga harus bisa. Target nasional memang masih 18 persen, tapi kita ingin lebih progresif,” tegas Emma, Jumat (13/6/2025).
Dinas Kesehatan mencatat sebaran kasus stunting tersebar di sejumlah kelurahan, antara lain Pringgokusuman, Baciro, Ngupasan, Purbayan, Prengan, Kotabaru, Notoprajan, Patehan, Wirogunan, dan Mantrijeron.
Kemudian, kasus wasting dominan di Cokrodiningratan, Gowongan, Tegalrejo, Demangan, Klitren, Rejowinangun, Tegalpanggung, dan Suryodiningratan. Untuk underweight, wilayah terdampak antara lain Giwangan, Sorosutan, Karangwaru, Prawirodirjan, Patangpuluhan, Bener, Warungboto, Pandeyan, Brontokusuman, dan Sosromenduran.
Emma menjelaskan bahwa intervensi dari sektor kesehatan hanya berkontribusi 30 persen dalam penurunan stunting.
Dinas Kesehatan memberikan makanan tambahan untuk balita stunting di setiap kelurahan dengan anggaran sekitar Rp72,8 juta.
Selain itu, pihaknya memantau kesehatan remaja putri, calon pengantin, ibu hamil, ibu melahirkan, dan bayi secara rutin.
Penyebab Stunting
Namun, Emma menekankan bahwa faktor eksternal seperti lingkungan dan pola makan menyumbang 70 persen terhadap risiko stunting. Oleh karena itu, penanganan stunting harus berjalan secara kolaboratif lintas sektor.
“Kita melibatkan kelurahan, kemantren, puskesmas, dan Tim Pendamping Keluarga (TPK) untuk memberikan edukasi dan pendampingan. Mereka harus memahami indikator stunting dan tindakan yang perlu dilakukan. Anak wasting dan underweight berisiko besar menjadi stunting jika tidak segera diintervensi,” terang Emma.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menegaskan pentingnya sinergi antar-OPD dalam menangani stunting. Dalam rapat dinas pada Kamis (12/6/2025), Hasto menyampaikan bahwa nutrisi dan kesehatan hanya menyumbang sepertiga dari penyebab stunting. Sementara itu, dua pertiga sisanya berasal dari faktor lingkungan dan sosial.
“Saya minta Dinas PUP, Dinas Lingkungan Hidup, dan Dinas Sosial juga bergerak aktif. Dalam seminggu ke depan, Dinas Kesehatan dan Dinas KB harus membagikan data stunting ke seluruh lurah dan OPD. Lurah harus tahu berapa anak stunting, baduta, dan balita yang berat badannya di bawah normal,” tegas Hasto.
Hasto juga meminta koordinasi aktif antara dinas teknis dan Kementerian Agama untuk menyisir data calon pengantin, demi memastikan kesiapan gizi sejak masa pranikah. Ia turut menginstruksikan pelibatan 495 Tim Pendamping Keluarga (TPK) di seluruh kelurahan.
“Lurah harus paham data stunting dan ikut memantau langsung proses pemberian makanan tambahan. Data harus disinkronkan dengan tindakan di lapangan agar penurunan prevalensi bisa tercapai,” tegasnya.
Dengan strategi lintas sektor dan pelibatan komunitas hingga akar rumput, Pemkot Yogyakarta mengupayakan prevalensi stunting benar-benar bisa ditekan hingga di bawah angka 10 persen.
Pemerintah optimis, dengan gerak serempak, target ini dapat diwujudkan demi masa depan generasi emas Kota Yogyakarta. (ef linangkung)