
KabarJawa.com– Ancaman stunting masih membayangi ribuan anak di Kabupaten Gunungkidul. Hasil pengukuran semester I tahun 2025 menunjukkan sebanyak 4.917 balita di wilayah ini masih mengalami stunting berdasarkan ukuran tinggi badan menurut umur.
Angka itu muncul dari hasil pengukuran terhadap 30.311 balita di 30 puskesmas yang tersebar di seluruh kapanewon.
Capaian ini menunjukkan bahwa 91,65% dari total 33.073 balita di Gunungkidul telah terukur status gizinya.
Meski angka partisipasi tinggi, Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul masih menemukan beberapa wilayah dengan prevalensi stunting cukup tinggi.
Tiga puskesmas dengan angka tertinggi tercatat di Playen II, Patuk I, dan Karangmojo II. Kemudian, wilayah dengan angka terendah ada di Kapanewon Purwosari, yang hanya mencatat prevalensi 7,91%.
Upaya Percepatan Penurunan Stunting pada Balita di Gunungkidul
Dinas Kesehatan Gunungkidul terus menunjukkan komitmen kuat dalam upaya percepatan penurunan stunting.
Pengukuran dan publikasi angka prevalensi stunting berjalan dua kali setiap tahun. Ini bersamaan dengan kegiatan Bulan Penimbangan Balita dan pemberian kapsul vitamin A pada bulan Februari dan Agustus.
Seluruh data pengukuran tinggi badan balita langsung diinput ke dalam aplikasi Sistem Informasi Gizi Keluarga (Sigizikesga) oleh petugas gizi puskesmas yang dibantu tim entry data.
Jika ada ketidaksesuaian data, petugas puskesmas dan Dinas Kesehatan segera melakukan konfirmasi dan validasi ulang untuk memastikan keakuratan informasi.
Langkah ini menjadi dasar kuat bagi penyusunan kebijakan, perencanaan program intervensi, dan penguatan sinergi lintas sektor dalam menekan angka stunting di Gunungkidul.
Menurut Nutrisionis Dinas Kesehatan Gunungkidul, Elinda Wahyu Pertiwi, penurunan angka stunting di daerah ini tidak bisa menggunakan cara biasa.
Ia menegaskan bahwa penurunan stunting dijalankan melalui delapan aksi integrasi intervensi gizi yang melibatkan berbagai lintas sektor.
“Aksi integrasi ini menjadi instrumen penting untuk memperkuat kolaborasi antarprogram dan lembaga. Semua pihak harus bergerak bersama agar target nasional bisa tercapai,” tegas Elinda.
Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) dan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2023–2024, terjadi tren penurunan prevalensi stunting secara nasional dari 21,5% menjadi 19,8%.
Kabupaten Gunungkidul juga menunjukkan capaian positif, turun dari 22,2% menjadi 19,7%. Pemerintah daerah menargetkan angka itu dapat ditekan hingga 18,8% pada akhir tahun 2025.
Validasi Data dan Kolaborasi jadi Kunci
Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat Dinas Kesehatan Gunungkidul, Trianawati, menegaskan pentingnya validasi data yang tersimpan di aplikasi Sigizikesga agar hasilnya benar-benar akurat.
Pelaksanaan pelayanan gizi merupakan komponen penting dalam menunjang Standar Pelayanan Minimal (SPM).
“Data yang valid menjadi dasar kuat untuk menentukan arah kebijakan,” ujarnya.
Trianawati juga menambahkan, hasil pengukuran status gizi dan prevalensi stunting semester I tahun 2025 telah diseminasi dan dipublikasikan secara luas.
Data tersebut tidak hanya menjadi dokumen, tetapi juga digunakan dalam berbagai forum lintas sektor, seperti Survei Mawas Diri (SMD), mini lokakarya bulanan, hingga rapat koordinasi antar-OPD.
Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kini semakin gencar menyebarkan informasi hasil pengukuran dan edukasi tentang stunting melalui media elektronik, media sosial, hingga pertemuan masyarakat di tingkat kalurahan.
Harapannya, masyarakat ikut memahami pentingnya pemantauan tumbuh kembang anak serta peran keluarga dalam memastikan asupan gizi yang seimbang.
Selain itu, publikasi data prevalensi stunting secara terbuka akan mampu membangun motivasi petugas puskesmas, memperkuat koordinasi antarprogram, serta menumbuhkan semangat kerja lintas sektor untuk mengakselerasi penurunan angka stunting.
Pemerintah daerah bersama masyarakat kini berada di garis depan dalam perang melawan stunting.
Dengan kerja keras lintas sektor, penguatan data, dan intervensi gizi yang terintegrasi, tidak akan ada lagi anak di Gunungkidul yang tumbuh terhambat.
“Kami ingin memastikan setiap anak Gunungkidul tumbuh sehat, cerdas, dan kuat. Data bukan sekadar angka, tapi cermin masa depan generasi kita,” pungkas Trianawati. (ef linangkung)