
Kunjungan Ketua Majelis Jemaat (KMJ) GPIB Marga Mulya, Pdt. Jimmy Marcos Immanuel Sormin/Foto: Pemda DIY
KabarJawa.com– Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menunjukkan kepedulian terhadap pelestarian warisan sejarah. Ia menyambut positif rencana renovasi Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) Marga Mulya.
Gereja yang berdiri kokoh di Jalan Margo Mulyo No. 5, Ngupasan, Gondomanan, Kota Yogyakarta itu bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga saksi bisu perjalanan sejarah panjang kota budaya ini.
Bangunan tua peninggalan Belanda tersebut kini menyandang status baru sebagai Cagar Budaya Peringkat Provinsi.
Ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi wisata rohani dan sejarah di kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta, jantung peradaban Malioboro.
Renovasi Gereja Tertua GPIB Marga Mulya
Dukungan penuh Sri Sultan disampaikan langsung ketika Ketua Majelis Jemaat (KMJ) GPIB Marga Mulya,
Pdt. Jimmy Marcos Immanuel Sormin, bersama jajaran Pelaksana Harian Majelis Jemaat, bersilaturahmi ke Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Kamis (13/11).
Dalam pertemuan itu, pihak gereja menyampaikan permohonan dukungan renovasi bangunan yang telah berusia lebih dari satu abad.
Sri Sultan, dengan penuh empati dan kesungguhan, menyambut rencana tersebut dengan tangan terbuka.
“Puji Tuhan, sejak 1 Agustus lalu telah terbit Surat Keputusan Gubernur DIY Nomor 279 Tahun 2025 tentang Penetapan GPIB Marga Mulya sebagai Bangunan Cagar Budaya Peringkat Provinsi. Hal ini menjadi dasar kuat bagi kami untuk mengajukan bantuan dari Dana Keistimewaan,” ungkap Pdt. Jimmy.
Sebelumnya, status cagar budaya Gereja GPIB Marga Mulya hanya diakui di tingkat kota dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Namun, dengan keluarnya SK Gubernur DIY, status tersebut naik menjadi cagar budaya tingkat provinsi.
Kenaikan status ini menjadi angin segar bagi jemaat. Peluang untuk memperoleh dukungan dana renovasi dari Pemda DIY semakin terbuka lebar, termasuk melalui skema Dana Keistimewaan Yogyakarta (Danais).
Pdt. Jimmy menjelaskan bahwa kondisi bangunan gereja kini sangat memprihatinkan. Beberapa bagian bangunan mulai lapuk dan berisiko roboh.
“Kami harus bergerak cepat agar nilai sejarah dan arsitektur aslinya tidak hilang dimakan waktu,” ujarnya.
Tantangan Akses dan Kemacetan
Selain persoalan fisik bangunan, akses menuju gereja di kawasan Malioboro juga menjadi tantangan tersendiri. Arus lalu lintas yang padat dan parkir liar sering membuat jemaat kesulitan untuk datang beribadah.
“Banyak warga akhirnya memilih beribadah daring atau pindah ke gereja lain karena kesulitan mencari parkir. Kondisi ini tentu menyedihkan bagi kami,” tandas Pdt. Jimmy.
Ia berharap Pemda DIY dapat turut memikirkan solusi penataan kawasan agar akses menuju gereja lebih manusiawi dan tertib, sejalan dengan visi penataan Sumbu Filosofi yang tengah digalakkan pemerintah daerah.
Di balik keterbatasan itu, semangat jemaat tidak pernah padam. Pdt. Jimmy bersama pengurus gereja memimpikan GPIB Marga Mulya menjadi ikon wisata religi di Malioboro, sebagaimana Gereja Blenduk di Semarang yang telah lama menjadi destinasi wisata sejarah.
“Kami ingin gereja ini menjadi bagian dari rute wisata Sumbu Filosofi. Banyak wisatawan yang tertarik pada arsitektur kolonial dan kisah sejarahnya,” ujar Pdt. Jimmy.
Ia menambahkan, sebenarnya gereja sudah lama terbuka bagi wisatawan, namun minat kunjungan masih rendah karena keterbatasan fasilitas dan tampilan bangunan yang mulai lusuh.
Padahal, di dalamnya tersimpan beragam peninggalan antik seperti kursi kayu tua, mimbar klasik, dan interior bergaya Eropa abad ke-19 yang sangat fotogenik.
“Setiap sudutnya punya kisah. Ini bukan sekadar tempat ibadah, tapi juga bagian dari perjalanan sejarah Yogyakarta,” tutur Pdt. Jimmy.
Menutup pertemuan itu, Pdt. Jimmy menegaskan bahwa Pemda DIY akan menindaklanjuti permohonan tersebut dengan kajian teknis menyeluruh.
Dalam waktu dekat, tim gabungan antara Pemda DIY dan pihak gereja akan melakukan asesmen, perencanaan renovasi, hingga pelaksanaan pembangunan.
Langkah ini akan menjadi tonggak penting dalam menjaga warisan budaya Kristen di tengah kota budaya Yogyakarta, sekaligus memperkaya destinasi wisata rohani dan sejarah di kawasan Sumbu Filosofi.
“Kami ingin GPIB Marga Mulya tetap berdiri kokoh, bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga simbol toleransi dan harmoni antarumat beragama di Yogyakarta,” pungkas Pdt. Jimmy. (ef linangkung)