
KABARJAWA– Respons terhadap bencana tidak hanya soal kecepatan evakuasi, kekuatan infrastruktur, atau teknologi mutakhir. Lebih dari itu, budaya masyarakat lokal menjadi fondasi yang tak boleh diabaikan.
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, menegaskan hal ini ketika menerima kunjungan pengurus Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) di Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Selasa (9/9).
Sri Sultan dengan tegas meminta agar para ahli kebencanaan menjadikan budaya sebagai salah satu elemen utama dalam upaya pengurangan risiko bencana. Menurutnya, tanpa mempertimbangkan kearifan lokal, strategi mitigasi hanya akan berhenti sebatas teori di atas kertas.
“Setiap daerah di Indonesia memiliki budaya yang berbeda-beda. Justru keragaman itu bisa menjadi modal kuat untuk membangun ketangguhan. Karena itulah, pengurangan risiko bencana harus menyatu dengan aspek budaya masyarakat setempat,” pesan Sri Sultan.
IABI Siapkan Peringatan 20 Tahun Gempa Jogja
Ketua Umum IABI, Prof. Ir. Harkunti Pertiwi Rahayu, Ph.D., mengungkapkan kedatangannya bersama jajaran pengurus kali ini bertujuan meminta restu Sri Sultan atas rencana besar mereka. IABI akan menggelar peringatan 20 tahun Gempa Jogja 2006 pada 24–26 Mei 2026 mendatang.
Acara ini akan melibatkan lebih dari 600 ahli kebencanaan dari seluruh Indonesia, sekaligus menjadi pertemuan ilmiah tahunan IABI.
Harkunti menegaskan, momentum ini bukan sekadar seremonial, melainkan wadah untuk menggali ilmu, berbagi pengalaman, dan merumuskan strategi kebencanaan ke depan.
“Kami ingin kulonuwun kepada Sri Sultan sekaligus menjadikan Jogja sebagai pusat refleksi nasional. Apa yang sudah dilakukan Pemda DIY dalam penanganan kebencanaan akan menjadi bahan diskusi berharga, bahkan bisa dibagikan kepada dunia internasional,” ujar Guru Besar Institut Teknologi Sumatera ini.
Harkunti mengakui masukan Sri Sultan selaras dengan semangat IABI. Ia menilai keunikan budaya Indonesia bisa menjadi keunggulan sekaligus pembeda dalam penanganan bencana daripada negara lain.
“Kami akan menggali lebih dalam aspek budaya ini. Diskusi ilmiah nanti tidak hanya berupa seminar, tapi juga round table discussion. Dari Jogja, kita berharap bisa memberi inspirasi untuk Indonesia, bahkan dunia,” tambahnya.
DIY jadi Laboratorium Penanganan Bencana
Kepala Pelaksana BPBD DIY, Noviar Rahmad, menegaskan bahwa kehadiran para ahli kebencanaan di Yogyakarta akan menjadi momen penting untuk membedah pengalaman panjang DIY menghadapi bencana.
Sejak gempa dahsyat 2006 hingga letusan Merapi 2010, DIY terbukti mampu bangkit dengan cepat. Proses pemulihan pasca bencana di Yogyakarta bahkan mendapat pengakuan di tingkat nasional dan internasional sebagai salah satu yang tercepat.
“Kalau bicara soal build back better, Jogja bisa dibilang menjadi contoh nyata. Kecepatan pemulihan dan keterlibatan masyarakat yang tinggi telah menjadi kekuatan kami. Pengalaman ini nantinya akan ditularkan ke seluruh Indonesia,” ungkap Noviar.
Rangkaian peringatan 20 tahun Gempa Jogja 2026 bukan hanya soal mengenang tragedi masa lalu. Lebih dari itu, acara ini akan menjadi panggung bagi Yogyakarta untuk menunjukkan bagaimana kearifan lokal, budaya, dan semangat gotong royong mampu melahirkan ketangguhan luar biasa.
Sri Sultan pun berharap momentum ini bisa melahirkan strategi baru yang lebih kontekstual dan relevan dengan realitas masyarakat Indonesia. Ia menegaskan, ketangguhan bukan hanya tentang infrastruktur, melainkan juga dengan jiwa, hati, dan budaya masyarakat.
“Jogja tidak hanya bicara tentang bencana, tetapi juga tentang bagaimana budaya menjadi tameng sekaligus jalan untuk bangkit. Dari Jogja, kita bisa belajar, berbagi, dan menginspirasi Indonesia bahkan dunia,” pungkas Sri Sultan. (ef linangkung)