
Kabarjawa – Sejumlah wilayah di Kota Semarang mengalami bencana banjir dan tanah longsor setelah diguyur hujan deras yang disertai angin kencang. Dampak yang ditimbulkan cukup signifikan, mulai dari pohon tumbang, genangan air di berbagai titik, atap rumah roboh, hingga tanah longsor yang mengancam permukiman warga.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang melaporkan bahwa curah hujan tinggi yang terjadi sejak Minggu hingga Senin pagi menjadi pemicu utama bencana ini.
Sejumlah wilayah terdampak dengan intensitas yang bervariasi, termasuk di Kecamatan Genuk yang mengalami banjir terparah.
Wilayah Terdampak dan Ketinggian Banjir
BPBD mencatat bahwa beberapa lokasi mengalami dampak cukup parah akibat hujan deras ini. Berikut adalah beberapa titik yang terdampak:
- Kecamatan Genuk: Jalan Raya Gebang Anom, Kelurahan Genuksari, mengalami banjir setinggi 30-50 cm, melanda dua RW di wilayah tersebut.
- Trimulyo: Ketinggian banjir mencapai 10-30 cm.
- Depan RSI Sultan Agung: Genangan air setinggi 20-30 cm.
- Depan LIK Kaligawe: Genangan air mencapai 10-15 cm.
Selain banjir, terjadi juga pohon tumbang di Kalibanger, tanah longsor di lima titik, serta atap rumah roboh di tiga lokasi berbeda.
Keadaan ini membuat warga harus lebih waspada terhadap kondisi cuaca ekstrem yang diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan.
Upaya BPBD dan Pemerintah Kota Semarang
Menanggapi situasi ini, BPBD Kota Semarang langsung melakukan tindakan darurat dengan berkoordinasi bersama berbagai pihak terkait, seperti Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana dan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang. Langkah yang diambil antara lain:
- Optimalisasi Pompa Air: BPBD bersama UPTD pompa wilayah timur dan tengah mengerahkan pompa portable guna mempercepat penyurutan genangan air.
- Penanganan Darurat Longsor: Anggota BPBD memasang terpal di lokasi tanah longsor guna mencegah pergerakan tanah lebih lanjut.
- Pemantauan dan Evakuasi: Tim tanggap bencana dikerahkan untuk membantu warga yang terdampak, serta memantau potensi bencana susulan.
Kendala dalam Penanganan Banjir
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menyatakan bahwa kendala utama dalam penanganan banjir adalah kapasitas infrastruktur yang belum memadai.
Beberapa pompa air yang tersedia mengalami kerusakan akibat tersumbat sampah, salah satunya ban karet. Hal ini menghambat proses penyedotan air, meskipun pompa kecil turut dikerahkan untuk membantu.
Agustina juga mengimbau masyarakat untuk lebih sadar dalam menjaga kebersihan lingkungan, terutama dalam membuang sampah. Sampah yang menyumbat saluran air dan pompa menjadi salah satu faktor yang memperparah kondisi banjir di Semarang.
Kesimpulan dan Imbauan kepada Masyarakat
Hujan deras yang terjadi di Kota Semarang selama dua hari terakhir menyebabkan dampak cukup besar berupa banjir dan tanah longsor di berbagai wilayah.
BPBD dan pemerintah kota telah melakukan berbagai langkah cepat untuk menangani situasi ini, namun infrastruktur yang masih terbatas menjadi kendala utama dalam mempercepat penanganan.
Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem dalam beberapa hari ke depan. Hindari berteduh di bawah pohon besar saat hujan deras dan waspada terhadap risiko tanah longsor bagi yang tinggal di daerah rawan.
Selain itu, kesadaran dalam menjaga kebersihan lingkungan, terutama terkait pembuangan sampah, sangat penting agar bencana seperti ini dapat diminimalisir di masa mendatang.(Kabarjawa)