
KabarJawa.com– Di tengah derasnya perkembangan teknologi modern berbasis sensor, satelit, kecerdasan buatan, hingga algoritma prediksi cuaca, Daerah Istimewa Yogyakarta justru memilih jalan berbeda.
Pemerintah DIY tidak sepenuhnya menyerahkan mitigasi bencana kepada mesin dan layar digital.
Sebaliknya, Yogyakarta tetap menjaga kearifan lokal sebagai fondasi utama dalam membaca tanda-tanda alam dan melindungi masyarakat dari ancaman bencana.
Komitmen inilah yang akhirnya mengantarkan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menerima penghargaan bergengsi Lifetime Dedication Award on Disaster Management dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI).
Penghargaan tersebut diberikan dalam rangkaian Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Kebencanaan Ke-9 yang berlangsung di Ballroom UMY Student Dormitory, Yogyakarta, Rabu (06/05/2026).
Lifetime Dedication Award on Disaster Management
Momentum itu menjadi simbol pengakuan nasional atas dedikasi panjang Sri Sultan dalam membangun sistem penanggulangan bencana berbasis budaya, pengalaman masyarakat, dan teknologi modern secara berimbang.
GKR Hayu hadir mewakili Sri Sultan HB X untuk menerima penghargaan tersebut. Ketua Umum IABI Prof Harkunti P Rahayu bersama Ketua Dewan Pembina IABI Prof Dr Syamsul Maarif menyerahkan penghargaan secara langsung di hadapan para akademisi, peneliti, praktisi kebencanaan, dan pejabat pemerintah yang menghadiri forum ilmiah tersebut.
Penghargaan itu tidak lahir dalam semalam. Sri Sultan telah melewati berbagai fase bencana besar yang mengguncang Yogyakarta selama dua dekade terakhir.
Mulai dari gempa bumi dahsyat tahun 2006, erupsi Gunung Merapi 2010, ancaman siklon tropis, hingga pandemi Covid-19, Sri Sultan terus berada di garis depan dalam memimpin penanganan krisis.
Saat gempa besar meluluhlantakkan Yogyakarta pada 2006, Sri Sultan bergerak cepat mengoordinasikan bantuan dan pemulihan masyarakat.
Ia tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga memperkuat kesiapan warga menghadapi ancaman bencana di masa depan.
Pendekatan tersebut terus berkembang setelah erupsi Merapi 2010 yang memaksa ribuan warga mengungsi.
Mitigasi Bencana DIY
Pemerintah DIY kemudian memperkuat sistem mitigasi berbasis komunitas dengan melibatkan masyarakat lokal sebagai aktor utama penanggulangan bencana.
Di balik berbagai kebijakan itu, Sri Sultan ternyata menyimpan keyakinan kuat terhadap warisan budaya Jawa dalam membaca alam.
Dalam sambutannya, Sri Sultan menegaskan bahwa masyarakat Jawa sebenarnya telah memiliki sistem mitigasi bencana jauh sebelum teknologi modern berkembang pesat seperti sekarang.
Filosofi tersebut hidup dalam konsep eling lan waspada serta praktik ilmu titen warisan turun-temurun.
Ilmu titen merupakan kemampuan masyarakat dalam membaca tanda-tanda alam melalui pengamatan yang terus dipelajari dari generasi ke generasi.
Masyarakat tradisional menggunakan perubahan perilaku hewan, arah angin, suhu udara, kondisi tumbuhan, hingga suara alam sebagai petunjuk munculnya potensi bencana.
Menurut Sri Sultan, ilmu titen bukan sekadar mitos atau kebiasaan lama yang kehilangan relevansi. Ia menyebut ilmu tersebut sebagai memori kolektif masyarakat dalam memahami perubahan alam secara mendalam.
Sri Sultan kemudian menjelaskan makna filosofi eling lan waspada yang menjadi dasar cara pandang masyarakat Jawa terhadap lingkungan.
Eling berarti manusia harus sadar bukan penguasa alam, melainkan bagian dari alam itu sendiri. Sementara itu, waspada berarti manusia harus memiliki kepekaan terhadap tanda-tanda yang muncul dari lingkungan sekitar.
Pandangan itu menjadi kritik halus terhadap kecenderungan manusia modern yang terlalu bergantung pada teknologi.
Sri Sultan mengingatkan bahwa kecanggihan sistem digital tidak boleh membuat manusia kehilangan naluri membaca alam secara langsung.
“Jangan sekadar memerhatikan layar data dan grafik risiko kebencanaan, gunakanlah ilmu titen,” tegas Sri Sultan.
Banyak pihak menilai pesan Sri Sultan mampu menghadirkan perspektif baru dalam dunia mitigasi bencana modern. Selama ini, dunia modern cenderung berfokus pada teknologi dan data statistik.
Di tengah era digital, Sri Sultan justru mengajak para pemangku kebijakan untuk kembali mendengarkan pengalaman masyarakat lokal. Mereka selama ratusan tahun hidup berdampingan dengan ancaman alam.
Riset Akademik
Pesan itu terasa semakin relevan mengingat Indonesia merupakan negara yang berada di kawasan cincin api dunia.
Negara ini memiliki ancaman gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, banjir, hingga perubahan iklim yang terus meningkat.
Dalam forum yang sama, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno juga menekankan pentingnya hasil riset akademik agar tidak berhenti sebagai diskusi ilmiah semata.
Pratikno meminta seluruh hasil penelitian kebencanaan benar-benar berjalan untuk membantu masyarakat menghadapi ancaman bencana di masa mendatang.
Ia menilai kolaborasi antara ilmu pengetahuan modern dan pengalaman masyarakat lokal menjadi langkah penting dalam membangun sistem mitigasi yang lebih kuat, adaptif, dan berkelanjutan.
Pertemuan Ilmiah Tahunan Kebencanaan Ke-9 itu akhirnya bukan sekadar forum akademik biasa.
Forum tersebut berubah menjadi ruang refleksi besar tentang bagaimana manusia seharusnya memandang alam.
Di satu sisi, teknologi modern memang mampu memberikan data cepat dan akurat. Namun di sisi lain, pengalaman masyarakat lokal tetap menyimpan pengetahuan berharga yang tidak selalu dapat dibaca mesin.
Penghargaan Lifetime Dedication Award on Disaster Management pun menjadi penegas keberhasilan Sri Sultan menjaga hubungan harmonis antara manusia, budaya, dan alam di tengah ancaman bencana yang terus berkembang. (ef linangkung)