
KabarJawa.com– Sepekan setelah tragedi tanah longsor melanda Kalurahan Tancep, Kapanewon Ngawen, petugas dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Gunungkidul mulai mengintensifkan upaya pembersihan material longsoran.
Namun, hingga Senin (23/2/2026), BPBD masih menunggu kedatangan alat berat untuk mempercepat proses evakuasi material lumpur dan bebatuan yang menimbun sejumlah titik terdampak.
Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Gunungkidul pada Selasa (17/2/2026) memicu bencana hidrometeorologi di sejumlah kapanewon.
Selain menerjang Tancep di Ngawen, longsor juga melanda Kalurahan Tegalrejo dan beberapa wilayah lainnya. Debit air hujan yang tinggi memperparah kondisi tanah perbukitan yang labil hingga akhirnya ambrol dan menutup akses serta permukiman warga.
Pembersihan Material Banjir Bandang dan Longsor di Tancep Ngawen
Panewu Ngawen, Agus Sumaryono, turun langsung mendampingi tim BPBD saat meninjau lokasi terdampak. Ia menegaskan bahwa proses pembersihan material longsor akan mengandalkan alat berat agar pekerjaan berjalan lebih cepat dan efektif.
“Kami masih menunggu alat berat dari Jurangjero yang saat ini juga terdampak musibah. Di sana penanganan masih berlangsung, sehingga kami harus bergantian,” ujar Agus.
Ia menjelaskan bahwa tumpukan material longsoran yang terdiri atas lumpur tebal, batu berukuran besar, serta batang dan tunggak pohon membutuhkan alat berat untuk memindahkannya.
Tanpa dukungan alat berat, proses pembersihan akan memakan waktu lebih lama dan berisiko membahayakan petugas maupun warga.
Hingga hari ketujuh pascabencana, sejumlah warga terdampak masih memilih mengungsi di rumah kerabat terdekat. Mereka belum berani kembali karena kondisi tanah di sekitar rumah masih labil dan dikhawatirkan memicu longsor susulan.
Lurah Tancep, Yudianto, menyampaikan bahwa pemerintah kalurahan bersama warga telah melakukan pembersihan awal secara gotong royong, terutama pada rumah-rumah yang kemasukan material lumpur.
“Kami sudah membersihkan material yang masuk ke dalam rumah warga. Setelah satu minggu, sebagian rumah sudah bisa ditempati kembali. Namun, untuk rumah yang terdampak sangat parah, kondisinya belum memungkinkan untuk dihuni,” tegas Yudianto.
Ia menambahkan bahwa pihaknya baru memulai pembersihan skala besar menggunakan alat berat guna menyingkirkan material longsor yang menutup akses dan pekarangan warga.
BPBD Siapkan Solusi Permanen: Pembuatan Jalan Air
Selain membersihkan material longsor, BPBD Gunungkidul juga menyiapkan langkah mitigasi agar bencana serupa tidak terulang. Agus Sumaryono menjelaskan bahwa longsor terjadi akibat tidak adanya saluran pembuangan air di bagian atas bukit.
Air hujan yang mengalir tanpa kendali langsung menghantam lereng hingga tanah kehilangan daya ikatnya dan runtuh ke bawah.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, BPBD akan membuat jalur aliran air dari hulu di atas bukit menuju hilir yang terhubung dengan sungai di sebelah barat lokasi longsor.
“Selain membersihkan material, kami akan membuat jalan air dari atas bukit menuju sungai di barat lokasi. Kami ingin memastikan air tidak lagi menggerus lereng secara langsung,” jelas Agus.
Langkah ini diharapkan mampu mengurangi risiko longsor susulan, terutama jika curah hujan tinggi kembali mengguyur wilayah perbukitan Ngawen.
Cuaca ekstrem masih membayangi sebagian wilayah Gunungkidul hingga Senin (23/2/2026). Intensitas hujan yang belum sepenuhnya mereda membuat pemerintah setempat terus mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di lereng perbukitan, agar meningkatkan kewaspadaan.
Pemerintah kapanewon meminta warga segera melapor jika melihat retakan tanah, pergerakan lereng, atau tanda-tanda longsor susulan.
Aparat juga mengingatkan warga agar tidak memaksakan diri kembali ke rumah yang berada di zona rawan sebelum dinyatakan aman.
Pemerintah daerah bersama BPBD kini berpacu dengan waktu untuk membersihkan material, memulihkan akses warga, dan memperkuat sistem mitigasi agar tragedi serupa tidak kembali terjadi. (ef linangkung)