
KabarJawa.com – Malam Jumat di jantung Kota Yogyakarta berubah menjadi panggung penyambutan yang hangat dan penuh kesan. Cahaya lampu Malioboro berpadu dengan deru halus roda sepeda yang mengalir perlahan di sepanjang jalan ikonik kota.
Pada Jumat malam (23/1/2026), puluhan pesepeda dari berbagai komunitas dan atlet balap sepeda mengikuti gowes malam sebagai bagian dari penyambutan peserta Yogyakarta Criterium League 2026 yang digelar oleh Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) Kota Yogyakarta.
Kegiatan sepeda malam tersebut menghadirkan nuansa berbeda. Para atlet tidak hanya datang sebagai kompetitor, tetapi juga sebagai tamu yang diajak merasakan langsung denyut kehidupan Kota Yogyakarta.
Rute pendek yang melintasi kawasan Malioboro hingga sekitarnya membawa peserta menyusuri wajah kota yang hidup, ramah, dan bersahabat bagi pesepeda.
Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, secara langsung melepas rombongan gowes malam. Pemerintah Kota Yogyakarta memasukkan kegiatan ini ke dalam agenda hospitality bagi para atlet yang akan berlaga pada kejuaraan balap sepeda keesokan harinya di kawasan Mandala Krida.
Wawan Harmawan menyampaikan apresiasi tinggi terhadap penyelenggaraan Yogyakarta Criterium League 2026 yang menunjukkan antusiasme besar dari atlet maupun masyarakat.
Ia menilai kejuaraan ini tidak sekadar menjadi ajang kompetisi olahraga, tetapi juga menjadi instrumen strategis untuk memperkuat citra Yogyakarta sebagai kota sepeda dan destinasi sport tourism nasional.
“Kejuaraan ini sangat luar biasa. Jumlah pesertanya melampaui target dan mencapai lebih dari 300 atlet. Besok lomba akan berlangsung di Mandala Krida, dan kami berharap seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar,” ujar Wawan.
Ia menegaskan bahwa event balap sepeda memiliki dampak berlapis bagi Kota Yogyakarta. Kejuaraan ini berperan penting dalam pembinaan atlet, sekaligus menggerakkan sektor pariwisata melalui kehadiran peserta dari berbagai daerah.
Wawan menyebutkan bahwa para atlet dan ofisial yang datang dari luar kota membawa potensi besar dalam menarik arus kunjungan wisata. Mereka tidak hanya mengikuti lomba, tetapi juga menikmati suasana kota, kuliner, dan destinasi unggulan Yogyakarta.
“Selain menjaring bibit atlet baru, kami berharap event ini mampu menarik wisatawan untuk datang ke Yogyakarta. Respon masyarakat sangat besar, dan banyak peserta dari luar kota memanfaatkan kesempatan ini untuk menikmati atmosfer kota,” katanya.
Pemerintah Kota Yogyakarta, lanjut Wawan, terus mendorong budaya bersepeda sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat. Pemerintah berkomitmen menghidupkan kembali identitas Yogyakarta sebagai Kota Sepeda melalui berbagai agenda rutin dan dukungan terhadap komunitas pesepeda.
Sementara itu, Ketua ISSI Kota Yogyakarta, Danang Samsu, menjelaskan bahwa gowes malam ini menjadi bentuk penghormatan sekaligus jamuan bagi para atlet yang mengikuti Yogyakarta Criterium League 2026.
“Kegiatan ini kami rancang sebagai bentuk hospitality. Pak Wakil Wali Kota menjamu para atlet dengan mengajak mereka menikmati Yogyakarta melalui sepeda santai,” ujar Danang.
Danang menyampaikan bahwa Yogyakarta Criterium League 2026 diikuti sekitar 350 atlet dari lebih dari 40 kota di Indonesia.
Sebagian besar peserta sudah tiba di Yogyakarta beberapa hari sebelum lomba, sehingga momen gowes malam menjadi kesempatan ideal untuk mengenalkan karakter kota secara langsung.
Para atlet tidak hanya datang untuk bertanding, tetapi juga membutuhkan waktu adaptasi dan persiapan. Selama dua hingga tiga hari, mereka tinggal di Yogyakarta dan berinteraksi dengan lingkungan kota.
“Mereka tidak hanya fokus lomba. Mereka juga ingin melihat dan merasakan Yogyakarta. Karena itu, kami ingin menunjukkan bahwa kota ini memiliki banyak destinasi menarik dan pengalaman yang berkesan,” jelas Danang.
Rute gowes malam yang difokuskan di kawasan Malioboro memungkinkan peserta menikmati ikon kota, suasana malam yang hidup, serta interaksi langsung dengan masyarakat.
Aktivitas ini sekaligus menegaskan kesiapan Yogyakarta dalam mendukung pengembangan sport tourism berbasis sepeda.
Danang menegaskan bahwa Yogyakarta sejak lama dikenal sebagai kota yang ramah bagi pesepeda. Infrastruktur, budaya masyarakat, serta ragam destinasi membuat sepeda menjadi moda yang ideal, baik untuk wisata santai maupun olahraga prestasi.
“Yogyakarta adalah kota sepeda. Mau road bike, BMX, MTB, semuanya punya ruang. Banyak tempat menarik yang bisa dijangkau dengan sepeda,” tandasnya.
Melalui gowes malam dan penyelenggaraan Yogyakarta Criterium League 2026, Pemerintah Kota Yogyakarta bersama ISSI berharap olahraga balap sepeda mampu melahirkan atlet-atlet berprestasi sekaligus memperkuat posisi Yogyakarta sebagai kota ramah pesepeda dan tujuan wisata olahraga unggulan di tingkat nasional.
Di bawah cahaya malam Malioboro, roda-roda sepeda terus berputar. Yogyakarta kembali bercerita, kali ini melalui kayuhan, keramahan, dan semangat sportivitas.