
KabarJawa.com— Fenomena sinkhole yang muncul di Kalurahan Girikarto, Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul, terus memicu kekhawatiran warga.
Kajian ilmiah terbaru dari Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) bersama Laboratorium Geofisika Universitas Diponegoro (Undip) mengungkap fakta mengejutkan.
Rongga bawah tanah dengan kedalaman puluhan meter masih aktif dan berpotensi meluas ke kawasan permukiman, termasuk Dukuh Bolang dan Dukuh Padem.
Kajian ini mengantongi izin resmi hasil analisis geofisika Undip tertanggal 24 Januari 2026 yang memperkuat kajian BPPTKG tertanggal 20 Januari 2026.
Tim peneliti juga memperluas jangkauan kajian hingga kawasan Balai Padukuhan Padem untuk memastikan tingkat kerawanan secara menyeluruh.
Ancaman Sinkhole
-
Dukuh Bolang
Hasil kajian menunjukkan bahwa sinkhole di Dukuh Bolang berkembang di atas lapisan sedimen yang sangat bervariasi, dari tanah lunak, tanah berkekerasan sedang, tanah keras, hingga batuan terlapukkan.
Lapisan ini memiliki ketebalan hingga 24 meter ke arah timur dan 41 meter ke arah utara, dengan lebar mencapai 66 meter ke arah timur dan 87 meter ke arah utara.
Analisis rasio kecepatan gelombang seismik Vp/Vs mengungkap bahwa lokasi sinkhole berada pada lapisan yang lapuk, lepas, lunak, dan jenuh air.
Lapisan rawan ini membentang hingga 39 meter ke arah timur dan 29 meter ke arah utara, dengan kedalaman mencapai 13 meter ke arah timur dan 9 meter ke arah utara.
Pemodelan 3D geofisika semakin memperkuat kekhawatiran. Tim peneliti mendeteksi adanya kemenerusan sinkhole ke arah barat daya. Ini mengindikasikan bahwa rongga bawah tanah tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dan berpotensi berkembang.
Frekuensi dominan tanah di lokasi sinkhole Bolang berada pada rentang 1,3–1,7 Hz. Karakteristik menunjukkan respons tanah lunak terhadap getaran dan memperbesar potensi amblesan lanjutan.
-
Dukuh Padem
Sementara itu, kajian di Dukuh Padem justru menunjukkan ancaman yang tidak kalah serius. Sinkhole di wilayah ini berada pada lapisan sedimen dengan ketebalan lebih dari 53 meter dan lebar mencapai 90 meter, menandakan struktur bawah tanah yang sangat kompleks dan luas.
Berdasarkan nilai Vp/Vs, tim peneliti mencatat bahwa deformasi tanah masih aktif hingga kedalaman 13 meter, dengan nilai deformasi terbesar berada pada kedalaman kurang dari 4 meter, terutama di bawah Titik X1.
Kondisi ini menunjukkan bahwa lapisan dangkal justru menyimpan risiko tertinggi bagi bangunan di atasnya.
Kajian juga mengidentifikasi sejumlah titik dengan potensi sinkhole signifikan.
- Di bawah Titik 48 pada kedalaman sekitar 4 meter
- Di bawah Titik X5 pada kedalaman sangat dangkal, kurang dari 1,5 meter
- Di bawah Titik X2 pada kedalaman sekitar 2,5 meter
- Di bawah Titik X4 dan X1 pada kedalaman hingga 13 meter
Zona rawan lain membentang di utara Titik 48 hingga Titik 51 dengan panjang mencapai 39 meter dan kedalaman hingga 20 meter, serta di utara Titik 44 hingga sebelum Titik X4 dengan panjang mencapai 70 meter dan kedalaman hingga 20 meter.
Tim peneliti juga menemukan zona deformasi terbesar berada di bawah Titik 32, Titik 34, hingga Titik 43, dengan kedalaman mencapai 43 meter. Ini menjadikannya area yang sangat perlu diwaspadai.
Arah aliran air bawah permukaan relatif bergerak ke timur hingga tenggara, serta mengalir ke bawah Titik 47, Titik 50, X6, hingga X1.
Analisis spektrum mikrotremor menunjukkan bahwa lapisan tanah di Dukuh Padem terisi sedimen yang belum terkonsolidasi dengan baik. Jadi, tanah mudah mengalami pergerakan dan keruntuhan.
Menariknya, kajian ini tidak menemukan indikasi akuifer air tanah aktif di sekitar lokasi penelitian Dukuh Padem. Potensi amblesan lebih dipengaruhi oleh kondisi sedimen dan rongga alami, bukan tekanan air tanah.
Uji Geolistrik BPPTKG
Di sisi lain, uji geolistrik yang dilakukan Badan Geologi melalui BPPTKG di lokasi sinkhole Girikarto mengungkap keberadaan rongga bawah tanah besar dengan kedalaman puluhan meter.
Temuan ini menjadi dasar kuat bagi BPBD Gunungkidul untuk menyatakan salah satu rumah warga tidak layak huni dan harus dikosongkan.
Ahli BPPTKG Raditya Putra menjelaskan bahwa survei geolistrik menemukan rongga besar di sebelah utara jalan. Kedalaman diperkirakan mencapai 30 meter dan memanjang ke arah utara sepanjang sekitar 60 meter.
Raditya menegaskan bahwa lubang yang muncul di dalam rumah warga hanya merupakan bagian permukaan dengan kedalaman sekitar 5 meter.
Di bawah lubang tersebut, masih terdapat rongga yang jauh lebih besar dan tidak dapat diamati secara langsung. Oleh karena itu, tim menggunakan metode geolistrik untuk memetakan kondisi bawah tanah tanpa harus masuk ke dalam lubang berbahaya.
Hasil pengukuran juga menunjukkan perbedaan mencolok antara sisi utara dan selatan jalan. Struktur batuan di sebelah selatan jalan cenderung lebih padat atau berupa bedrock, sehingga memiliki potensi rongga yang lebih kecil.
Sebaliknya, poros jalan hingga ke arah utara justru menunjukkan zona rongga yang signifikan dan memanjang.
Raditya menambahkan bahwa kawasan barat dan timur masjid tidak menunjukkan keberadaan lubang besar yang membahayakan. Temuan utama tetap terkonsentrasi di poros jalan dan memanjang ke arah utara.
BPPTKG akan mengolah dan menginterpretasikan data ini lebih lanjut sebelum menyerahkan rekomendasi teknis kepada BPBD. (ef linangkung)