
KabarJawa.com– Merapi kembali memantulkan cahaya berbeda. Dengan amplitudo getaran mencapai 51 milimeter dan durasi erupsi lebih dari dua menit, Merapi luncurkan awan panas sejauh 1,5 kilometer ke sektor barat daya pada pukul 18.52 WIB, Kamis (27/11/2025).
Di tengah awan mendung yang menutup puncak gunung, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) langsung merilis peringatan.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santosa, memastikan aktivitas tersebut masih berada dalam batas karakter Merapi yang aktif, tetapi tetap mengancam sektor rawan di sekitarnya.
Merapi Luncurkan Awan Panas
Laporan Meteorologi mencatat cuaca mendung, angin bertiup tenang ke arah timur, dengan suhu udara hanya 18,8 hingga 21 derajat Celsius. Kelembapan mencapai titik jenuh 100 persen. Gunung tertutup kabut, sementara asap kawah tidak teramati.
Dalam kondisi atmosfer yang dingin dan lembap itu, guguran material dari kubah lava kembali terjadi.
“Awan panas itu meluncur sejauh 1.500 meter ke sektor barat daya. Angin saat itu bergerak ke tenggara,” jelas Agus Budi Santosa dalam laporan resmi BPPTKG.
Data kegempaan periode pengamatan enam jam menunjang aktivitas tersebut.
- 29 kali gempa guguran, durasi hingga 169 detik
- 1 gempa low frekuensi
- 19 gempa hybrid/ fase banyak
- 2 gempa tektonik jauh
Rangkaian gempa ini menegaskan bahwa suplai magma dari dalam tubuh gunung masih berlangsung.
Warga di kawasan barat daya, yang mencakup alur Sungai Bebeng, Krasak, dan Boyong, kembali merasakan kecemasan.
Walaupun tidak terdengar suara letusan yang besar, getaran tipis dan aliran panas yang muncul dalam video dari Badan Geologi cukup membuat jantung berdegup lebih cepat.
Merapi memang tidak meledak secara eksplosif malam itu, tetapi awan panas yang merambat perlahan tetap berpotensi mematikan. Material vulkanik menyapu dasar lembah, menghanguskan jalur yang telah berkali-kali dilalui sejak 2020.
BPPTKG Pertahankan Status Siaga Level III
Sejak 5 November 2020, Merapi bertahan pada Level III (Siaga). Status itu belum berubah hingga kini.
BPPTKG menegaskan bahwa kondisi gunung masih menunjukkan suplai magma yang aktif, sehingga potensi awan panas dan guguran lava dapat terjadi sewaktu-waktu.
Rekomendasi kembali digencarkan secara tegas masyarakat dilarang beraktivitas di daerah potensi bahaya, khususnya pada sektor selatan-barat daya dan tenggara.
Potensi awan panas dapat menjangkau sungai Boyong hingga 5 km. Kemudian sungai Bedog, Krasak, Bebeng hingga 7 km, sungai Woro hingga 3 km, sungai Gendol hingga 5 km.
“Jika letusan eksplosif terjadi, lontaran material dapat mencapai radius 3 km dari puncak. Warga diminta mewaspadai bahaya lahar, terutama saat hujan mengguyur kawasan hulu. Fangguan abu vulkanik juga perlu diantisipasi,” tambahnya.
Laporan resmi MAGMA-VAR mencatat bahwa suplai magma ke permukaan tetap aktif. Kubah lava terus tumbuh perlahan.
Setiap aliran lava yang mengisi bibir kawah berpotensi runtuh dan meluncurkan awan panas seperti yang terjadi Kamis malam.
Dalam lanskap Merapi yang selalu berubah, ketenangan hanyalah jeda. Aktivitas yang tercatat menunjukkan bahwa gunung ini sedang berada dalam fase yang labil tetapi terkontrol.
Namun pengalaman bertahun-tahun menunjukkan bahwa Merapi kerap meningkatkan aktivitas tanpa peringatan panjang. (ef linangkung)