
KabarJawa.com– Hasto menegaskan bahwa kekuatan utama Kota Yogyakarta terletak pada sumber daya manusia (SDM), bukan pada sumber daya alam. Terlebih Jogja ini hampir 95 persen kekuatannya ada pada sumber daya manusia, bukan sumber daya alam.
“Karena itu hidup dan matinya kota ini sangat ditentukan oleh kualitas manusianya. Kalau SDM kita tidak berkualitas, kita pasti tidak bisa berdaya,” ujar Hasto.
Ia mencontohkan Singapura yang mampu berdaya tanpa banyak sumber daya alam, hanya karena memiliki kualitas manusia yang unggul. Jogja, dengan predikat kota pelajar, menurutnya wajib menjaga dan meningkatkan mutu SDM agar tetap menjadi pusat keunggulan.
“Kota Yogyakarta bisa menjadi center of excellence sekaligus best practice bagi daerah lain jika mampu memanfaatkan kerja sama akademik dengan kredibel,” tambahnya.
Fondasi Program Kampung Tematik
Hasto membeberkan bahwa program kampung tematik dibangun di atas fondasi data yang kuat. Ia menyebut lebih dari 400 mahasiswa kedokteran UGM sudah turun langsung ke masyarakat melakukan pencatatan dan pendampingan kesehatan.
“Dengan baseline data yang sudah kita miliki, program ini bisa dipakai untuk pendampingan, penelitian, maupun pengajaran. Kalau kita konsisten, Yogyakarta bisa menjadi rujukan nasional,” jelasnya.
Selain itu, Hasto juga menyoroti pentingnya inovasi pemanfaatan fasilitas publik, termasuk free WiFi di berbagai wilayah. Menurutnya, jaringan internet gratis harus menjadi ruang belajar bersama, bukan sekadar hiburan.
“Kalau mahasiswa bisa mendampingi, fasilitas WiFi ini akan lebih produktif, misalnya untuk belajar atau diskusi. Dengan begitu, manfaatnya berkelanjutan,” tegasnya.
Kolaborasi ini menghadirkan sinergi nyata antara pemerintah, perguruan tinggi, dan korporasi. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM menyiapkan program Community and Family Health Care Interprofessional Education.
Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya UNY menghadirkan program Jam Belajar Masyarakat. Sementara itu, Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta ikut mendampingi bidang kesehatan di wilayah.
Langkah ini menjadi tonggak baru pengembangan kampung tematik, sekaligus memperkuat posisi Yogyakarta sebagai Kota Pendidikan yang menghadirkan layanan kesehatan inklusif dan pemberdayaan berkelanjutan.
Kampung Emas Percontohan
UNY menegaskan komitmennya untuk mengoptimalkan program di wilayah Bumijo yang ditetapkan sebagai Kampung Emas.
Dekan Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya UNY, Zulfi Hendri, menjelaskan bahwa pihaknya akan memetakan potensi masyarakat berdasarkan kelompok usia, mulai anak-anak hingga orang tua.
“Sudah beberapa kali kami menemukan anak-anak yang punya potensi di bidang seni. Itu akan kami arahkan dan bimbing agar bakat mereka bisa berkembang. Selain itu, ada juga program pengelolaan lingkungan, terutama di pinggir kali daerah Bumijo, untuk mengoptimalkan potensi alam yang ada,” ujar Zulfi.
UNY juga merancang pendampingan belajar malam hari bagi anak-anak di Bumijo. Jika selama ini kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) hanya berlangsung dua bulan, ke depan akan dibuat lebih berkesinambungan agar hasilnya lebih terasa bagi warga.
Program Seleksi Mahasiswa dan Ekspansi Wilayah
Zulfi menegaskan bahwa tidak semua mahasiswa akan dilibatkan. Pihaknya menyiapkan sistem seleksi agar mahasiswa yang terpilih benar-benar menjadi representasi terbaik.
“Mahasiswa yang terpilih akan mendapatkan reward atau ekuivalensi akademik yang jelas. Karena ini hal baru, desain programnya masih terus kami rumuskan agar tepat sasaran,” ungkap Zulfi.
Untuk tahap awal, program kampung tematik akan fokus di Bumijo. Namun, Pemkot Yogyakarta membuka peluang memperluas implementasi ke wilayah lain dengan melibatkan perguruan tinggi lain, dunia usaha, dan komunitas masyarakat.
Hasto optimistis bahwa kolaborasi ini tidak hanya sekadar proyek, tetapi akan menjadi gerakan sosial berkelanjutan.
Ia berharap program kampung tematik mampu menghadirkan wajah baru bagi kampung-kampung di Yogyakarta, dengan penguatan SDM, layanan kesehatan, hingga ruang belajar berbasis teknologi.
“Kalau kita bangun dengan data kuat dan evaluasi berkelanjutan, kampung tematik akan benar-benar mengakar. Jogja bisa menjadi rujukan nasional untuk model pembangunan masyarakat berbasis akademik dan kolaborasi,” pungkasnya. (ef linangkung)