
KabarJawa.com – Pemerintah Kota Yogyakarta terus memperkuat upaya pencegahan stunting melalui Program Gerakan Orangtua Asuh Cegah Stunting (Genting). Pada program ini, Pemkot Yogyakarta menyalurkan 2.065 paket bantuan kepada 613 penerima dengan total anggaran mencapai Rp 736,5 juta.
Kebijakan tersebut diarahkan untuk memutus mata rantai munculnya kasus stunting baru, khususnya melalui intervensi yang menyasar faktor sensitif dan faktor spesifik secara bersamaan.
Berdasarkan data yang digunakan Pemkot Yogyakarta, faktor sensitif berkontribusi sekitar 70 persen terhadap terjadinya stunting, sedangkan faktor spesifik menyumbang sekitar 30 persen.
Pemkot Yogyakarta memfokuskan pencegahan stunting melalui pendekatan menyeluruh. Intervensi tidak hanya diarahkan pada pemenuhan gizi anak, tetapi juga pada kondisi lingkungan dan sosial yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak dalam jangka panjang.
Melalui pelaksanaan Program Genting, Kota Yogyakarta mencatat capaian tertinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) hingga Desember 2025. Capaian tersebut dicatat sebagai hasil dari strategi kolaboratif lintas sektor yang diterapkan dalam program pencegahan stunting.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menjelaskan bahwa stunting tidak semata-mata disebabkan oleh kekurangan gizi. Menurutnya, faktor sensitif memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap risiko stunting pada anak.
“Faktor sensitif itu adalah suatu ekosistem yang ada di luar tubuh anak dan memengaruhi stunting hingga 70 persen. Sedangkan faktor spesifik berasal dari dalam tubuh dan berkontribusi sekitar 30 persen, seperti kesehatan reproduksi ibu, anemia, asupan gizi, serta pemberian makanan tambahan,” ujar Hasto.
Pernyataan tersebut disampaikan Hasto saat menjadi narasumber dalam forum best practice Program Genting pada rangkaian evaluasi Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) DIY. Kegiatan tersebut digelar di Loman Park Hotel, Selasa (16/12/2025).
Dalam pemaparannya, Hasto menekankan pentingnya memperhatikan kondisi lingkungan tempat tinggal keluarga yang berisiko stunting. Ia menyebut lingkungan yang tidak layak huni dapat meningkatkan risiko stunting meskipun kebutuhan gizi anak telah terpenuhi.
Lingkungan dengan kualitas air yang tercemar, sanitasi yang buruk, serta hunian yang tidak layak dinilai dapat memicu gangguan kesehatan pada anak. Kondisi tersebut, menurut Hasto, menjadi salah satu faktor utama yang perlu ditangani dalam intervensi sensitif.
“Ketika kita bicara Gerakan Orangtua Asuh Cegah Stunting, kita tidak boleh hanya fokus pada makanan. Lingkungan tempat anak tumbuh itu sangat menentukan. Air bersih, sanitasi, dan rumah layak huni menjadi kunci utama,” tegasnya.
Hasto menambahkan bahwa air yang terkontaminasi bakteri e-coli berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan serius pada anak. Oleh karena itu, Pemkot Yogyakarta mendorong pembenahan lingkungan secara menyeluruh sebagai bagian dari strategi pencegahan stunting.
Dalam kesempatan tersebut, Hasto juga meminta dukungan dari Pemerintah DIY serta Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN untuk memperkuat program pembenahan lingkungan, khususnya dalam penyediaan sanitasi dan air bersih bagi masyarakat rentan.
“Stunting di wilayah perkotaan itu tidak mudah. Kami harus berjuang keras. Kalau kita bisa mencegah kasus baru dan mencapai zero new stunting, maka kita akan benar-benar sukses. Sebab, intervensi pada anak yang sudah stunting tingkat keberhasilannya hanya sekitar 20 persen,” jelas Hasto.
Menurutnya, pencegahan dinilai lebih efektif dibandingkan penanganan setelah stunting terjadi. Atas dasar itu, Pemkot Yogyakarta menempatkan Program Genting sebagai strategi utama dalam pencegahan stunting jangka panjang.
Pemkot Yogyakarta juga menegaskan komitmennya untuk mendukung penuh Program Genting yang digagas oleh BKKBN.
Implementasi program tersebut di Kota Yogyakarta tidak hanya berupa bantuan makanan tambahan, tetapi juga mencakup intervensi sensitif, seperti penyediaan rumah layak huni, edukasi keluarga, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Dari total 2.065 paket bantuan Genting yang disalurkan, program ini menyasar 613 keluarga berisiko stunting. Total nilai bantuan mencapai Rp 736,5 juta dan mencerminkan keberpihakan nyata pemerintah terhadap masa depan generasi muda Kota Yogyakarta.
Pemkot Yogyakarta juga melengkapi program Genting dengan bantuan Pemberian Makanan Tambahan (PMT), edukasi kesehatan dan gizi, serta dukungan pemberdayaan ekonomi keluarga. Seluruh program tersebut dirancang untuk menciptakan ekosistem sehat yang mampu mencegah stunting secara berkelanjutan.
Dengan strategi komprehensif dan kolaborasi lintas sektor, Pemkot Yogyakarta optimistis mampu menekan angka stunting dan melahirkan generasi sehat, cerdas, serta berdaya saing tinggi.
Program Genting tidak hanya menjadi simbol kepedulian, tetapi juga menjadi bukti nyata bahwa pencegahan stunting harus dimulai dari keluarga, lingkungan, dan kebijakan yang berpihak pada masa depan anak.