
KabarJawa.com – Kasus dugaan kekerasan dan pengabaian anak di Daycare Little Aresha Yogyakarta memasuki babak baru. Polisi mengungkap adanya dugaan kamar “tipu-tipu” yang disiapkan pengelola daycare untuk meyakinkan para orang tua sebelum menitipkan bayi dan balita mereka.
Temuan itu muncul dalam proses penyelidikan yang terus berkembang hingga Jumat (15/5/2026). Polisi menduga ruangan yang ditunjukkan kepada calon pelanggan berbeda dengan kondisi tempat anak-anak sehari-hari diasuh.
Di depan orang tua, ruangan terlihat nyaman, bersih, dan rapi. Namun dari hasil pemeriksaan, aparat menemukan dugaan bahwa anak-anak justru ditempatkan di ruang sempit dan pengap yang jauh dari gambaran awal saat promosi dilakukan.
Polisi Ungkap Modus Kamar Percontohan
Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Iptu Apri Sawitri membenarkan adanya kamar khusus yang digunakan sebagai ruang percontohan untuk menarik kepercayaan orang tua.
“Benar, ada kamar percontohan. Pada awal anak-anak mau ke Little Aresha disampaikan memang kamarnya bagus,” ujar Apri, Jumat (15/5/2026).
Menurutnya, kamar tersebut dilengkapi fasilitas yang tampak layak, mulai dari pendingin ruangan hingga kasur tidur yang nyaman. Pengelola juga menjanjikan pola pengasuhan eksklusif dengan sistem satu pengasuh untuk satu anak.
“Istilahnya layak dan memang untuk meyakinkan orang tua,” kata Apri.
Temuan ini membuat banyak orang tua terpukul. Sebagian mengaku awalnya percaya karena saat survei lokasi, ruangan daycare terlihat tertata rapi dengan suasana yang tenang.
Beberapa orang tua bahkan menyebut komunikasi pihak yayasan cukup meyakinkan. Mereka dijelaskan soal jadwal makan, waktu tidur, hingga pengawasan anak secara detail.
Namun belakangan, muncul dugaan kondisi asli daycare berbeda dari yang ditampilkan saat kunjungan.
Polisi Dalami Dugaan Pengasuhan Tak Layak
Penyidik kini mendalami pola pengasuhan dan kondisi fasilitas di Daycare Little Aresha. Polisi juga menelusuri dugaan adanya pengaturan situasi tertentu saat calon pelanggan datang melihat lokasi daycare.
Ketua yayasan disebut selalu mengatur jadwal kunjungan orang tua pada hari Sabtu. Fakta itu kini menjadi bagian dari pendalaman penyidik untuk melihat kemungkinan adanya pola sistematis dalam menampilkan fasilitas daycare.
Di sisi lain, penyelidikan terus meluas. Pada Jumat, polisi memanggil 50 saksi pelapor untuk menjalani pemeriksaan.
Keterangan para orang tua akan dicocokkan dengan hasil temuan di lapangan serta bukti lain yang sudah dikumpulkan penyidik.
Selain itu, sebanyak 17 karyawan Daycare Little Aresha juga masih diperiksa sebagai saksi. Mereka terdiri dari pengasuh anak, petugas keamanan, guru TK, hingga asisten rumah tangga yang bekerja di lingkungan daycare.
Hingga kini seluruh saksi dari internal daycare masih menjalani wajib lapor.
Potensi Tersangka Baru Masih Terbuka
Polisi belum menutup kemungkinan adanya tersangka tambahan dalam kasus ini. Namun untuk sementara, penyidik fokus menangani 13 laporan utama yang dinilai memiliki alat bukti lebih lengkap.
“Tetapi kami fokuskan 13 yang kami tangani, karena kalau sudah fokus 13 sudah jadi laporan sosial, psikolog kan setidaknya jaksa pasti ada alat bukti yang lebih kuat lagi, baru nanti proses selanjutnya kita dalami pengasuh-pengasuh yang lain,” ujar Apri.
Kasus Daycare Little Aresha kini menjadi perhatian luas masyarakat Yogyakarta. Di media sosial, banyak orang tua mulai membagikan kekhawatiran mereka terkait pengawasan tempat penitipan anak, terutama untuk bayi dan balita.
Beberapa warganet juga meminta pemerintah daerah memperketat pengawasan daycare, termasuk inspeksi fasilitas dan standar pengasuhan anak usia dini.
Hingga pembaruan terbaru, proses pemeriksaan saksi masih berlangsung. Polisi memastikan penyelidikan akan terus dikembangkan untuk mengungkap seluruh fakta di balik dugaan pengabaian dan kekerasan anak di daycare tersebut.