
KabarJawa.com– Menjelang perayaan Hari Raya Waisak 2570 BE, suasana di kawasan Candi Borobudur menghadirkan momen penting yang sarat makna sejarah, spiritualitas, dan pelestarian budaya.
Di tengah persiapan menyambut ribuan umat Buddha dari berbagai daerah hingga mancanegara, proses pemindahan Arca Unfinished Buddha resmi menjadi bagian dari penataan kawasan spiritual Borobudur yang lebih berkelanjutan.
Langkah besar ini tidak sekadar memindahkan sebuah artefak bersejarah. Pemerintah bersama para pemangku kepentingan justru ingin memperkuat posisi Borobudur sebagai pusat spiritual dunia. Selain itu, pemerintah juga menjaga warisan budaya yang telah hidup selama berabad-abad.
Pemindahan Arca Unfinished Buddha
Prosesi pemindahan arca berlangsung dengan penuh kehati-hatian dan penghormatan terhadap nilai budaya setempat.
Berbagai pihak terlibat dalam kolaborasi lintas sektor.
- Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Museum dan Cagar Budaya (MCB)
- Kementerian Agama Republik Indonesia
- InJourney Destination Management
- Para Bhikkhu
- komunitas masyarakat adat di sekitar Borobudur
Kolaborasi tersebut menunjukkan keseriusan seluruh pihak dalam menjaga keseimbangan antara pelestarian situs cagar budaya dan kebutuhan spiritual masyarakat.
Arca Unfinished Buddha kemudian dipindahkan menuju Lapangan Kenari. Lapangan ini berada di Zona I kawasan Borobudur, tepatnya di sisi barat daya candi.
Lokasi baru tersebut memiliki nilai historis dan spiritual yang kuat. Tempat ini berada di antara dua pohon kenari tua yang selama ini masyarakat anggap sebagai bagian penting dari lanskap budaya kawasan Borobudur.
Pemilihan lokasi itu bukan tanpa pertimbangan. Pemerintah dan pengelola kawasan menilai Lapangan Kenari mampu menghadirkan ruang spiritual yang lebih representatif. Hal ini sekaligus mendukung tata kelola kawasan yang lebih tertata dan berkelanjutan.
Dasar Pemindahan
Kepala Museum dan Cagar Budaya, Esti Nurjadin, menegaskan bahwa pemindahan arca menjadi bagian dari upaya besar menjaga kelestarian warisan budaya dunia sekaligus memperkuat fungsi spiritual Borobudur.
Menurut Esti, seluruh proses berjalan dengan menjunjung tinggi prinsip pelestarian cagar budaya serta menghormati masyarakat dan adat setempat.
Ia menilai langkah tersebut penting untuk memastikan kawasan Borobudur tetap terjaga sebagai pusat spiritual dan budaya dunia yang berkelanjutan.
“Seluruh proses dilakukan dengan menjunjung tinggi nilai-nilai pelestarian cagar budaya, menghormati masyarakat dan adat setempat, guna memastikan tata kelola kawasan yang berkelanjutan agar Borobudur tetap terjaga sebagai pusat spiritual dan budaya dunia,” ujar Esti Nurjadin.
Di sisi lain, Holding BUMN sektor aviasi dan pariwisata, InJourney, memandang pemindahan Arca Unfinished Buddha sebagai bagian penting dalam penataan ekosistem spiritual kawasan Borobudur.
Penataan tersebut diharapkan mampu menghadirkan pengalaman ibadah yang lebih khusyuk bagi umat Buddha sekaligus menjaga kualitas kunjungan wisata budaya.
Direktur Utama InJourney, Maya Watono, menilai Borobudur bukan hanya candi Buddha terbesar di dunia. Candi ini juga simbol spiritualitas yang memiliki nilai sakral tinggi bagi masyarakat lokal maupun umat Buddha global.
Menurut Maya, pengembangan Borobudur harus berjalan seimbang antara pelestarian warisan budaya, penguatan nilai spiritual, dan pengembangan ekosistem pariwisata berkualitas.
“Pengembangan Borobudur sebagai destinasi spiritual dan budaya berkelas dunia harus berjalan selaras antara pelestarian warisan budaya, penguatan nilai spiritual, dan pengembangan ekosistem pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan,” tutur Maya Watono.
Ia juga menegaskan bahwa kolaborasi bersama pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat lokal menjadi kunci agar Borobudur tetap relevan sebagai destinasi spiritual dan pilgrimage kelas dunia yang mampu memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan budaya bagi masyarakat luas.
Ritul Adat dan Doa
Prosesi pemindahan arca berlangsung khidmat dan penuh nuansa spiritual. Ritual adat dan doa bersama turut mewarnai jalannya prosesi sebagai bentuk penghormatan terhadap harmoni budaya dan kehidupan masyarakat sekitar kawasan Borobudur.
Masyarakat adat, para bhikkhu, dan sejumlah tokoh spiritual tampak mengikuti setiap tahapan prosesi dengan penuh penghormatan.
Momentum tersebut sekaligus menjadi simbol kuat hubungan antara pelestarian heritage dengan kehidupan spiritual masyarakat yang terus terjaga lintas generasi.
Direktur Utama InJourney Destination Management, Febrina Intan, menjelaskan bahwa pemindahan Arca Unfinished Buddha mempertimbangkan berbagai aspek teknis, spiritual, dan tata ruang kawasan.
Menurut Febrina, penempatan arca di kawasan Lapangan Kenari akan menciptakan sirkulasi ritual yang lebih tertata. Jadi, umat dapat menjalankan aktivitas ibadah dengan lebih nyaman dan khusyuk.
“Penempatan arca di area penyangga ritual diharapkan dapat mendukung terciptanya sirkulasi kegiatan spiritual yang lebih tertata, menghadirkan ruang ibadah yang lebih representatif bagi umat, sekaligus menjaga kualitas pengalaman pengunjung,” jelas Febrina Intan.
Transformasi kawasan Borobudur kini memang terus bergerak menuju arah baru. Pemerintah bersama InJourney dan berbagai pihak terkait tidak hanya fokus pada sektor pariwisata. Namun, mereka juga membangun identitas Borobudur sebagai destinasi spiritual dan pilgrimage kelas dunia.
Pengembangan tersebut melalui pendekatan pelestarian budaya, pemberdayaan masyarakat lokal, hingga penguatan keberlanjutan lingkungan di kawasan strategis nasional Borobudur. (ef linangkung)