
KabarJawa.com— Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menghadirkan terobosan hijau yang memikat dalam menyambut Hari Jadi ke-271.
Di tengah tradisi ucapan selamat dengan bunga papan plastik, kawasan Kompleks Kepatihan kini justru tampil berbeda.
Pemerintah daerah secara aktif mengubah budaya seremonial tersebut menjadi gerakan ramah lingkungan dengan menghadirkan taman anggrek vertikal dan berbagai tanaman hidup.
Langkah progresif ini tidak muncul tanpa dasar. Pemda DIY secara tegas menindaklanjuti kebijakan nasional melalui Surat Edaran dari Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 600.11/889/SJ tentang gerakan Indonesia Asri.
Melalui kebijakan ini, pemerintah daerah mengimbau seluruh mitra, instansi, dan masyarakat untuk mengganti ucapan bunga papan dengan tanaman hidup yang memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan.
Taman Anggrek Vertikal
Transformasi ini langsung mengubah wajah Kepatihan. Area yang sebelumnya kerap dipenuhi papan ucapan kini berubah menjadi ruang hijau yang hidup.
Deretan anggrek eksotis mulai menghiasi pepohonan, sementara tanaman produktif seperti pohon buah turut memperkaya lanskap.
Asisten Sekretariat Daerah DIY Bidang Administrasi Umum, Srie Nurkyatsiwi, menegaskan bahwa kebijakan ini dirancang secara matang untuk menciptakan dampak berkelanjutan.
“Kami ingin ucapan Hari Jadi tidak berhenti sebagai simbol sesaat. Tanaman hidup ini bisa terus dirawat, tumbuh, dan memperindah lingkungan dalam jangka panjang,” ujarnya di ruang kerja.
Ia menjelaskan bahwa kawasan Kepatihan memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai ruang hijau publik.
Dengan luas area dan banyaknya pepohonan, Pemda DIY memanfaatkan momentum Hari Jadi untuk menginisiasi perubahan yang lebih ekologis dan edukatif.
Seiring berjalannya waktu, berbagai kiriman tanaman mulai berdatangan. Tidak hanya anggrek dalam pot, sejumlah pihak juga mengirim tanaman unik seperti pohon kelengkeng berbuah yang menambah daya tarik visual sekaligus nilai produktif.
Namun, Pemda DIY tidak bekerja sendiri. Pemerintah menggandeng berbagai komunitas dan organisasi untuk memastikan program ini berjalan optimal.
Kolaborasi melibatkan Perhimpunan Anggrek Indonesia DIY, Komunitas Anggrek Merapi, Kamar Dagang dan Industri Indonesia, hingga Otoritas Jasa Keuangan.
Kolaborasi ini tidak hanya sebatas pemberian tanaman. Para ahli dan komunitas turut berperan aktif dalam penataan serta perawatan taman vertikal tersebut. Bahkan, Pemda DIY membuka diri sebagai “laboratorium hidup” bagi para pakar tanaman.
“Kami menyadari keterbatasan kami dalam hal teknis. Oleh karena itu, kami membuka ruang kolaborasi agar para ahli dapat memberikan edukasi langsung kepada petugas kami,” tambah Srie.
Melalui program ini, tenaga kebersihan dan petugas taman di Kepatihan mendapatkan pelatihan langsung mengenai teknik perawatan tanaman. Mereka mempelajari cara penyiraman yang tepat, pemupukan, hingga penanganan tanaman hias secara profesional.
Pengaruh Program
Dampak dari program ini tidak hanya terasa di lingkungan kantor pemerintahan. Para petugas juga memperoleh keterampilan baru yang dapat mereka terapkan di rumah, sehingga nilai edukatif program ini meluas hingga ke masyarakat.
Di sisi lain, Pemda DIY juga melihat peluang ekonomi dari gerakan ini. Pemerintah memberikan ruang promosi bagi para pembudidaya tanaman hias lokal. Setiap tanaman yang dipajang dapat dilengkapi barcode yang mengarahkan masyarakat ke informasi penjual.
Langkah ini menciptakan simbiosis yang saling menguntungkan. Para pelaku usaha tanaman hias mendapatkan eksposur dan peluang pasar, sementara kawasan Kepatihan semakin indah dan tertata.
“Ini bukan sekadar program lingkungan, tetapi juga pemberdayaan ekonomi lokal. Semua pihak mendapatkan manfaat,” tegas Srie.
Saat ini, belasan pohon di kawasan Kepatihan telah siap dihias dengan anggrek dan tanaman hias lainnya. Ke depan, jumlah tersebut akan terus bertambah seiring meningkatnya partisipasi masyarakat.
Melalui inovasi ini, Pemda DIY berhasil mengubah paradigma ucapan seremonial menjadi gerakan hijau yang berkelanjutan.
Tidak ada lagi limbah visual dari bunga papan yang terbuang sia-sia. Sebaliknya, setiap ucapan kini tumbuh menjadi bagian dari ekosistem yang hidup. (ef linangkung)