
KabarJawa.com— Sore itu, suasana di Kalurahan Gulurejo, Kapanewon Lendah, terasa lebih sibuk dari biasanya. Debu tipis berterbangan di antara deru alat berat yang terus bekerja tanpa henti.
Di tengah aktivitas tersebut, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Republik Indonesia, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), datang membawa sorotan sekaligus dorongan baru bagi proyek ambisius Sekolah Rakyat (SR).
Tepat pukul 15.11 WIB, AHY melangkah memasuki kawasan proyek. Ia tidak membuang waktu. Begitu tiba, ia langsung menemui Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Prasarana Strategis DIY, Haryo Satriyawan.
Keduanya segera berdiskusi singkat sebelum meninjau langsung perkembangan pembangunan yang kini menjadi perhatian nasional.
Langkah AHY menyusuri area proyek memperlihatkan keseriusan pemerintah dalam memastikan program ini berjalan sesuai rencana.
Progres Pembangunan Sekolah Rakyat Kulon Progo
AHY secara terbuka mengungkapkan bahwa pembangunan Sekolah Rakyat di Kulon Progo mengalami keterlambatan sekitar 3 hingga 4 persen dari target. Hingga saat ini, progres pembangunan baru mencapai 38 persen.
Ia tidak menutupi situasi tersebut. Sebaliknya, ia menegaskan perlunya langkah cepat dan konkret.
“Pembangunannya perlu didorong dan perlu dipercepat lagi,” tegas AHY usai melakukan peninjauan.
Pernyataan itu bukan sekadar evaluasi, tetapi juga sinyal kuat bahwa pemerintah tidak ingin proyek strategis ini meleset dari jadwal. Sebab, Sekolah Rakyat dirancang untuk mulai beroperasi pada Tahun Ajaran Baru Juli 2026.
Dari hasil diskusi di lapangan, AHY menemukan salah satu akar persoalan yang menghambat progres pembangunan: kekurangan tenaga kerja.
Jumlah pekerja saat ini belum mencapai kebutuhan ideal. Kondisi ini membuat ritme pembangunan tidak secepat yang diharapkan.
Haryo Satriyawan menjelaskan bahwa saat ini proyek melibatkan sekitar 840 pekerja. Jumlah tersebut sebenarnya menurun dibandingkan periode setelah Lebaran, ketika tenaga kerja sempat mencapai 930 orang.
Ia mengakui dinamika keluar-masuk pekerja menjadi tantangan tersendiri dalam proyek konstruksi berskala besar seperti ini.
“Makanya kami upayakan agar jumlah pekerja bisa menjadi 925 orang agar target pembangunan bisa tercapai,” jelas Haryo.
Menghadapi kondisi tersebut, AHY langsung mengambil langkah strategis. Ia memastikan akan menambah jumlah tenaga kerja agar proyek kembali ke jalur target.
Tidak hanya itu, ia juga mendorong optimalisasi penggunaan alat berat untuk mempercepat proses konstruksi. Sementara itu, dari sisi material, ia memastikan tidak ada hambatan berarti karena seluruh kebutuhan sudah tersedia di lokasi.
“Kami usahakan pembangunannya bisa selesai sebaik mungkin, optimistis bisa mengejar timeline di Juni nanti,” ujar AHY dengan nada penuh keyakinan.
Optimisme tersebut menjadi energi baru bagi seluruh pihak yang terlibat dalam proyek ini.
Proyek Besar dengan Misi Sosial
Sekolah Rakyat di Lendah bukan sekadar proyek pembangunan fisik. Proyek ini berdiri di atas lahan seluas 7,1 hektare dengan total anggaran mencapai Rp214 miliar.
Angka tersebut mencerminkan besarnya komitmen pemerintah dalam membangun akses pendidikan yang inklusif.
Ketika selesai nanti, Sekolah Rakyat ini akan menampung hingga 1.080 pelajar dari keluarga kurang mampu, khususnya mereka yang berasal dari kelompok desil 1 dan 2.
Lebih dari itu, sekolah ini menawarkan konsep pendidikan yang menyeluruh. Para siswa tidak hanya mendapatkan pendidikan gratis, tetapi juga fasilitas asrama dan sarana pendukung lainnya.
Dengan pendekatan tersebut, pemerintah berharap Sekolah Rakyat mampu menjadi solusi nyata dalam memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan.
Di tengah suara mesin dan aktivitas konstruksi yang terus berlangsung, tersimpan harapan besar bagi masa depan ribuan anak Indonesia.
AHY menegaskan bahwa Sekolah Rakyat bukan hanya tempat belajar, tetapi juga wadah untuk mencetak generasi unggul yang mampu bersaing dan mandiri.
“Semoga SR bisa mencetak anak-anak yang unggul secara prestasi, dan saat lulus dari sini bisa lanjut ke pendidikan lebih tinggi atau terserap ke lapangan kerja,” pungkasnya.
Kini, waktu menjadi faktor krusial. Setiap hari yang berlalu akan menentukan apakah target Juni 2026 bisa tercapai.
Di Gulurejo, pembangunan terus berjalan. Di balik keterlambatan yang ada, semangat percepatan mulai digelorakan. Dan di atas fondasi yang sedang dibangun itu, masa depan ribuan anak sedang dipersiapkan. (ef linangkung)