Padukuhan Sari yang Hilang di Balik Perbukitan Karst Gunungkidul: Ditinggalkan Warga Satu per Satu hingga Lenyap dari Peta Permukiman

Bagikan :
Padukuhan Sari di Tanjungsari, Gunungkidul, perlahan ditinggalkan warganya sejak 1990-an hingga akhirnya lenyap dari peta permukiman. (Eln)

KabarJawa.com – Di balik bentang perbukitan karst yang membelah kawasan selatan Gunungkidul, tersimpan sebuah kisah sunyi tentang kampung yang perlahan menghilang tanpa gemuruh.

Tidak ada bencana alam yang memaksa warganya pergi. Tidak ada konflik sosial yang memecah kehidupan masyarakat. Tidak pula ada program relokasi yang mengosongkan kawasan itu secara serentak.

Namun, sebuah padukuhan bernama Padukuhan Sari yang dahulu berdiri di wilayah Kalurahan Banjarejo, Kapanewon Tanjungsari, kini hanya tersisa dalam ingatan para mantan penghuninya.

Waktu menghapus jejak kehidupan itu sedikit demi sedikit. Warga meninggalkan kampung secara perlahan, satu per satu, hingga akhirnya tidak ada lagi penghuni yang bertahan.

Kini, bekas permukiman tersebut berubah menjadi hamparan lahan pertanian. Sisa-sisa bangunan rumah yang mulai lapuk menjadi penanda bahwa kawasan itu pernah hidup dan menjadi tempat tumbuh sebuah komunitas masyarakat pedesaan.

Dulu Dihuni Puluhan Keluarga

Salah seorang saksi hidup yang masih menyimpan memori tentang padukuhan yang hilang itu adalah Trifena Istining, 56 tahun.

Perempuan yang merupakan anak kandung almarhum Dukuh Sari itu lahir dan besar di padukuhan tersebut sebelum akhirnya ikut meninggalkan kampung bersama keluarganya.

Saat ditemui di rumahnya di Padukuhan Padangan, Kamis (18/6/2026), Trifena mengisahkan bagaimana kehidupan di Padukuhan Sari berjalan layaknya padukuhan lain di Gunungkidul pada masanya.

“Dulu warga di Padukuhan Sari cukup banyak, kurang lebih sekitar 30 kepala keluarga. Pindahnya tidak serentak, tetapi satu per satu,” ujarnya.

Menurut Trifena, masyarakat menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Warga mengolah lahan di sekitar kawasan padukuhan dan menjalani kehidupan sosial yang erat.

Baca juga  Gempa Magnitudo 4,4 Guncang Bantul, Terasa hingga Trenggalek

Aktivitas ronda malam, pertemuan RT, hingga gotong royong menjadi bagian dari keseharian warga.

Warga Pergi Satu per Satu

Suasana kebersamaan yang kuat itu perlahan berubah ketika memasuki dekade 1990-an. Jumlah penduduk mulai menyusut. Rumah-rumah yang sebelumnya dihuni keluarga petani satu per satu ditinggalkan pemiliknya.

Mereka memilih menetap di wilayah lain yang masih berada di sekitar Kalurahan Banjarejo. Perpindahan itu berlangsung perlahan dalam rentang waktu yang panjang sehingga tidak pernah terlihat sebagai gelombang migrasi besar.

Trifena mengaku tidak pernah mengetahui alasan pasti yang mendorong warga meninggalkan kampung tersebut. Yang ia ingat, jumlah penduduk terus berkurang dari tahun ke tahun.

“Saya sendiri tidak pernah tahu alasan pastinya. Yang jelas warga pindah satu per satu. Sebagian besar masih tinggal di sekitar kalurahan ini juga,” tuturnya.

Sebagai salah satu penghuni terakhir, Trifena menyaksikan langsung bagaimana kehidupan di Padukuhan Sari semakin sepi. Rumah-rumah kosong mulai bermunculan. Aktivitas warga yang dahulu ramai perlahan menghilang bersama berkurangnya jumlah penduduk.

Saat keluarganya memutuskan pindah sekitar tahun 2009, hanya tersisa tiga kepala keluarga yang masih bertahan di kawasan tersebut.

Kampung Tanpa Listrik hingga Akhir 1990-an

Keputusan meninggalkan kampung lebih banyak dipengaruhi faktor usia orang tua dan kebutuhan untuk memperoleh akses yang lebih mudah terhadap lingkungan sekitar.

Lokasi Padukuhan Sari yang cukup terpencil membuat mobilitas warga tidak semudah wilayah lain yang lebih dekat dengan pusat aktivitas masyarakat.

Baca juga  Candi Prambanan Gelar Prosesi Abhiseka Samapta Diwyottama Siwalaya ke-7, Rayakan Usia ke-1.169 Tahun

Trifena juga mengenang satu kenyataan yang kini mungkin sulit dibayangkan generasi muda. Hingga akhir masa hunian, Padukuhan Sari belum pernah menikmati aliran listrik.

Meski berada di era modernisasi yang mulai menjangkau berbagai wilayah pedesaan, kawasan itu tetap hidup dalam keterbatasan.

“Sampai akhir 90-an masih belum ada listrik. Jalan sebenarnya sudah bagus, tetapi memang lokasinya cukup terpencil,” katanya.

Kondisi jalan lingkungan sebenarnya tidak terlalu buruk. Warga sudah menikmati akses jalan berupa cor blok yang relatif baik untuk ukuran pedesaan saat itu.

Namun letak geografis yang berada di kawasan perbukitan membuat padukuhan tersebut tetap terisolasi dibanding wilayah lain di sekitarnya.

Masih Diingat dalam Catatan Warga

Cerita tentang hilangnya Padukuhan Sari juga masih diingat oleh Suparno. Sebagai Dukuh Sangen I, ia masih menyimpan ingatan tentang keberadaan padukuhan yang kini sudah tidak tercatat lagi secara administratif.

Saat mulai menjabat pada masa krisis ekonomi tahun 1998, Padukuhan Sari masih tercatat sebagai wilayah yang aktif meski jumlah penduduknya tinggal sedikit.

“Kalau tidak salah waktu itu tinggal tiga atau empat rumah saja. Saya masih sempat mengenal dukuhnya sebelum beliau purna tugas,” katanya.

Menurut Suparno, kehidupan masyarakat yang tersisa saat itu berjalan normal seperti warga pedesaan lainnya. Mereka tetap bertani dan mengelola lahan pertanian yang membentang di sekitar kawasan padukuhan.

Meski demikian, Suparno juga tidak mengetahui secara pasti alasan utama yang membuat warga memilih meninggalkan kampung tersebut.

Baca juga  Lahan Eks Kantor Kesbangpol Gunungkidul Direncanakan Jadi RTH dan Area Parkir

Yang ia ingat, proses pengosongan berlangsung bertahap sejak pertengahan 1990-an. Tidak ada perpindahan massal. Tidak ada peristiwa khusus yang menjadi titik balik. Jumlah warga hanya terus menyusut hingga akhirnya habis.

“Mulai ditinggalkan sekitar 1995 sampai 1998. Warganya berkurang sedikit demi sedikit. Tidak sekaligus. Setelah itu akhirnya habis dan secara administratif sudah tidak tercatat lagi,” tandasnya.

Hilang dari Peta, Tinggal Jejak dan Kenangan

Kini, jika seseorang berjalan menyusuri kawasan bekas Padukuhan Sari, ia tidak akan menemukan keramaian kampung yang pernah hidup di sana.

Tidak terdengar lagi suara anak-anak bermain di halaman rumah. Tidak ada lagi lampu sentir yang menyala saat malam tiba. Tidak tampak aktivitas ronda yang dahulu menjaga keakraban warga.

Yang tersisa hanyalah hamparan lahan pertanian yang terus digarap masyarakat serta puing-puing bangunan yang perlahan ditelan usia.

Padukuhan Sari menjadi potret bagaimana sebuah permukiman dapat hilang bukan karena bencana atau konflik, melainkan karena perubahan zaman yang berjalan perlahan.

Ketika akses, kebutuhan hidup, dan mobilitas masyarakat berubah, sebuah kampung yang pernah dihuni puluhan keluarga akhirnya tinggal menjadi kenangan.

Di balik sunyinya perbukitan karst Gunungkidul, nama Padukuhan Sari masih bertahan dalam cerita para mantan penghuninya.

Kisah itu menjadi pengingat bahwa setiap kampung memiliki sejarah, dan tidak semua sejarah berakhir dengan gemuruh. Sebagian justru menghilang perlahan, nyaris tanpa suara, hingga hanya tersisa jejak dan kenangan.

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Roberto Carlos masih hidup pada Agustus 2026. Simak kondisi kesehatan, karier, dan perannya sebagai pemegang saham Fursan Hispania. (Foto: instagram/oficialrc3)
Apakah Roberto Carlos Masih Hidup Agustus 2026? Ini Kondisi Terbaru Legenda Brasil dan Real Madrid
Lokasi Tilang Operasi Patuh Progo 2026 Jogja
Titik Lokasi Rawan Tilang di Jogja, Operasi Patuh Progo 2026: ETLE Sleman, Bantul dan Sekitarnya