
KabarJawa.com-Pemerintah Kota Yogyakarta kembali menegaskan peran besar organisasi masyarakat (ormas) dalam menggerakkan denyut kehidupan kota.
Pada Selasa (25/11), suasana Hotel Harper Yogyakarta berubah menjadi panggung apresiasi ketika Pemkot menebar penghargaan melalui Ormas Award 2025.
Ormas Award 2025
Lima ormas terbaik, PC Fatayat NU, PD Aisyiyah, Paksi Katon, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, dan DPC Perwira, berdiri di barisan depan sebagai simbol dedikasi dan kontribusi dalam menjaga kondusivitas sekaligus mendorong kemajuan Kota Yogyakarta.
Dalam forum penuh apresiasi itu, Sekretaris Badan Kesbangpol Kota Yogyakarta, Widiyastuti, menyampaikan bahwa Ormas Award telah menjelma menjadi tradisi tiga tahun terakhir.
Pemkot menggunakan penghargaan ini sebagai bentuk pengakuan sekaligus fasilitasi untuk ormas yang benar-benar aktif terlibat dalam pembangunan kota.
Melalui program ini, pemerintah ingin memastikan ormas tidak hanya terdaftar secara administratif, tetapi juga hadir sebagai mitra strategis.
Widiyastuti menegaskan bahwa Pemkot sangat memerlukan ormas yang melaporkan keberadaannya, membangun sinergi, serta ikut menjaga situasi sosial yang aman dan kondusif.
Ia menyampaikan pesan penting kepada seluruh ormas agar melihat ajang tersebut sebagai refleksi, bukan perlombaan semata.
“Kompetisi ini bukan mencari siapa yang paling unggul, tetapi menjadi sarana introspeksi sejauh mana ormas berkolaborasi dengan pemerintah, bersinergi dengan masyarakat, dan berkontribusi bagi Kota Yogyakarta,” ujarnya tegas.
Ia mengungkapkan bahwa sekitar 90 ormas telah terdaftar, namun hampir seratus lainnya belum mengurus legalitas. Pemerintah berkomitmen mendorong ormas-ormas tersebut agar segera masuk dalam sistem pendataan sehingga kolaborasi dapat berjalan transparan dan terarah.
Ormas sebagai Penopang Stabilitas Sosial Kota
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Yunianto Dwi Sutono, menegaskan bahwa Ormas Award merupakan pengakuan penting terhadap kelompok masyarakat yang menyalurkan energi positif untuk kota.
Ia melihat ormas sebagai penggerak sosial yang mampu bekerja langsung di tengah masyarakat dan sering kali menjadi jembatan komunikasi antara warga dan pemerintah.
“Ormas adalah agen perubahan yang mampu menjembatani masyarakat dengan pemerintah. Dengan ormas yang aktif dan peduli, kita dapat menciptakan suasana kota yang harmonis dan tertib,” ujarnya.
Yunianto memandang peran ormas semakin strategis di tengah meningkatnya dinamika sosial. Ormas dinilai mampu mendorong pemberdayaan masyarakat di bidang sosial, pendidikan, ekonomi, hingga menjaga stabilitas lingkungan ketika tensi sosial meningkat.
Melalui Ormas Award 2025, Pemkot Yogyakarta kembali merajut komitmen bersama seluruh organisasi kemasyarakatan untuk terus memperkuat kolaborasi.
Pemerintah ingin memastikan setiap ormas mendapat ruang untuk berkembang, berinovasi, dan memberi pengaruh positif bagi lingkungan sekitarnya.
Ajang ini juga menjadi bukti bahwa Yogyakarta tidak hanya bertumpu pada kekuatan birokrasi. Kota budaya ini hidup karena masyarakatnya bergerak, berjejaring, dan saling menopang.
Dengan sinergi yang semakin erat antara pemerintah dan ormas, Yogyakarta berharap mampu tumbuh sebagai kota yang semakin aman, inklusif, tertib, dan berdaya.
Sebuah kota yang bergerak maju karena semua elemen berjalan seirama, dan ormas berdiri sebagai agen perubahan yang menjaga denyut kehidupan tetap stabil.
Dari Gerakan Dapur Mandiri hingga Sedekah Sayur
Salah satu momen yang membuat suasana ruangan semakin hangat hadir dari penerima penghargaan, Ketua PC Fatayat NU, Ummu Aiman.
Ia menceritakan bahwa Fatayat NU terus menjalankan program sejalan dengan prioritas pembangunan kota, khususnya ketahanan pangan dan pengelolaan sampah.
Fatayat NU menggagas Gerakan Dapur Mandiri, yang mengajak anggota membudidayakan sayuran di rumah masing-masing.
Mereka membagikan benih sayur dan membangun sistem akuaponik di tingkat kemantren agar warga memiliki sumber pangan sehat dan berkelanjutan.
“Alhamdulillah pada Oktober kemarin, bertepatan dengan Hari Santri Nasional, kami sudah panen dan dapat membagikan sedekah sayur kepada masyarakat,” tuturnya.
Program tersebut menegaskan bahwa ormas bukan hanya menjalankan kegiatan seremonial, tetapi juga melakukan aksi nyata yang langsung dirasakan masyarakat. (ef linangkung)