
KabarJawa.com– Ancaman penyebaran HIV/AIDS di Kabupaten Gunungkidul masih menjadi perhatian serius. Berdasarkan hasil skrining dan pendataan Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, ratusan kasus HIV/AIDS telah terdeteksi hingga awal 2026.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 111 kasus berkaitan dengan perilaku laki-laki seks laki-laki (LSL) atau hubungan seksual sesama jenis.
Temuan tersebut menambah daftar panjang tantangan pemerintah daerah dalam upaya menekan laju penyebaran HIV/AIDS. Di tengah berbagai program pencegahan dan pengobatan, kasus baru masih terus bermunculan.
Kasus HIV/AIDS Gunungkidul
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, Ismono, mengungkapkan bahwa hasil skrining petugas menunjukkan adanya kelompok risiko yang berkontribusi terhadap penularan HIV. Salah satunya berasal dari kelompok LSL.
“Ada 111 kasus yang terdeteksi karena LSL ini,” kata Ismono.
Angka tersebut menjadi salah satu indikator yang menunjukkan bahwa penyebaran HIV tidak hanya terjadi pada kelompok tertentu, tetapi juga menjangkau berbagai lapisan masyarakat.
Oleh karena itu, pemerintah terus memperkuat strategi pencegahan melalui edukasi, deteksi dini, hingga pendampingan terhadap penderita.
Hingga Maret 2026, jumlah kasus HIV/AIDS di Gunungkidul tercatat cukup tinggi. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, terdapat 805 kasus HIV dan 336 kasus AIDS yang tercatat secara kumulatif.
Sementara itu, sepanjang triwulan pertama tahun 2026, petugas menemukan 13 kasus baru HIV dan lima kasus baru AIDS. Angka tersebut menunjukkan bahwa penularan masih terjadi sehingga membutuhkan perhatian dan kewaspadaan bersama.
“Data untuk triwulan kedua masih dalam proses validasi,” ujar Ismono.
Menghadapi kondisi tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul terus memperkuat berbagai program pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS. Salah satu langkah utama adalah meningkatkan kapasitas layanan di seluruh puskesmas.
Pemerintah telah memberikan penguatan kapasitas kepada petugas konselor di 30 puskesmas yang tersebar di seluruh wilayah Gunungkidul.
Langkah tersebut bertujuan meningkatkan kualitas layanan edukasi, konseling, pemeriksaan, serta pendampingan bagi masyarakat yang membutuhkan.
Petugas kesehatan juga aktif melakukan skrining terhadap kelompok rentan yang memiliki risiko lebih tinggi terpapar HIV.
Melalui deteksi dini, pemerintah berharap dapat menemukan kasus lebih cepat sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum kondisi penderita memburuk.
“Langkah ini sebagai upaya deteksi dini. Selain itu, puskesmas juga rutin melakukan skrining ke lingkungan kelompok rentan,” ucap Ismono.
Tidak hanya itu, Dinas Kesehatan juga mengintegrasikan upaya pencegahan HIV melalui program pemeriksaan kesehatan bagi pasangan calon pengantin.
Melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG), calon pengantin akan mendapat tawaran untuk menjalani pemeriksaan HIV sebelum memasuki kehidupan rumah tangga.
Program tersebut akan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pemeriksaan kesehatan sekaligus mencegah risiko penularan HIV dalam lingkungan keluarga.
Petugas Kawal Pasien agar Tidak Putus Obat
Selain fokus pada deteksi dini, pemerintah juga memberikan perhatian serius terhadap keberlangsungan pengobatan bagi Orang Dengan HIV (ODHIV).
Dinas Kesehatan secara rutin melakukan pemantauan terhadap pasien yang menjalani terapi antiretroviral (ARV) di fasilitas kesehatan. Pemantauan tersebut memastikan pasien tetap disiplin menjalani pengobatan dan tidak mengalami putus obat.
Petugas kesehatan juga melakukan pemeriksaan viral load secara berkala guna mengetahui efektivitas terapi pasien, baik pasien baru maupun pasien lama.
“Petugas rutin memantau kondisi dan perkembangan penderita agar tidak putus obat,” jelas Ismono.
Langkah tersebut sangat penting karena kepatuhan menjalani terapi menjadi salah satu faktor utama dalam meningkatkan kualitas hidup penderita sekaligus menekan risiko penularan kepada orang lain.
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Gunungkidul, Wanda Abrar, menjelaskan bahwa terdapat berbagai faktor yang memengaruhi penyebaran HIV/AIDS.
Menurutnya, perilaku seksual berisiko seperti berganti-ganti pasangan menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan penularan penyakit tersebut. Selain itu, perilaku seksual pada kelompok LGBT juga menjadi salah satu faktor dalam sejumlah kasus.
Wanda menyebut, berdasarkan data Dinas Kesehatan, mayoritas penderita HIV/AIDS di Gunungkidul didominasi oleh laki-laki. Dalam sejumlah kasus, penularan kemudian terjadi kepada pasangan perempuan mereka.
“Justru mayoritas penderita penyakit ini kalau di Gunungkidul didominasi oleh kaum laki-laki, menularkan ke perempuan,” ujar Wanda Abrar.
Pernyataan tersebut menjadi alarm penting bahwa HIV/AIDS tidak hanya berdampak pada individu yang terinfeksi, tetapi juga dapat menjangkau pasangan dan anggota keluarga apabila tidak ada pencegahan secara optimal.
Kolaborasi Lintas Sektor Diperkuat
Untuk mempercepat pengendalian HIV/AIDS, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul juga menggelar Pertemuan Penguatan Forum Kemitraan Pencegahan dan Pengendalian AIDS serta Penyakit Menular Lainnya.
Forum tersebut menjadi wadah koordinasi lintas sektor yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS secara lebih terintegrasi dan berkelanjutan.
Melalui forum tersebut, pemerintah mendorong sinkronisasi kebijakan, dukungan anggaran, hingga penguatan program sampai tingkat kalurahan. Pemerintah juga membuka ruang keterlibatan sektor swasta melalui program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (TJSP).
“Melalui forum tersebut, kami mendorong integrasi kebijakan dan dukungan anggaran mulai dari tingkat kabupaten hingga kalurahan. Selain itu, intervensi berbasis data dan keterlibatan sektor swasta melalui program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan juga menjadi bagian dari strategi percepatan penanggulangan HIV/AIDS dan penyakit menular lainnya,” tandas Ismono.
Di tengah masih munculnya kasus baru, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul terus mengintensifkan langkah pencegahan, deteksi dini, pengobatan, serta edukasi kepada masyarakat.
Upaya tersebut akan menekan laju penyebaran HIV/AIDS sekaligus meningkatkan kualitas hidup Orang Dengan HIV agar tetap produktif dan mendapatkan akses layanan kesehatan yang optimal. (ef linangkung)