
KabarJawa.com – Dunia teknologi informasi (TI) di Indonesia saat ini tengah menghadapi tantangan besar terkait kualitas sumber daya manusia. Banyak lulusan institusi formal yang dinilai belum siap terjun ke dunia industri karena kurikulum yang terlalu menitikberatkan pada teori. Menanggapi fenomena tersebut, PT Neo Akselerasi Indonesia resmi meluncurkan NEO-X pada 26 Januari 2026 di Kedai Bahagia, Yogyakarta. Langkah ini diambil sebagai upaya nyata untuk menghadirkan talenta TI yang kompetitif dan inovasi teknologi berbasis kecerdasan buatan.
Visi Mengatasi Kesenjangan Pendidikan
Pendirian NEO-X didorong oleh keprihatinan mendalam terhadap kondisi pendidikan TI nasional. Agung Hartanto, S.Kom., selaku Chief Marketing Officer (CMO) sekaligus Co-founder NEO-X, menjelaskan bahwa fokus utama lembaga ini adalah memberikan solusi atas ketidaksiapan tenaga kerja lokal. Dalam sebuah wawancara, beliau menegaskan, “Permasalahannya memang tidak kompetitif di… kebanyakan teori tapi terus kemudian tidak kompetitif di dunia kerja. Jadi itulah Neo hadir sebagai solusi”.
Meskipun saat ini materi pembelajaran TI sangat mudah ditemukan di internet, Agung menekankan bahwa belajar tanpa arahan yang jelas sering kali tidak membuahkan hasil yang maksimal. Beliau menyatakan bahwa jika “semua diajarkan di internet tapi tanpa guidance ya biasa jadi kurang mendapatkan hasil… kurang applicable”. Oleh karena itu, NEO-X hadir bukan sebagai sekolah vokasi konvensional yang terikat banyak prosedur formal, melainkan sebagai bootcamp yang berfokus pada pengerjaan proyek nyata oleh talenta muda yang memiliki renjana (passion) di bidangnya.
Metodologi Pembelajaran: Maker Education dan Disciplined Agile
NEO-X mengusung pendekatan pedagogi yang berbeda dari institusi pendidikan atau perusahaan pada umumnya. Mereka menerapkan kombinasi Maker Education dan Mastery-Based Learning, sebuah metode yang dirancang berdasarkan pengalaman lebih dari 25 tahun para pendirinya di dunia pendidikan dan industri. Melalui sistem ini, siswa ditempa dalam aktivitas transformasi yang disebut sebagai proses “bebas tapi terkendali”.
Proses pembelajaran di NEO-X diadaptasi dari metodologi Disciplined Agile, yang biasanya digunakan dalam pengembangan perangkat lunak profesional. Dengan konsep Way of Working (WoW), setiap siswa diberikan kebebasan untuk menyesuaikan proses belajar dengan kondisi dan situasi unik mereka masing-masing, namun tetap berorientasi pada target hasil (learning outcomes) dan kerangka waktu yang telah ditetapkan oleh tim ahli.
Inovasi Teknologi: Agentic AI dan Intelligent Enterprise
Selain fokus pada edukasi, NEO-X merupakan perusahaan teknologi yang memiliki spesialisasi pada Distributed and Decentralized Intelligent Enterprise. Agung Hartanto menjelaskan bahwa salah satu nilai lebih yang membuat NEO-X unggul adalah kolaborasi antara latar belakang akademisi dan praktisi. “Neox mungkin lebih ke arah ke generasi ketiga pemrograman dan memang karena didasari oleh motor kami ya, CEO sama CTO kami memang sudah satu di bidang akademisi, yang satu di bidang pengaplikasian pemrograman. Makanya saya merasa itu lebih stand out”.
Ujung tombak dari inovasi perangkat lunak mereka adalah Agentic AI. Teknologi ini, baik dalam sistem agen tunggal maupun multi-agen, dirancang untuk menjadi asisten cerdas manusia yang mampu melakukan tugas kompleks seperti analisis kompetitor hingga penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB) pembangunan. NEO-X juga memperkenalkan kelas unggulan Context Engineering untuk memastikan bahwa output AI yang dihasilkan akurat dan terhindar dari fenomena “halusinasi” data.
Ekosistem Bisnis dan Masa Depan NEO-X
Untuk mendukung visinya, NEO-X mengoperasikan empat model bisnis utama yang meliputi:
- Edukasi: Pelatihan dan bootcamp untuk individu serta organisasi.
- Produk Software: Penjualan aplikasi siap pakai seperti Warehouse Management System (WMS) dan CRM.
- Tailor-made Software: Pengembangan perangkat lunak sesuai kebutuhan spesifik klien.
- Konsultasi: Jasa implementasi perangkat lunak bebas.
Seluruh aktivitas ini dikelola di bawah NEO-X Corporation, yang membawahi divisi NEO-X School (edukasi), NEO-X Labs (riset dan proyek open source), serta NEO-X Publisher (penerbitan materi sistem terdistribusi).
Sebagai salah satu pendiri, Agung Hartanto menyadari bahwa jalan di depan masih penuh tantangan. Beliau mengungkapkan bahwa hal ini merupakan pembuktian besar bagi tim mereka di hadapan publik. “Memang jadi challenge saya sebagai founder karena memang harus membuktikan kepada publik,” pungkasnya. Dengan semangat kolaborasi untuk memerangi inkompetensi SDM, NEO-X berharap dapat memperkuat jejaring industri TI dan menjadi motor penggerak bagi kemajuan teknologi di Indonesia.***