Museum Pawukon Kwarakan di Desa Wisata Sidorejo Jadi Ruang Edukasi Pengetahuan Jawa

Bagikan :
GKR Bendara menjajal iluminasi naskah daluwang di Museum Pawukon Kwarakan di Desa Wisata Sidorejo, Kulon Progo. (IG @desawisatasidorejo)

KabarJawa.com – Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Museum ini menghadirkan pengetahuan penanggalan tradisional Jawa sebagai bagian dari wisata budaya dan edukasi yang dikembangkan di wilayah tersebut.

Keberadaan museum menjadi salah satu tujuan kunjungan wisata di Desa Wisata Sidorejo. Pengelola menghadirkan pemahaman tentang sistem pawukon yang digunakan masyarakat Jawa untuk membaca waktu dan siklus kehidupan melalui pendekatan pembelajaran budaya.

Museum Pawukon Kwarakan lahir dari upaya pelestarian Naskah Pawukon Kiai Jotirto. Naskah tersebut merupakan warisan milik warga Padukuhan Kwarakan, simbah Jotirto, yang selama puluhan tahun dijaga dan dirawat oleh keluarga serta masyarakat setempat.

Sistem Pawukon dan Fungsi Penanggalan Jawa

Naskah Pawukon Kiai Jotirto memuat sistem penanggalan tradisional Jawa yang terdiri dari 30 wuku. Setiap wuku memuat penjelasan mengenai siklus kehidupan, karakter manusia, arah rezeki, serta relasi manusia dengan alam dan lingkungan sekitarnya.

Melalui sistem tersebut, masyarakat Jawa pada masa lalu menentukan hari baik dan buruk, merencanakan aktivitas pertanian, hingga mengatur berbagai peristiwa dalam daur hidup manusia. Pawukon menjadi bagian dari tata pengetahuan yang terhubung dengan kosmologi Jawa.

Di Museum Pawukon Kwarakan, pengetahuan pawukon disajikan secara interaktif. Pengunjung dapat mempelajari pembacaan karakter berdasarkan hari kelahiran, memahami keterkaitan wuku dengan dewa-dewi, hewan simbolik, dan unsur alam, serta mengenal peracikan jamu yang disesuaikan dengan masing-masing wuku.

Baca juga  Cegah Wabah Sejak Dini, Pemkot Yogyakarta Perkuat Sistem Kewaspadaan Penyakit Menular (SKDR)

Pendekatan ini menjadikan museum sebagai ruang belajar budaya yang aktif. Informasi tidak hanya ditampilkan melalui koleksi, tetapi juga melalui kegiatan edukatif yang melibatkan pengunjung secara langsung.

Perkembangan Museum dan Koleksi Budaya

Museum Pawukon Kwarakan mulai beroperasi pada 1 September 2022 dengan nama Omah Wuku. Pada tahap berikutnya, pengelola memindahkan lokasi museum dan kembali membukanya untuk umum pada 18 Juni 2023.

Sejak dibuka kembali, museum ini mengembangkan berbagai aktivitas wisata budaya yang disesuaikan dengan kebutuhan pengunjung. Pengembangan dilakukan tanpa meninggalkan nilai dan tradisi yang menjadi dasar pendirian museum.

Koleksi museum meliputi berbagai artefak budaya, antara lain kalamudheng, lesung, jembangan air, lumpang batu, patung dewa-dewi, serta wayang. Setiap koleksi merepresentasikan relasi masyarakat Jawa dengan waktu, alam, dan spiritualitas.

Museum juga mengembangkan wisata budaya berbasis wellness. Pengunjung dapat mengikuti pembacaan karakter wuku, meracik jamu sesuai siklus kelahiran, menggurat daun lontar, serta melakukan iluminasi naskah daluwang.

Aktivitas tersebut menjadi bagian dari program wisata yang jarang ditemukan di destinasi lain. Seluruh kegiatan dirancang sebagai pengenalan praktik budaya yang masih relevan dan dapat dipelajari lintas generasi.

Baca juga  Harga Hewan Ternak Anjlok di Kulon Progo Akibat Isu PMK, Peternak Keluhkan Penurunan Permintaan

Peran Pemuda dan Kegiatan Budaya Rutin

Museum Pawukon Kwarakan menjalin kolaborasi dengan Sanggar Seni Watugunung. Setiap Sabtu pagi, sanggar ini menyelenggarakan Kelas Budaya yang terbuka untuk anak-anak hingga orang dewasa.

Selain itu, museum juga menggelar Macapatan Wuku pada malam hari. Kegiatan ini berupa pembacaan tembang Jawa yang berkaitan dengan makna dan karakter masing-masing wuku.

Di luar kegiatan rutin tersebut, pelestarian budaya juga melibatkan pemuda Desa Wisata Sidorejo. Para pemuda mengembangkan seni menggambar tokoh pewayangan di atas daun lontar, medium tulis yang digunakan masyarakat Jawa sebelum kertas dikenal luas.

Tradisi penggunaan daun lontar sebagai media tulis pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sidorejo. Praktik tersebut kini dihidupkan kembali melalui kegiatan seni yang dikelola oleh generasi muda desa.

“Ini adalah bentuk menghargai simbah kita yang dulu media tulisnya pakai lontar. Hal ini perlu dilestarikan. Kami juga memasukkan unsur wayang karena ingin melestarikannya agar dikenal lebih luas,” ujar Ridwan Rustam Aji, pengelola Desa Wisata Sidorejo.

Ridwan menjelaskan bahwa tokoh pewayangan yang digambar dipilih berdasarkan wuku wayang dalam sistem penanggalan pawukon. Pawukon berfungsi sebagai sistem penanggalan tradisional yang memiliki waktu terukur dan menjadi dasar berbagai aktivitas kehidupan masyarakat Jawa.

Baca juga  Kecelakaan Minibus Pengantar Paket dan Motor di Kulon Progo Akibat Hujan Deras

“Dalam naskah Pawukon terdapat gambar dan elemen yang menaungi setiap wuku wayang. Misalnya, Wuku Sinta dinaungi Dewa Yamadipati dengan burung gagak. Jumlahnya mencapai 30 wuku,” kata Ridwan.

Proses pembuatan karya seni lontar memerlukan waktu panjang. Para pemuda merendam daun lontar selama dua minggu, kemudian merebus dan memresnya hingga sekitar dua bulan sampai siap digunakan sebagai media gambar.

Setelah tahap persiapan selesai, proses menggambar dilakukan dengan membuat sketsa tokoh wayang dan mengguratnya menggunakan alat tradisional bernama penguprak. Tahap akhir dilakukan dengan pewarnaan menggunakan minyak kemiri.

Karya seni lontar tersebut juga memiliki nilai ekonomi. Para pemuda memasarkan hasil karya mereka kepada publik dengan harga yang disesuaikan dengan tingkat kerumitan. Harga satu karya dapat mencapai Rp1 juta atau lebih.

Museum Pawukon Kwarakan saat ini menjadi bagian dari pengembangan wisata edukasi dan budaya di Desa Wisata Sidorejo. Pengelola terus menjalankan kegiatan museum dan program budaya sebagai bagian dari upaya pelestarian pengetahuan tradisional Jawa.

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Lokasi Tilang Operasi Patuh Progo 2026 Jogja
Titik Lokasi Rawan Tilang di Jogja, Operasi Patuh Progo 2026: ETLE Sleman, Bantul dan Sekitarnya
Jadwal Ganjil Genap Puncak 26 April 2026
Jadwal Buka Tutup Puncak 26 April 2026, Berlaku One Way atau Ganjil Genap? Cek Estimasinya