Kabarjawa – Harga hewan ternak, khususnya sapi dan kambing, di Kulon Progo anjlok atau mengalami penurunan drastis akibat isu Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang masih merebak. Kondisi ini membawa dampak negatif bagi para petani dan peternak, yang kini mengeluhkan lesunya permintaan di pasar.
Harga Hewan Ternak Anjlok
Penurunan harga hewan ternak di Kulon Progo mulai terasa sejak satu setengah bulan terakhir. Surat, seorang pedagang hewan ternak di Pasar Hewan Pengasih, menyebutkan bahwa harga kambing jantan yang sebelumnya mencapai Rp 3 juta per ekor kini turun menjadi Rp 2,6 juta.
Hal serupa terjadi pada sapi, yang harganya turun dari Rp 20 juta menjadi Rp 16 juta per ekor. Lesunya penjualan semakin memperburuk situasi para peternak.
Dampak Penurunan Permintaan
Selain penurunan harga, permintaan hewan ternak di Pasar Hewan Pengasih juga menurun drastis. Situasi pasar yang biasanya ramai kini tampak sepi.
Para peternak berharap ada perhatian lebih dari pihak terkait untuk mengatasi masalah ini. “Kami berharap ada perhatian dari pihak terkait untuk masalah anjloknya harga ini,” ujar Surat.
Imbas pada Penjualan Lokal
Lurah Sukoreno di Kapanewon Sentolo, Olan Suparlan, juga merasakan dampak penurunan harga dan permintaan. Ia menyebutkan bahwa masyarakat kini lebih berhati-hati dalam membeli sapi, terutama dari luar daerah, seperti Gunungkidul.
Olan harus memastikan sapi yang dibeli bebas dari PMK dan dalam kondisi sehat.
Upaya Penanganan PMK
Menurut data dari Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kulon Progo, hingga 17 Januari 2025, terdapat 20 sapi yang terpapar PMK. Meski demikian, dua sapi telah sembuh dan tidak ada kematian yang dilaporkan. Kepala DPP Kulon Progo, Drajat Purbadi, menyatakan bahwa berbagai upaya dilakukan untuk menekan penyebaran PMK.
Selain penanganan terhadap sapi yang sakit, langkah pencegahan dan pengawasan juga diintensifkan. Para peternak diimbau untuk menunda pembelian hewan ternak dari luar daerah untuk sementara waktu.
Penurunan harga dan permintaan hewan ternak di Kulon Progo menjadi perhatian serius bagi para peternak dan pihak terkait. Isu PMK yang masih merebak memicu kekhawatiran dan perlunya langkah-langkah pencegahan yang lebih intensif.
Diharapkan, dengan upaya bersama, situasi ini dapat segera membaik dan kesejahteraan para peternak dapat terjaga.(Kabarjawa)