
KABARJAWA – Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang tinggi. Sejak Jumat (20/6/2025) hingga Sabtu dini hari (21/6/2025), Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat puluhan kali guguran lava pijar dari puncak Merapi.
Petugas BPPTKG melaporkan bahwa sepanjang periode pengamatan Jumat, pukul 00.00 hingga 24.00 WIB, Gunung Merapi mengalami 96 kali gempa guguran.
Aktivitas Merapi
Data kegempaan mencatat amplitudo berkisar antara 2 hingga 31 mm, dengan durasi gempa berlangsung selama 56,92 hingga 166,69 detik. Selain itu, tercatat pula 112 kali gempa hybrid/fase banyak, yang menunjukkan suplai magma masih aktif di dalam tubuh gunung.
BPPTKG menyampaikan bahwa mereka mengamati 19 kali guguran lava pijar yang meluncur ke arah barat daya. Lava tersebut meluncur menuju hulu Kali Bebeng, Kali Krasak, dan Kali Sat/Putih, dengan jarak luncur maksimum mencapai 1.900 meter dari puncak.
Tim pemantau dari BPPTKG juga melaporkan kondisi visual Merapi yang jelas, meskipun sempat tertutup kabut dalam level 0 hingga III.
Mereka mengamati asap kawah bertekanan lemah yang berwarna putih, dengan intensitas tebal dan tinggi mencapai 25 meter di atas puncak.
Suhu udara di sekitar puncak tercatat antara 17,4 hingga 23,8 derajat Celsius, dengan kelembaban yang sangat tinggi mencapai 99,9 persen.
BPPTKG melanjutkan pemantauan pada Sabtu (21/6/2025) mulai pukul 00.00 hingga 06.00 WIB. Mereka mencatat bahwa Merapi masih terus menunjukkan aktivitas kegempaan dengan 18 kali gempa guguran dan 28 kali gempa hybrid.
Amplitudo gempa guguran tercatat antara 3 hingga 9 mm, dengan durasi terpanjang mencapai 165,29 detik. Dalam periode ini, petugas juga mengamati tiga kali guguran lava pijar yang kembali mengarah ke Kali Sat/Putih dan Kali Bebeng, dengan jarak luncur maksimum sejauh 1.600 meter.
Visual gunung tampak jelas pada dinihari tersebut. Asap kawah tetap bertekanan lemah, berwarna putih, tapi intensitasnya sedang dan mencapai ketinggian 450 meter di atas puncak kawah.
Suhu udara tercatat sedikit lebih rendah, berkisar 16,5 hingga 19 derajat Celsius, dengan tekanan udara mencapai 917,6 mmHg.
Status Merapi
BPPTKG menegaskan bahwa aktivitas Gunung Merapi masih berada di Level III (Siaga). Mereka menyebutkan bahwa potensi bahaya saat ini masih berupa guguran lava dan awan panas guguran (APG), terutama pada sektor selatan-barat daya.
Potensi guguran lava dapat menjangkau Sungai Boyong sejauh 5 km, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 km. Pada sektor tenggara, potensi luncuran bisa mencapai Sungai Woro sejauh 3 km dan Sungai Gendol hingga 5 km.
Tim pemantau menyatakan bahwa suplai magma masih berlangsung aktif di tubuh Merapi, yang berisiko memicu awan panas guguran mendadak dalam zona bahaya.
Oleh karena itu, mereka melarang keras segala aktivitas masyarakat di daerah-daerah yang telah ditetapkan sebagai zona merah tersebut.
BPPTKG juga mengimbau masyarakat untuk terus mewaspadai potensi bahaya sekunder seperti lahar hujan. Jika hujan turun di sekitar puncak Merapi, aliran air berisiko membawa material vulkanik panas ke wilayah yang lebih rendah.
Selain itu, masyarakat juga diminta bersiap menghadapi gangguan akibat sebaran abu vulkanik, terutama bagi wilayah yang berada dalam radius 3 km dari puncak.
Jika Merapi menunjukkan perubahan aktivitas yang signifikan, BPPTKG berkomitmen akan segera mengevaluasi kembali tingkat aktivitas gunung tersebut.
Mereka meminta masyarakat tetap tenang, mengikuti informasi resmi, dan tidak mudah terpancing hoaks yang menyebar di media sosial.
Gunung Merapi kembali menunjukkan perilaku aktif yang cukup signifikan dalam dua hari terakhir. Puluhan kali guguran lava pijar yang terjadi dari Jumat hingga Sabtu dini hari menguatkan sinyal bahwa aktivitas vulkanik di gunung ini belum mereda. (ef linangkung)