
KabarJawa.com — Peringatan perdana Hari Kebudayaan Nasional (HKN) 2025 digelar di halaman Benteng Vredeburg, Yogyakarta. Acara yang diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia ini menjadi momentum baru dalam upaya memperkuat kesadaran kebudayaan nasional.
Dengan tema “Beragam Budaya Bersatu Jiwa untuk Indonesia,” kegiatan ini menghadirkan berbagai penampilan seni, mulai dari gamelan, tarian klasik, hingga doa lintas budaya.
Peringatan HKN menjadi simbol kebersamaan sekaligus penghormatan terhadap nilai-nilai tradisi yang membentuk jati diri bangsa.
Fadli Zon: Budaya Perekat Bangsa dan Penuntun Masa Depan
Dalam sambutannya, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc., menekankan bahwa Hari Kebudayaan Nasional bukan hanya kegiatan seremonial.
Ia menyebut peringatan ini sebagai refleksi mendalam bagi masyarakat untuk memahami makna budaya sebagai roh bangsa dan sumber kebijaksanaan.
“Melalui Hari Kebudayaan Nasional, kita tidak hanya merayakan keberagaman ekspresi budaya dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Rote, tetapi juga merayakan kesadaran bersama bahwa budaya adalah perekat bangsa. Budaya menyatukan perbedaan dan mengarahkan kita menuju masa depan yang beradab,” ujar Fadli Zon.
Peringatan ini, menurut Fadli, juga diharapkan menjadi sarana memperkuat rasa memiliki terhadap budaya bangsa sekaligus pengingat akan pentingnya pelestarian nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur.
Sumbu Filosofi dan Apresiasi kepada Sri Sultan HB X
Dalam kesempatan tersebut, Fadli Zon menyampaikan kekagumannya terhadap Sumbu Filosofi Yogyakarta, atau Sumbu Kosmologis Yogyakarta, yang telah ditetapkan sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO pada 18 September 2025.
Ia menilai pengakuan ini membuktikan bahwa kebudayaan Nusantara memiliki nilai universal yang diakui dunia.
“Malam ini kita berdiri di atas garis sakral Sumbu Filosofi Yogyakarta—sebuah garis yang membentang dari Gunung Merapi di utara, melintasi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat di tengah, hingga Laut Selatan di selatan. Garis ini bukan sekadar peta, melainkan cerminan filosofi Sangkan Paraning Dumadi, Hamemayu Hayuning Bawana, dan Manunggaling Kawula Gusti,” kata Fadli.
Fadli juga menilai Yogyakarta memegang peran penting dalam menjaga keseimbangan antara alam, manusia, dan Tuhan, yang menjadi fondasi utama kebudayaan Indonesia.
Selain itu, ia menyampaikan penghormatan kepada Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X atas dedikasinya dalam menjaga warisan budaya Jawa.
“Berkat bimbingan beliau, Yogyakarta tidak hanya menjadi benteng peradaban Jawa, tetapi juga mercusuar kebudayaan dunia dan penjaga memori kolektif bangsa,” tutur Fadli Zon.
Penetapan 17 Oktober sebagai Hari Kebudayaan Nasional menjadi tonggak sejarah bagi bangsa Indonesia. Momentum ini menegaskan posisi kebudayaan sebagai salah satu pilar pembangunan nasional di samping politik, ekonomi, dan pendidikan.