Mengenal Plengkung Gading: Ikon Sejarah dan Filosofi di Keraton Jogja

Bagikan :
Mengenal Plengkung Gading, bangunan bersejarah di Yogyakarta (Instagram.com/@dededwi.id)

Kabarjawa – Baru-baru ini, Plengkung Gading yang ada di sekitar Kawasan Keraton Yogyakarta banyak diperbincangkan oleh masyarakat khususnya di Yogyakarta.

Pasalya, beredar wacana terkait penutupan Plengkung Gading yang ada di sebelah selatan Alun-alun Kidul (Alkid).

Wacana Penutupan Plengkung Gading

Wacana penutupan Plengkung Gading tersebut telah dikkonfirmasi kebenarannya oleh pihak Keraton Yogyakarta dengan alasan bahwa Plengkung Gading merupakan bagian dari Sumbu Filosofi.

Selama ini, Plengkung Gading memang bebas untuk dilewati oleh masyarakat umum dan menjadi jalan alternatif untuk menuju ke Alun-alun Kidul dari arah selatan.

Beredarnya wacana penutupan Plengkung Gading pun menimbulkan pro dan kontra di masyarakat sejak pertama kali berita tersebut beredar.

Apa Itu Plengkung Gading?

Plengkung Gading adalah salah satu gerbang utama dari lima gerbang Benteng Baluwerti yang mengelilingi Keraton Yogyakarta.

Letaknya berada di sisi selatan Keraton, menjadikannya pintu keluar yang strategis dan simbolis. Bangunan ini memiliki bentuk melengkung khas arsitektur tradisional Jawa, sehingga disebut “plengkung” atau lengkungan.

Selain menjadi akses masuk ke area dalam benteng (jeron benteng), Plengkung Gading juga memiliki nilai sejarah dan budaya yang erat kaitannya dengan tata ruang dan filosofi Keraton Yogyakarta.

Baca juga  Jejak Tradisi Mitoni dan Eksistensinya di Tengah Gempuran Modernisasi

Plengkung Gading dalam Sumbu Filosofi Yogyakarta

Sumbu Filosofi Yogyakarta adalah garis imajiner yang membentang dari Panggung Krapyak di selatan hingga Tugu Pal Putih di utara, melewati Keraton sebagai pusatnya. Garis ini melambangkan hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama.

Plengkung Gading menjadi salah satu bagian penting dalam struktur ini, menghubungkan wilayah selatan dengan area inti Keraton.

Simboliknya, wilayah selatan sering diasosiasikan dengan dunia manusia dan ujian kehidupan, sehingga gerbang ini melambangkan perjalanan spiritual menuju kesempurnaan.

Sejarah dan Fungsi Plengkung Gading

Plengkung Gading, bersama empat gerbang lainnya (Plengkung Tarunasura, Nirbaya, Jaga Surya, dan Madyasura), dibangun sebagai bagian dari pertahanan Benteng Baluwerti.

Selain itu, gerbang ini memiliki fungsi seremonial, seperti mengiringi prosesi adat kerajaan dan acara penting lainnya.

Nama “Gading” sendiri merujuk pada warna putih gading yang mendominasi bangunan ini, melambangkan kesucian dan kemuliaan.

Hingga saat ini, Plengkung Gading menjadi saksi bisu berbagai peristiwa bersejarah di Yogyakarta, termasuk perkembangan budaya dan tradisi masyarakat.

Baca juga  Arti Unggah-ungguh: Tata Krama Jawa yang Sarat Nilai Kehidupan

Daya Tarik Plengkung Gading

Selain nilai sejarahnya, Plengkung Gading juga menjadi daya tarik wisata. Berada dekat dengan Alun-Alun Kidul, kawasan ini sering menjadi tempat favorit bagi wisatawan dan warga lokal untuk menikmati suasana malam Yogyakarta.

Pedagang kuliner, permainan tradisional, hingga hiburan keluarga kerap menghiasi area ini, menambah pesona Plengkung Gading sebagai destinasi wisata budaya.

Pelestarian Plengkung Gading

Sebagai bagian dari warisan budaya Yogyakarta, Plengkung Gading terus dijaga keasliannya. Rencana penataan kawasan ini oleh Keraton Yogyakarta bertujuan untuk melestarikan nilai filosofisnya, sekaligus menjaga keseimbangan antara fungsi budaya dan aktivitas masyarakat.

Plengkung Gading adalah lebih dari sekadar gerbang; ia merupakan simbol filosofi, sejarah, dan kebudayaan Yogyakarta yang kaya.

Keberadaannya menjadi pengingat akan pentingnya harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas dalam kehidupan sehari-hari.

Jika Anda berkunjung ke Yogyakarta, jangan lupa untuk menikmati keindahan dan nilai historis dari Plengkung Gading, sebuah ikon yang merepresentasikan jiwa kota budaya ini.

***

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Kesalahan Penulisan Aksara Jawa di Kantor Disdikbud Jateng Jadi Sorotan, Begini Fakta dan Evaluasinya
Mengenal Aksara Swara (A, I, U, E, O): Pengertian, Ciri-ciri dan Fungsinya
Lokasi Tilang Operasi Patuh Progo 2026 Jogja
Titik Lokasi Rawan Tilang di Jogja, Operasi Patuh Progo 2026: ETLE Sleman, Bantul dan Sekitarnya