
KabarJawa.com– Di balik nama RSUD Nyi Ageng Serang Kulon Progo, sejarah panjang tentang keberanian, pengorbanan, dan keteguhan seorang perempuan Jawa tersimpan rapi.
Nama itu tidak sekadar menjadi identitas fasilitas kesehatan, tetapi juga menjadi pengingat akan sosok pejuang perempuan yang berdiri tegak di tengah kobaran Perang Jawa melawan penjajahan Belanda.
Nyi Ageng Serang merupakan tokoh perempuan yang memainkan peran penting dalam sejarah perlawanan Nusantara. Pemerintah Kabupaten Kulon Progo mengabadikan namanya sebagai bentuk penghormatan atas jasa besar yang ia torehkan bagi bangsa dan kemanusiaan.
Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Kulon Progo, Joko Mursito, S.Sn., M.A., menegaskan bahwa penamaan RSUD ini bukanlah keputusan simbolik semata.
Ia menyebutkan bahwa nilai perjuangan, keteladanan, dan kemanusiaan warisan pahlawan wanita ini sejalan dengan spirit pelayanan publik, khususnya di bidang kesehatan.
Perjuangan Nyi Ageng Serang
Ia lahir dengan nama Kustiah Wulaningsih Retno Edi. Ia merupakan putri dari Pangeran Panembahan Rangga Nataprodjo, seorang bangsawan Jawa yang memiliki pengaruh besar pada masanya.
Kehidupan istana tidak membuatnya terkungkung oleh kemewahan semata. Sejak muda, ia menunjukkan keteguhan watak dan keberanian dalam bersikap.
Ia pernah menjadi istri Sri Sultan Hamengku Buwana II. Namun, sang sultan dengan kebesaran jiwa mengizinkannya menentukan jalan hidup sendiri. Keputusan itu membuka babak baru dalam kehidupan Kustiah Wulaningsih Retno Edi.
Ia kemudian menikah dengan Pangeran Kusuma Widjaja yang bergelar Pangeran Serang. Dari pernikahan itu, ia melahirkan seorang putri bernama Kustina.
Sejak saat itulah masyarakat lebih mengenalnya dengan sebutan Nyi Ageng Serang, sebuah nama yang kelak menggema dalam sejarah perjuangan Jawa.
“Garis keturunan Nyi Ageng Serang tidak hanya melahirkan pejuang perang, tetapi juga tokoh pergerakan intelektual bangsa. Putri Nyi Ageng Serang kemudian menikah dengan Pangeran Mangkudiningrat, menantu Hamengku Buwana II,” terangnya.
Dari garis keturunan inilah lahir tokoh-tokoh besar seperti Romo Budi Utomo dan Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional.
Sejarah ini menegaskan bahwa perjuanganny tidak hanya hadir dalam bentuk senjata, tetapi juga mengalir dalam pemikiran dan pendidikan bangsa Indonesia.
Pada 19 Juli 1825, Perang Jawa meletus. Api perlawanan terhadap Belanda berkobar di berbagai wilayah. Pangeran Diponegoro dan Pangeran Mangkubumi mengirimkan kurir ke Serang untuk menemui Nyi Ageng Serang. Mereka meminta bantuan dalam perang terbuka melawan penjajah.
Saat panggilan itu datang, ia telah kehilangan suami dan putri tercintanya. Kesedihan mendalam tidak melumpuhkan jiwanya. Ia justru bangkit dan memilih berdiri di garis depan perjuangan.
Ia menerima amanah besar untuk membela dan mempertahankan panji-panji gula kelapa, yang dikenal sebagai Sang Saka Merah Putih, simbol perlawanan dan harga diri bangsa. Tugas itu ia emban dengan sepenuh jiwa, meskipun usia dan luka batin terus mengiringi langkahnya.
Selendang Pusaka di Medan Perang
Ia dan Pangeran Diponegoro menyepakati pertemuan rahasia di wilayah Prambanan. Pasukan dari Yogyakarta dan Serang menempuh perjalanan panjang yang sarat ancaman. Di medan pertempuran, ia tidak pernah sendiri.
Ia selalu didampingi cucunya, R.M. Papak, yang kelak dikenal sebagai G.P.A.A. Notoprodjo I. Dalam setiap pertempuran, ia mengenakan selendang pusaka.
Ia mengaitkan selendang pada tombak bersama bendera Merah Putih. Selendang itu menjadi simbol keberanian, harapan, dan tekad yang tidak pernah padam.
Meski telah berusia lanjut, ia tetap berdiri tegak di tengah dentuman perang. Ia menunjukkan bahwa perjuangan tidak mengenal usia dan bahwa cinta pada tanah air mampu mengalahkan rasa takut.
Nyi Ageng Serang mencapai usia 76 tahun. Ia wafat pada 1838 di Notoprajan, Yogyakarta. Sebelum mengembuskan napas terakhir, ia menyampaikan keinginan sederhana.
Ia meminta agar masyarakat memakamkannya di Beku, Kalurahan Banjarharjo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo.
Permintaan itu mencerminkan kerendahan hati seorang pejuang besar yang tidak mengejar kemegahan, tetapi memilih kembali ke tanah yang ia cintai.
Menurut Joko Mursito, semangatnya mencerminkan nilai kemanusiaan yang relevan hingga hari ini. Ia menilai bahwa penamaan RSUD Nyi Ageng Serang menjadi pengingat bahwa pelayanan kesehatan harus berangkat dari empati, pengabdian, dan keberanian melayani sesama tanpa pamrih.
Kini, namanya tidak hanya tercatat dalam buku sejarah. Namanya hidup di tengah masyarakat Kulon Progo melalui rumah sakit daerah yang melayani ribuan warga setiap hari. Di ruang-ruang perawatan, semangat kemanusiaan yang ia wariskan terus berdenyut.
RSUD Nyi Ageng Serang menjadi simbol bahwa perjuangan tidak selalu berlangsung di medan perang. Perjuangan juga hadir dalam merawat kehidupan, menyembuhkan luka, dan menjaga martabat manusia. (ef linangkung)