Mengenal Apem Beras, Jajanan Tradisional Jawa Sarat Makna Filosofis dan Jejak Sejarah

Bagikan :
Apem beras yang dimasak menggunakan tungku arang di Pasar Ngasem, Yogyakarta. (Eln)

 

KabarJawa.com – Aroma manis bercampur gurih perlahan menyeruak dari tungku arang di sudut pasar tradisional. Asap tipis menari di udara, membawa ingatan pada masa lalu ketika masyarakat Jawa menjadikan makanan bukan sekadar pengganjal lapar, melainkan simbol doa dan harapan.

ari sanalah apem beras hadir, jajanan tradisional legendaris yang terus bertahan melintasi zaman dengan makna filosofis yang mendalam.

Apem beras merupakan salah satu kuliner tradisional Jawa yang telah dikenal sejak ratusan tahun lalu. Masyarakat mewariskan makanan ini dari generasi ke generasi, bukan hanya sebagai hidangan, tetapi juga sebagai bagian dari ritual adat dan keagamaan.

Hingga kini, apem beras tetap hidup di tengah modernisasi, khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta yang dikenal sebagai penjaga tradisi.

Peran Apem Beras dalam Tradisi Keraton dan Masyarakat

Di Yogyakarta, apem beras memegang peran penting dalam berbagai tradisi sakral. Keraton Yogyakarta secara konsisten menghadirkan apem dalam tradisi Ngapem, sebuah ritual tahunan yang menjadi bagian dari rangkaian Tingalan Jumenengan Dalem atau peringatan naik takhta Sultan.

Baca juga  Ragam Kuliner Khas Keraton Surakarta: Apa Saja Menu Ikoniknya?

Dalam prosesi tersebut, abdi dalem menyiapkan ribuan apem yang kemudian dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol permohonan ampun dan keberkahan.

Selain itu, masyarakat Jawa juga mengenal tradisi Ruwahan Apem yang digelar menjelang bulan Ramadan. Warga secara gotong royong membuat dan membagikan apem kepada tetangga dan kerabat sebagai wujud doa bagi leluhur serta persiapan menyambut bulan suci.

Tradisi ini menegaskan posisi apem sebagai media spiritual sekaligus perekat sosial dalam kehidupan masyarakat.

Makna apem beras semakin kuat jika ditelusuri dari asal katanya. Kata “apem” diyakini berasal dari bahasa Arab, yaitu afuum atau affuwun yang berarti ampunan. Masyarakat Jawa mengadopsi istilah tersebut sebagai simbol permohonan ampun kepada Tuhan.

Filosofi inilah yang membuat apem selalu hadir dalam berbagai upacara adat, mulai dari syukuran, mitoni, khitanan, pernikahan, hingga ritual kematian.

Apem Beras sebagai Warisan Kuliner yang Terjaga

Meski sarat makna spiritual, apem beras tetap membumi sebagai jajanan rakyat. Hingga kini, makanan ini masih mudah ditemukan di pasar-pasar tradisional Yogyakarta.

Baca juga  Prosesi Sakral Ngarak Siwur dan Nguras Enceh, Ribuan Peziarah Berburu Berkah di Makam Raja-Raja Imogiri

Salah satu lokasi yang dikenal sebagai sentra apem beras ialah Pasar Ngasem, pasar legendaris yang kini juga menjadi destinasi wisata kuliner.

Di kawasan ini, Apem Beras Bu Wanti menjadi salah satu usaha yang konsisten menjaga cita rasa tradisional. Usaha yang berdiri sejak era 1990-an ini kini dikelola generasi kedua oleh pasangan Ade Purwantiningsih dan Doni.

Keduanya mempertahankan cara produksi menggunakan tungku berbahan bakar arang karena diyakini memberikan aroma khas dan tekstur yang lebih lembut.

Adonan apem beras yang berasal dari beras pilihan, santan, dan gula dimasak perlahan hingga menghasilkan rasa manis dan gurih yang seimbang. Setiap proses dikerjakan dengan ketelatenan, menjaga kualitas rasa yang telah dikenal pelanggan selama puluhan tahun.

Meski memiliki nilai budaya dan filosofi tinggi, apem beras tetap dijual dengan harga terjangkau. Satu buah apem beras di Pasar Ngasem dibanderol sekitar Rp4.000. Harga tersebut menjadikannya kuliner yang dapat dinikmati berbagai kalangan.

Keberadaan apem beras hari ini bukan sekadar cerita tentang makanan, melainkan juga tentang warisan budaya. Di tengah gempuran kuliner modern, apem beras tetap bertahan, mengingatkan bahwa rasa, makna, dan sejarah dapat menyatu dalam satu sajian sederhana.

Baca juga  Atap Masjid Nida’ul Jannah Kulon Progo Amblong Diduga Kena Kentut Pesawat, Pengelola YIA Buka Suara

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Lokasi Tilang Operasi Patuh Progo 2026 Jogja
Titik Lokasi Rawan Tilang di Jogja, Operasi Patuh Progo 2026: ETLE Sleman, Bantul dan Sekitarnya
Jadwal Ganjil Genap Puncak 26 April 2026
Jadwal Buka Tutup Puncak 26 April 2026, Berlaku One Way atau Ganjil Genap? Cek Estimasinya