
KabarJawa.com – Memasuki musim libur Lebaran, sejumlah destinasi wisata di Indonesia mulai dipenuhi pengunjung. Salah satu yang menjadi magnet utama wisatawan adalah Pantai Parangtritis.
Pantai ini dikenal dengan panorama alamnya yang khas, terutama ombak besar khas selatan Pulau Jawa.
Lonjakan jumlah wisatawan diperkirakan terjadi setiap periode libur panjang. Namun, di balik keindahan lanskapnya, Parangtritis juga menyimpan sebuah kepercayaan yang sudah lama dikenal masyarakat, yaitu larangan mengenakan pakaian berwarna hijau saat berada di kawasan pantai.
Untuk itu, berdasarkan informasi yang dihimpun KabarJawa.com, berikuta adalah penjelasan lengkap mengenai kenapa ada larangan memakai baju hijau di Pantai Parangtritis.
Kepercayaan Lokal dan Sosok Kanjeng Ratu Kidul
Melansir laman resmi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), diketahui bahwa pembahasan mengenai Parangtritis tidak bisa dilepaskan dari sosok Kanjeng Ratu Kidul.
Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, Kanjeng Ratu Kidul diyakini sebagai penguasa spiritual Samudra Hindia. Warna hijau disebut sebagai warna kebesarannya.
Oleh karena itu, mengenakan pakaian berwarna hijau di pantai ini dianggap sebagai tindakan yang dapat menarik perhatian sang ratu.
Kepercayaan ini telah berkembang menjadi bagian dari tradisi dan penghormatan masyarakat setempat. Hubungan antara Keraton Yogyakarta dan Laut Selatan bahkan terjalin dalam berbagai ritual budaya, seperti upacara Labuhan, yang diyakini sebagai simbol komunikasi antara dunia manusia dan dunia gaib.
Penjelasan Ilmiah di Balik Larangan Baju Hijau
Di sisi lain, larangan memakai baju hijau juga memiliki penjelasan rasional yang berkaitan dengan faktor keselamatan di laut. Fenomena ini dapat dijelaskan melalui beberapa aspek ilmiah, antara lain:
Kamuflase dengan Warna Air Laut
Air laut di wilayah Samudra Hindia memiliki gradasi warna yang cenderung biru hingga kehijauan.
Kondisi ini membuat pakaian berwarna hijau mudah menyatu dengan lingkungan sekitar. Akibatnya, seseorang yang berada di dalam air akan sulit terlihat dari kejauhan.
Pengaruh Refraksi Cahaya
Dalam kondisi air yang keruh dan bergelombang, warna hijau menjadi salah satu warna yang cepat kehilangan kontras. Hal ini menyulitkan proses pencarian korban, terutama dalam situasi darurat.
Efektivitas Proses Evakuasi
Dalam kondisi darurat seperti tenggelam, kecepatan penyelamatan sangat menentukan.
Warna-warna mencolok seperti merah, oranye, atau kuning lebih mudah terlihat oleh tim penyelamat dibandingkan warna hijau yang cenderung menyatu dengan laut.
Fenomena Arus Pecah yang Mematikan
Selain faktor warna, bahaya utama di Parangtritis sebenarnya berasal dari fenomena alam yang dikenal sebagai Rip Current atau arus pecah.
Arus ini merupakan aliran air kuat yang bergerak dari tepi pantai menuju laut lepas. Kecepatannya dapat mencapai hingga 2,5 meter per detik, menjadikannya sangat berbahaya bahkan bagi perenang berpengalaman.
Data dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika menunjukkan bahwa arus pecah menjadi salah satu penyebab utama kecelakaan laut di kawasan ini.
Selain itu, struktur dasar laut Parangtritis yang memiliki palung tersembunyi turut memperbesar potensi munculnya arus berbahaya di berbagai titik.
Perspektif Psikologi Warna dalam Keselamatan
Disebutkan pula bahwa selain faktor budaya dan sains, larangan mengenakan baju hijau juga dapat dilihat dari sudut pandang psikologi warna. Dalam budaya Jawa, warna hijau identik dengan kesuburan dan ketenangan.
Secara tidak langsung, warna ini dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang sehingga merasa lebih nyaman dan kurang waspada terhadap potensi bahaya di sekitarnya.
Larangan tersebut kemudian berfungsi sebagai batasan psikologis yang mendorong wisatawan untuk lebih berhati-hati saat berada di kawasan pantai.
Cara aAman Wisata ke Pantai Parangtritis
Meskipun memiliki berbagai mitos dan potensi bahaya alam, Parangtritis tetap menjadi destinasi wisata yang menarik untuk dikunjungi. Masih berdasarkan sumber yang sama, berikut beberapa hal yang dapat diperhatikan saat berwisata ke Pantai Parangtritis:
Datang di Waktu Terbaik
Waktu yang disarankan untuk berkunjung adalah sekitar pukul 16.30 WIB saat cahaya matahari mulai meredup dan menciptakan pemandangan senja yang indah.
Jangan Lupa Nikmati Kuliner Khas
Kemudian, wisatawan dapat mencoba jagung bakar atau es kelapa muda sambil menikmati suasana pantai.
Memanfaatkan Transportasi Wisata
Menyusuri garis pantai dapat dilakukan dengan menyewa bendi atau Jeep wisata untuk pengalaman yang lebih nyaman sekaligus mendukung ekonomi lokal.
Nah, demikian tadi penjelasan mengenai larangan baju hijau di Pantai Parangtritis lengkap dengan seluk-beluk mengenainya.***