
KABARJAWA – Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menggelar Forum Pengelola Gunung Sewu UNESCO Global Geopark (UGGp) di Hotel Santika Gunungkidul, Rabu (16/7/2025).
Forum ini menjadi panggung penting bagi Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, untuk mengingatkan seluruh pemangku kepentingan akan ancaman serius jika koordinasi antar wilayah tidak segera diperbaiki.
Bupati menatap serius para peserta forum. Ia menyampaikan bahwa kawasan karst Gunung Sewu merupakan anugerah luar biasa bagi Indonesia dan dunia.
Status Gunung Sewu UNESCO Global Geopark
Status sebagai UNESCO Global Geopark sejak 2015 bukan sekadar prestasi, melainkan tanggung jawab besar yang harus dijaga bersama.
“Geopark bukan sekadar status. Ia adalah ruang hidup, ruang edukasi, ruang konservasi, dan juga ruang ekonomi masyarakat,” tegas Endah.
Endah menilai koordinasi antar tiga provinsi – Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur – serta tiga kabupaten – Gunungkidul, Wonogiri, dan Pacitan – belum berjalan optimal. Ia mengungkapkan kekecewaannya atas lemahnya komunikasi lintas wilayah.
“Selama ini kelemahan kita adalah kurangnya koordinasi dan sinkronisasi antar daerah. Padahal kawasan ini adalah warisan dunia. Maka perlu ada komitmen bersama untuk menata dengan baik,” ujarnya.
Endah menegaskan bahwa pembangunan tak terkendali di kawasan geopark menjadi ancaman nyata. Ia menyoroti lemahnya regulasi tata ruang yang membuka peluang maraknya pembangunan liar tanpa izin.
“Kita harus memperbaiki ini. Harapannya, kita bisa menjaga kelestarian alam, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tandas Endah.
Dalam forum tersebut, Endah menginstruksikan seluruh pihak menyusun masterplan pengelolaan geopark yang inklusif.
Ia meminta Badan Pengelola Gunung Sewu UGGp memperkuat pelatihan SDM, terutama dalam kemampuan berbahasa Inggris, agar masyarakat mampu melayani wisatawan mancanegara secara profesional.
“Geopark Gunung Sewu ini memiliki potensi menjadi ruang edukasi dan penelitian geologi kelas dunia. Jangan hanya promosi sesaat untuk wisata, tetapi bangun juga literasi masyarakat,” tegasnya.
Bupati juga mengingatkan bahwa status geopark telah mendatangkan manfaat, seperti meningkatnya kunjungan wisatawan ke geosite, goa-goa, dan pantai-pantai eksotis di Gunung Sewu.
Namun, ia menegaskan bahwa manfaat tersebut belum maksimal jika pengelolaan kawasan masih terfragmentasi.
“Jika kita tidak segera menyatukan visi dan langkah, kita akan kehilangan kepercayaan dunia,” imbuhnya.
Forum tersebut juga dihadiri Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Gunungkidul, Arif Aldian.
Rekomendasi UNESCO
Arif memaparkan bahwa pada Revalidasi II UNESCO tahun 2023 lalu, Gunung Sewu UGGp berhasil mempertahankan status green card hingga 2027. Namun, ia menyebutkan terdapat sejumlah rekomendasi penting dari UNESCO yang harus segera ditindaklanjuti.
UNESCO meminta penggabungan kawasan maritim ke wilayah geopark, peningkatan visibilitas kawasan dengan fasilitas informasi berbahasa asing, pelatihan pemandu geowisata yang berkualitas, serta program pembangunan berkelanjutan selaras agenda global.
Selain itu, UNESCO mendorong kemitraan dengan standar kualitas yang jelas dan peningkatan keterlibatan Gunung Sewu dalam jaringan Asia Pasifik dan global.
“Keberhasilan mempertahankan green card memang kabar baik. Namun ini baru awal dari perjalanan panjang menuju revalidasi 2027. Kita butuh kerja bersama dan komitmen nyata dari seluruh pihak,” ujar Arif.
Selama setahun terakhir, Badan Pengelola Gunung Sewu UGGp telah melaksanakan sejumlah program strategis.
- Konferensi geopark regional dan global
- Edukasi sekolah melalui program Geopark Goes to School
- Pelatihan pemandu wisata berbasis masyarakat
- Event lintas daerah
- Pembangunan dan perbaikan papan informasi serta fasilitas edukasi di geosite
Badan Pengelola Gunung Sewu UGGp mempromosikan kawasan dengan mengikuti berbagai pameran nasional dan internasional, termasuk Indonesia Geopark Fair dan Asia Pacific Geopark Network Conference.
Ke depan, program prioritas mereka meliputi pembangunan pusat informasi Gunung Sewu, mendorong materi geopark masuk kurikulum pendidikan, sertifikasi geoguide dan UMKM geoproduk, serta penyusunan rencana aksi lintas wilayah terintegrasi dalam dokumen perencanaan daerah masing-masing. (ef linangkung)