
KABARJAWA – Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, mengambil langkah mengejutkan. Ia menginap di puncak tertinggi Gunungkidul, Embung Bethara Sriten, Sabtu, 12 Juli 2025 malam.
Ia tidak hanya menikmati udara segar 887 meter di atas permukaan laut, tetapi juga memikirkan masa depan pariwisata wilayah utara yang selama ini kalah pamor dari kawasan selatan.
Endah Subekti menyebut dirinya bersama panewu, lurah, dan sejumlah komunitas sengaja mengidentifikasi potensi wisata utara. Mereka menggelar camping di samping Petilasan Syech Wali Jati, lokasi religi yang menyimpan sejarah penting, demi menyusun strategi menyambut dibukanya exit tol Jogja–Solo di wilayah tersebut.
Endah mengatakan, ia ingin memastikan keadilan pembangunan. Ia menegaskan wilayah utara harus mendapat porsi yang sama dengan wilayah selatan Gunungkidul.
“Saya ingin menangkap peluang exit tol ini agar utara mendapat keadilan sama dengan selatan,” tegas Endah.
Endah menuturkan, ia bersama rombongan mengidentifikasi destinasi wisata utara dari barat hingga timur. Ia menyebut beberapa lokasi, seperti Gunung Nglanggeran, Gunung Gambar, dan Embung Bethara Sriten.
Menurutnya, Embung Bethara Sriten memiliki keunggulan luar biasa. Embung ini berdiri di atas tanah Sultan Ground seluas 18 hingga 20 hektare. Fasilitasnya sudah lengkap, termasuk trek paralayang, joglo, dan bio membran yang terawat baik.
“Kita harus berpikir bagaimana Embung Bethara Sriten ini menjadi tujuan wisata terkemuka Gunungkidul. Tempat ini sangat indah, tidak kalah dengan destinasi lain di luar Gunungkidul,” katanya penuh semangat.

Dorong Glamping dan Pelestarian Sejarah
Endah bahkan menggagas konsep glamour camping atau glamping. Ia menyebut wisatawan tak perlu repot membawa tenda, kasur, atau perlengkapan camping. Pokdarwis bisa menyiapkan semuanya. “Orang tinggal telepon, pesan tenda, sound system, makanan, kasur, semua siap. Itu akan meningkatkan ekonomi masyarakat,” katanya.
Ia mengungkapkan, malam itu ia mendiskusikan banyak hal bersama komunitas Ninja dan pengelola wisata. Mereka menggodok ide dan gagasan agar Embung Bethara Sriten makin terkenal dan lestari. Endah juga menggarisbawahi pentingnya menjaga kelestarian alam.
“Gunungkidul harus lestari. Kita semua harus menjaga bersama,” tegasnya.
Tak hanya potensi wisata alam, Endah juga menekankan pentingnya wisata religi. Ia menyebut Gunungkidul utara menyimpan banyak petilasan sejarah seperti Petilasan Bethoro Katong di Katongan, Gunung Gambar, hingga Petilasan Syech Wali Jati di Embung Bethara Sriten.
Endah mengatakan, ia sudah berbincang dengan Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Dikpora untuk mengekspose warisan sejarah tersebut.
Menurutnya, sejarah Gunungkidul yang berkaitan dengan Brawijaya dan Bethoro Katong harus diangkat agar generasi muda tidak melupakannya.
“Kalau tidak kita munculkan, anak-anak kita tidak akan paham. Kita akan tidur di samping Petilasan Syech Wali Jati, beliau diyakini keturunan Brawijaya. Pak juru kunci nanti akan menceritakan sejarahnya,” ujarnya.
Endah ingin memetakan kawasan wisata religi Gunungkidul agar lebih terarah. Ia mencontohkan, wisatawan bisa dengan mudah menentukan tujuan spiritual mereka, apakah ke Petilasan Syech Wali Jati, Gunung Gambar, Puncak Becici, atau kawasan pantai selatan seperti Ngobaran.
“Semua warga harus mau menjaga tempat ini. Jangan ada vandalisme. Semua harus lestari,” pungkasnya tegas.
Dengan langkah dramatis camping di petilasan malam itu, Bupati Endah Subekti menegaskan bahwa Gunungkidul utara siap bangkit menyambut exit tol Jogja–Solo.
Ia bertekad menjadikan Embung Bethara Sriten sebagai primadona wisata alam dan religi, sekaligus menggerakkan perekonomian rakyat.