
KabarJawa.com — Kunjungan wisata di kawasan pesisir selatan Kabupaten Bantul pada libur Lebaran 2026 dilaporkan menurun dibandingkan tahun sebelumnya.
Sejumlah pelaku usaha menilai penurunan tersebut dipengaruhi oleh tarif retribusi serta kondisi ekonomi masyarakat.
Sejumlah destinasi seperti Pantai Depok dan Pantai Goa Cemara terlihat tidak seramai periode Lebaran 2025.
Area parkir yang biasanya penuh kendaraan terpantau lebih longgar, sementara aktivitas di warung makan juga mengalami penurunan.
Indikasi Penurunan Kunjungan
Pengurus Desa Wisata Pantai Goa Cemara, Martono, menyampaikan bahwa penurunan jumlah pengunjung dapat dilihat dari kondisi lapangan, terutama di area parkir.
“Kalau dilihat dari kantong parkir yang tidak ramai, jelas terasa sekali penurunannya. Tahun ini tidak seramai tahun lalu,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan berkurangnya jumlah wisatawan yang datang selama libur Lebaran tahun ini.
Tarif Retribusi Dinilai Berpengaruh
Martono menilai tarif retribusi sebesar Rp15 ribu per orang menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keputusan wisatawan.
Ia menyebut biaya tersebut terasa signifikan, terutama bagi wisatawan yang datang dalam jumlah rombongan.
“Orang jadi berpikir dua kali. Mau makan saja harus bayar retribusi dulu. Apalagi kalau datang berombongan,” katanya.
Menurutnya, sebagian pengunjung datang dengan tujuan utama untuk menikmati kuliner, sehingga biaya masuk kawasan menjadi pertimbangan tambahan.
Faktor Daya Beli Masyarakat
Selain tarif retribusi, pelaku usaha juga menyoroti kondisi daya beli masyarakat.
Martono menyebut masyarakat kini lebih selektif dalam membelanjakan uang dan cenderung memprioritaskan kebutuhan pokok.
“Kondisi ekonomi sekarang tidak menentu. Banyak orang memilih menyimpan uang untuk kebutuhan penting saja,” ujarnya.
Kondisi tersebut dinilai turut memengaruhi minat masyarakat untuk berwisata selama libur Lebaran.
Kondisi Serupa di Pantai Depok
Penurunan jumlah pengunjung juga dirasakan oleh pelaku usaha di Pantai Depok.
Amin, salah satu pemilik warung makan, menyampaikan bahwa jumlah pengunjung tidak mengalami peningkatan signifikan.
Sementara itu, pelaku usaha lainnya, Sutarlan, menyebut tren penurunan kunjungan telah terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
“Setiap tahun turun. Tahun ini kemungkinan lebih turun lagi dibandingkan 2025,” katanya.
Ia juga menyoroti tarif retribusi sebagai faktor yang memengaruhi keputusan wisatawan.
Perhitungan Biaya Wisatawan
Sutarlan menjelaskan bahwa biaya retribusi dapat menjadi pertimbangan bagi wisatawan, terutama dalam perjalanan rombongan.
Dengan tarif Rp15 ribu per orang, satu rombongan berisi enam orang harus mengeluarkan Rp90 ribu hanya untuk masuk kawasan wisata.
“Rp90 ribu itu sudah bisa dapat tiga porsi seafood. Jadi orang pasti mikir, mending uangnya buat makan langsung,” ujarnya.
Harapan Pelaku Usaha
Pelaku usaha berharap adanya evaluasi terhadap kebijakan tarif retribusi agar dapat mendukung keberlangsungan usaha di kawasan wisata.
Mereka menilai diperlukan keseimbangan antara penerimaan daerah dan kondisi ekonomi pelaku usaha serta wisatawan.
Kunjungan wisata selama libur Lebaran masih akan terus dipantau, seiring dengan dinamika mobilitas masyarakat dalam beberapa hari ke depan.