Krisis Air Bersih di Giripurwo: Sumur Bor Gagal, Warga Terpaksa Beli Air Rp150 Ribu per Tangki

Bagikan :
Ilustrasi Krisis Air Bersih di Giripurwo/Foto: ChatGPT

KabarJawa.com– Kekeringan menimpa warga Kalurahan Giripurwo, Kapanewon Purwosari. Di tengah teriknya musim kemarau yang mulai terasa sejak akhir Maret 2026, warga kini harus membeli air untuk bertahan hidup.

Harapan yang dulu sempat muncul lewat program sumur bor, kini justru menyisakan kekecewaan.

Ketika Sumur Bor Tak Menjadi Solusi

Pemerintah bersama Tentara Nasional Indonesia sebelumnya menggencarkan program pengeboran sumur sebagai solusi jangka panjang. Namun kenyataan di lapangan berkata lain.

Lurah Giripurwo, Supriyadi, mengungkapkan bahwa dari delapan titik pengeboran yang dilakukan tahun lalu, hanya dua titik yang berhasil mengeluarkan air.

“Sisanya mengalami kegagalan. Memang sumber air di tempat kami sangat jarang,” ujarnya.

Kegagalan ini bukan sekadar angka statistik. Setiap titik sumur yang tidak menghasilkan air berarti satu harapan warga yang pupus.

Kondisi geografis Giripurwo yang kering dan minim sumber air membuat upaya eksplorasi air tanah menjadi tantangan besar.

Di lokasi yang berhasil pun, persoalan belum selesai. Kapasitas sumur yang terbatas tidak mampu menjangkau seluruh warga.

Baca juga  Dukung Hilirisasi Perkebunan Nasional, Bantul jadi Daerah Pertama Lakukan Tanam Perdana Kelapa Genjah

Di Padukuhan Widoro, misalnya, satu sumur bor hanya mampu mencukupi kebutuhan empat RT. Sementara itu, 11 RT lainnya masih harus berjuang mencari air dari sumber lain.

Situasi ini memaksa warga untuk berbagi secara ketat, bahkan dalam beberapa kasus harus antre demi mendapatkan air dalam jumlah terbatas.

Krisis Air Bersih di Giripurwo

Selama ini, warga Giripurwo mengandalkan air hujan sebagai sumber utama. Mereka menampungnya dalam bak dan tandon untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, memasuki akhir Maret, cadangan air hujan mulai habis.

“Di tempat kami sulit menemukan sumber air, sehingga saat hujan jadi andalan. Saat kemarau, kami harus membeli dari tangki pengangkut air,” kata Supriyadi.

Kondisi ini memaksa warga beralih ke solusi yang lebih mahal: membeli air bersih. Satu tangki air dihargai sekitar Rp150.000, angka yang cukup memberatkan bagi sebagian besar warga.

Bahkan Supriyadi sendiri mengaku turut merasakan beban tersebut. “Setelah Lebaran, saya sudah membeli dua tangki.”

Masalah air bersih di Giripurwo bukanlah persoalan baru. Warga sudah bertahun-tahun hidup dalam siklus yang sama, bergantung pada hujan saat musim penghujan, lalu kesulitan air saat kemarau datang.

Baca juga  Krisis Air Bersih Melanda Purwosari Gunungkidul: Warga Terpaksa Beli Air hingga Ratusan Ribu Rupiah per Tangki

Ironisnya, jaringan pipa PDAM sebenarnya sudah tersedia sejak 1998. Namun hingga kini, jaringan tersebut belum berfungsi sebagaimana mestinya.

“Sempat ada pengeboran sumber di kawasan Laut Bekah dan berhasil, tetapi airnya payau sehingga tidak bisa didistribusikan,” jelas Supriyadi.

Kondisi ini menunjukkan bahwa infrastruktur yang ada belum mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat.

Harapan pada Sungai Bawah Tanah Baron

Di tengah keterbatasan yang ada, pemerintah daerah mulai menyiapkan langkah strategis. Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, menegaskan komitmennya untuk mengatasi krisis air bersih.

Salah satu solusi yang tengah diupayakan adalah optimalisasi sumber air dari Sungai Bawah Tanah Baron.

Potensi air di kawasan ini mencapai sekitar 2.000 liter per detik. Namun hingga saat ini, pemanfaatannya baru sekitar 57 liter per detik.

“Anggaran untuk optimalisasi memang besar, mencapai Rp125 miliar. Kami sudah mengajukan bantuan ke Pemerintah Pusat agar akses air bersih bagi warga semakin lancar,” ujarnya.

Bagi warga Giripurwo, setiap hari tanpa air bersih adalah perjuangan. Mereka harus memilih antara mengeluarkan biaya besar untuk membeli air atau mengurangi kebutuhan dasar.

Baca juga  Hutan Rogojembangan Beralih Jadi Lahan Pertanian, Warga Banjarnegara Keluhkan Dampak Lingkungan

Di tengah kondisi ini, harapan tetap ada. Warga menanti realisasi solusi yang tidak hanya bersifat sementara, tetapi benar-benar mampu mengakhiri krisis air yang terus berulang. (ef linangkung)

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Lokasi Tilang Operasi Patuh Progo 2026 Jogja
Titik Lokasi Rawan Tilang di Jogja, Operasi Patuh Progo 2026: ETLE Sleman, Bantul dan Sekitarnya
Jadwal Ganjil Genap Puncak 26 April 2026
Jadwal Buka Tutup Puncak 26 April 2026, Berlaku One Way atau Ganjil Genap? Cek Estimasinya