
KabarJawa.com– Krisis air bersih mulai menghantam wilayah Purwosari saat musim penghujan berangsur berakhir. Warga menghadapi kenyataan pahit ketika cadangan air hujan yang selama ini menjadi andalan perlahan mengering.
Kondisi ini memaksa mereka mengambil langkah darurat: membeli air bersih demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Situasi ini semakin terasa sejak akhir Maret. Intensitas hujan yang menurun drastis membuat bak-bak penampungan air hujan milik warga tidak lagi terisi.
Krisis Air Bersih Purwosari
Di sejumlah titik, tampungan bahkan sudah kosong sepenuhnya. Warga tidak memiliki banyak pilihan selain mengandalkan suplai air dari pihak swasta.
Salah satu wilayah yang terdampak cukup parah adalah Kalurahan Giripurwo. Lurah setempat, Supriyadi, mengungkapkan bahwa kesulitan air bersih mulai dirasakan warganya sejak penghujung Maret.
Ia melihat langsung bagaimana bak penampungan air hujan milik warga mulai mengering satu per satu.
Untuk bertahan, warga harus merogoh kocek lebih dalam. Mereka membeli air bersih yang diangkut menggunakan truk tangki.
Bahkan Supriyadi sendiri mengaku sudah dua kali membeli air sejak Lebaran. “Setelah Lebaran sudah membeli sebanyak dua tangki,” ujarnya.
Keterbatasan sumber air bersih menjadi akar persoalan di wilayah ini. Supriyadi menjelaskan bahwa upaya pengeboran sumur tidak memberikan hasil maksimal.
Dari delapan titik pengeboran yang dilakukan, hanya dua sumur yang berhasil mengeluarkan air bersih. Namun, kapasitas kedua sumur tersebut jauh dari cukup untuk melayani seluruh warga.
Di Padukuhan Widoro, misalnya, satu sumur bor hanya mampu mencukupi kebutuhan empat RT. Sementara itu, sebelas RT lainnya masih harus berjuang mencari sumber air alternatif.
“Memang sumber air di tempat kami sangat jarang,” kata Supriyadi menegaskan.
Permintaan Air Bersih
Di tengah krisis ini, permintaan air bersih meningkat tajam. Sunardi, seorang sopir truk tangki di kawasan Kapanewon Purwosari, merasakan lonjakan permintaan sejak bulan puasa. Ia mengaku setiap hari mampu menyuplai hingga lima tangki air kepada masyarakat.
“Permintaan sudah meningkat sejak puasa lalu karena hujan mulai jarang turun,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa pada musim hujan, pemesanan biasanya hanya datang dari pelaku usaha atau kegiatan tertentu. Namun kini, hampir seluruh pelanggan berasal dari kebutuhan rumah tangga.
Saat ini, sekitar 20 armada tangki beroperasi di wilayah tersebut. Masing-masing armada rata-rata mengirim lima tangki air setiap hari. Harga per tangki berkisar antara Rp150 ribu hingga Rp250 ribu, tergantung jarak dan kebutuhan.
Lonjakan kebutuhan ini menjadi beban tambahan bagi warga, terutama di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih. Meski demikian, mereka tidak memiliki alternatif lain. Air bersih tetap menjadi kebutuhan utama yang tidak bisa ditunda.
Krisis ini kembali menegaskan persoalan klasik di wilayah selatan Gunungkidul: keterbatasan sumber air bersih yang selalu berulang setiap musim kemarau atau saat curah hujan menurun.
Tanpa solusi jangka panjang, warga akan terus menghadapi siklus kesulitan yang sama setiap tahun. (ef linangkung)