
KabarJawa.com — Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menyoroti potensi besar sumber air dari sistem sungai bawah tanah di kawasan karst, khususnya di Muara Sungai Bawah Tanah Baron.
Sumber air tersebut dinilai memiliki kapasitas besar untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, menyampaikan bahwa kawasan Muara Sungai Bawah Tanah Baron saat ini telah dimanfaatkan untuk melayani kebutuhan air di empat kapanewon.
“Muara Sungai Bawah Tanah Baron ini melayani empat kapanewon. Sumber airnya langsung berasal dari sungai bawah tanah,” ujarnya.
Potensi Air dan Pemanfaatannya
Pemerintah daerah mencatat potensi air bawah tanah di Gunungkidul mencapai sekitar 2.000 liter per detik.
Namun, pemanfaatan yang dilakukan saat ini baru sekitar 57 liter per detik.
Kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya cadangan air yang belum dioptimalkan untuk kebutuhan masyarakat.
“Kita memiliki potensi besar, tetapi yang dimanfaatkan masih sangat kecil. Ini peluang besar untuk mengintervensi kebutuhan air bersih di Gunungkidul,” kata Endah.
Kendala Kualitas Air Saat Musim Hujan
Pemanfaatan air dari muara sungai bawah tanah menghadapi kendala pada musim hujan.
Air yang masuk ke sistem perpipaan cenderung keruh karena membawa material dari aliran sungai bawah tanah.
Akibatnya, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) menghentikan distribusi air pada kondisi tertentu untuk menjaga kualitas air yang dikonsumsi masyarakat.
“Kalau musim hujan, PDAM memutuskan untuk tidak mengalirkan air karena kualitasnya tidak memenuhi standar,” ujarnya.
Rencana Pembangunan Instalasi Pengolahan Air
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, pemerintah daerah merencanakan pembangunan instalasi pengolahan air dengan sistem penyaringan modern.
Proyek ini telah diusulkan dalam beberapa tahun terakhir, termasuk melalui kerja sama dengan pihak luar negeri.
Menurut perhitungan pemerintah daerah, kebutuhan anggaran untuk pembangunan instalasi tersebut mencapai sekitar Rp125 miliar.
“Kami sudah menghitung secara rinci, bahkan sudah melakukan efisiensi anggaran semaksimal mungkin. Nilainya sekitar Rp125 miliar untuk membangun instalasi pengolahan air yang memadai,” kata Endah.
Upaya Pemenuhan Kebutuhan Air Bersih
Pembangunan instalasi pengolahan air diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan kontinuitas pasokan air bersih bagi masyarakat, termasuk saat musim hujan.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam mengoptimalkan potensi sumber daya air lokal sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap sumber air musiman.
Proyek tersebut masih menunggu dukungan pendanaan agar dapat segera direalisasikan.