
KABAR JAWA – Situasi mencekam terjadi di Mapolda DIY pada Rabu (malam hingga dini hari), ketika aksi massa berujung bentrokan dengan aparat kepolisian.
Insiden tersebut ditandai dengan pembakaran kendaraan, perang kembang api melawan gas air mata, hingga turunnya Sri Sultan Hamengku Buwono X untuk menemui langsung massa yang masih bertahan di depan Mapolda.
Kericuhan pertama tercatat sekitar pukul 20.24 WIB, saat kaca bagian barat Mapolda DIY dirusak oleh sejumlah massa. Dalam waktu singkat, Brimob yang berjaga terpaksa mundur ke bagian belakang gedung.
Tidak hanya itu, tiga unit mobil juga dilaporkan terbakar di area sekitar Mapolda. Upaya massa untuk menyalakan lilin di sekitar poster yang berisi kritik terhadap rezim dan kapitalisme disebut gagal.
Perang Kembang Api Lawan Gas Air Mata
Sekitar pukul 20.30 WIB, situasi kian memanas ketika massa melepaskan tembakan kembang api ke arah dalam Mapolda DIY.
Bentrokan pun terjadi dengan aparat kepolisian, yang membalas menggunakan gas air mata. Kondisi ini membuat suasana di depan Mapolda semakin tegang.
“Ini Yogya satu bersama rombongan sudah di Mapolda DIY, sedang diskusi cuma belum bisa masuk,” ungkap seorang saksi mata yang berada di lokasi.
Hingga pukul 23.07 WIB, Kapolda DIY dilaporkan tengah mendampingi Sri Sultan Hamengku Buwono X untuk memaparkan situasi terkini, sementara di depan Mapolda bentrokan masih berlangsung dengan perang kembang api.

Dialog dengan Perwakilan Massa
Pada pukul 00.15 WIB, perwakilan massa yang terdiri dari pengemudi ojek online dan mahasiswa dipertemukan dengan Kapolda.
Mereka juga diberi kesempatan untuk berdialog langsung dengan Sri Sultan Hamengku Buwono X. Dalam pertemuan tersebut, Sultan mengimbau agar tuntutan massa dituangkan dalam bentuk surat dan dikirimkan kepadanya untuk kemudian diteruskan ke pemerintah pusat.
Adapun tuntutan massa yang disampaikan meliputi:
- Membebaskan rekan mereka yang ditangkap.
- Memberikan perawatan kepada korban luka.
- Mendengarkan aspirasi massa secara langsung.
- Meminta Sri Sultan Hamengku Buwono X hadir di depan massa dan menyampaikan langsung aspirasinya.
- Menyediakan konsumsi bagi massa yang bertahan.
Sejumlah pendemo yang sempat diamankan saat bentrokan disebut telah dipisahkan. Mereka yang sakit langsung dirawat oleh tim medis, sementara yang sehat dikembalikan ke rombongan.
Kapolda DIY juga menegaskan kesiapannya untuk bertanggung jawab penuh atas kondisi massa maupun barang-barang yang sempat disita. “Baik barang maupun yang sakit akan diobati di rumah sakit,” tegas Kapolda.
Pertemuan dengan Sri Sultan Hamengkubuwono X
Situasi sempat mereda saat pukul 01.00 WIB, ketika Sri Sultan Hamengku Buwono X datang menemui massa di Mapolda DIY.
Kehadiran beliau didampingi oleh Kapolda, Bupati Sleman, serta jajaran terkait. Rombongan dikawal masing-masing oleh 10 polisi berpakaian preman tanpa atribut.
Dalam prosesi tersebut, Sultan berjalan diiringi gending Raos saat menuju kerumunan massa, dan ketika kembali ke Gedung Soeryopranoto diiringi gending Raja Manggala. Massa diminta agar penggunaan gas air mata dan petasan segera dihentikan.
Pukul 01.48 WIB, Sri Sultan Hamengku Buwono X beserta rombongan meninggalkan Mapolda DIY dan kembali menuju Kraton.
Meski begitu, hingga pukul 02.30 WIB, suara petasan masih terdengar dari area sekitar Mapolda, menandakan situasi belum sepenuhnya kondusif.
Situasi Belum Terkendali
Meski telah dilakukan dialog dan pertemuan dengan pihak berwenang, kondisi keamanan di sekitar Mapolda DIY tetap mengkhawatirkan. Api sempat masih terlihat di bagian gedung pada pukul 00.52 WIB. Hingga dini hari, massa masih bertahan dan sesekali menyalakan petasan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi mengenai jumlah korban maupun total kerugian materi akibat insiden tersebut. Namun, aparat kepolisian memastikan proses mediasi akan tetap dilanjutkan untuk meredam ketegangan.***