
KabarJawa.com – Pemerintah Kabupaten Gunungkidul mengambil langkah penanganan darurat untuk mengantisipasi serangan monyet ekor panjang (MEP) yang berdampak pada sektor pertanian warga.
Pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp160 juta dari Dana Keistimewaan untuk penyediaan pakan bagi kawanan MEP yang kerap masuk ke lahan pertanian.
Langkah tersebut dilakukan menyusul laporan kerusakan tanaman yang terjadi secara berulang di sejumlah wilayah perbukitan Gunungkidul.
Serangan MEP dilaporkan meningkat dan memicu risiko gagal panen, sekaligus menambah beban petani yang harus melakukan penjagaan intensif di ladang.
Pemerintah menugaskan petugas khusus untuk mendistribusikan pakan berupa sekitar 45 kilogram ubi kayu dan 18 sisir pisang setiap dua hingga tiga hari sekali. Pakan tersebut disebar di delapan titik yang telah dipetakan sebagai lokasi kemunculan kawanan monyet.
Kepala Bidang Konservasi dan Kerusakan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul, Hana Kadaton Adinoto, menyatakan bahwa anggaran tersebut difokuskan untuk penanganan awal yang bersifat darurat.
“Untuk penanganan jangka pendek, tahun ini Pemkab Gunungkidul menyiapkan anggaran sebesar Rp160 juta dari Dana Keistimewaan untuk pemberian pakan MEP,” ujar Adinoto, Selasa (11/2/2026).
Ia menjelaskan, DLH menyediakan pakan berupa ubi kayu, singkong, dan pisang yang ditempatkan di titik-titik rawan. Distribusi pakan direncanakan berlangsung selama 10 bulan ke depan dengan harapan kawanan MEP tidak kembali masuk ke lahan pertanian warga.
“Penyediaan buah-buahan atau makanan untuk MEP ini dilakukan selama 10 bulan. Kami berharap langkah ini efektif agar MEP tidak kembali merusak tanaman warga,” kata Adinoto.
Dampak Serangan terhadap Lahan Pertanian
Serangan monyet ekor panjang dilaporkan terjadi hampir setiap hari di kawasan perbukitan Gunungkidul, baik di wilayah pesisir timur maupun barat. Kawanan MEP turun bergerombol ke ladang, terutama saat musim panen, dan merusak berbagai jenis tanaman.
Tanaman yang terdampak meliputi jagung, singkong, kacang-kacangan, hingga padi gogo. Selain memakan hasil tanaman, kawanan monyet juga mencabut tanaman hingga mati sebelum sempat dipanen.
Pada musim kemarau, intensitas gangguan dilaporkan meningkat. Kawanan MEP tidak hanya masuk ke ladang, tetapi juga ke pekarangan dan rumah warga untuk mencari makanan.
Lurah Purwodadi, Sagiyanto, menyampaikan bahwa serangan kawanan monyet di wilayahnya terjadi hampir setiap hari dan berdampak signifikan terhadap pertanian warga.
“Kera datang bergerombol hampir setiap hari. Tanaman singkong, jagung, kacang, sampai padi gogo habis diserang,” kata Sagiyanto, Minggu (18/1/2026).
Ia mencatat sekitar 80 persen lahan pertanian warga Purwodadi mengalami kerusakan berat. Kerusakan tidak hanya disebabkan oleh tanaman yang dimakan, tetapi juga karena tanaman dicabut hingga tidak dapat tumbuh kembali.
“Bukan cuma dimakan, tanamannya juga dicabut. Bahkan kera masuk ke pekarangan dan rumah warga,” ujarnya.
Penjagaan Intensif dan Rencana Jangka Panjang
Serangan yang berulang memaksa petani melakukan penjagaan ladang sejak pagi hingga sore hari. Sebagian warga bahkan memilih bermalam di kebun untuk mencegah kawanan monyet masuk ke area tanam.
Upaya pengamanan dilakukan dengan memasang jaring dan pagar sederhana. Namun, metode tersebut dinilai belum efektif untuk menahan serangan kawanan MEP yang datang bergerombol.
“Begitu penjagaan lengah, kawanan kera langsung menyerbu dan menghabiskan tanaman dalam waktu singkat. Jaring dan pagar sederhana tidak cukup kuat,” kata Sagiyanto.
Kondisi tersebut berdampak pada kelelahan fisik petani, terutama bagi warga lanjut usia yang menghabiskan sebagian besar waktunya di ladang untuk menjaga tanaman.
“Sekarang banyak petani hampir seharian berada di ladang. Ini sangat melelahkan,” ujarnya.
Selain penanganan jangka pendek, Pemkab Gunungkidul juga menyiapkan langkah jangka menengah dan panjang.
Meski kewenangan kehutanan tidak sepenuhnya berada di tingkat kabupaten, DLH mendorong program penanaman pohon penghasil buah dan tanaman perindang untuk mengembalikan habitat alami MEP.
Program tersebut diarahkan untuk memastikan ketersediaan pakan di alam sehingga mengurangi potensi konflik antara manusia dan satwa liar. Pemerintah juga melibatkan lintas sektor dalam penanganan persoalan ini.
“Penanganan MEP tidak hanya menjadi tugas DLH. Kami melibatkan lintas sektor dan mendorong sinergi antara pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota, hingga masyarakat,” tegas Adinoto.
Upaya tersebut masih terus berjalan seiring evaluasi efektivitas distribusi pakan dan koordinasi antarinstansi terkait dalam menangani dampak serangan monyet ekor panjang di Gunungkidul.