
KabarJawa.com – Gunungkidul mulai menghadapi dampak kekeringan pada awal musim kemarau 2026.
Sejumlah wilayah di bagian selatan dan utara kabupaten tersebut dilaporkan masuk dalam zona rawan kekeringan, dengan penurunan ketersediaan air bersih mulai dirasakan masyarakat.
Kondisi ini turut berdampak pada fasilitas pendidikan dan aktivitas warga di sejumlah kalurahan.
Salah satu dampak kekeringan terjadi di Satuan PAUD Sejenis (SPSI) Kasih Ibu yang berada di Tamansari, Watugajah, Gedangsari.
Bak penampungan air di sekolah tersebut dilaporkan sempat kosong dalam beberapa hari terakhir sehingga mengganggu kebutuhan operasional harian sekolah.
Guru SPSI Kasih Ibu, Endah, mengatakan air memiliki fungsi penting dalam menunjang kegiatan pendidikan di lingkungan sekolah.
“Air itu kita gunakan sebagai sarana pendukung vital pendidikan,” ujar Endah saat dikonfirmasi pada Kamis (9/4/2026).
Menurut dia, selama ini aliran air menuju bak penampungan terganggu akibat kerusakan pada talang air dan sistem drainase bangunan sekolah yang berfungsi menyalurkan air hujan. Namun, perbaikan terhadap fasilitas tersebut telah dilakukan.
“Sekarang sudah diroping, air bisa masuk ke bak penampungan dan bisa digunakan,” katanya.
BPBD Siapkan Distribusi Air ke Delapan Kapanewon
Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyatakan telah menyiapkan langkah penanganan untuk menghadapi potensi kekeringan yang lebih luas.
BPBD menargetkan distribusi 1.500 tangki air bersih ke wilayah terdampak selama musim kemarau tahun ini.
Kepala BPBD Gunungkidul, Purwono, mengatakan pihaknya telah menyiapkan empat armada untuk mendukung distribusi air bersih ke wilayah prioritas.
“Empat armada sudah kami siapkan untuk wilayah rawan. Kami juga berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan dan kalurahan agar distribusi berjalan lancar,” ujar Purwono.
Wilayah prioritas distribusi air bersih meliputi Kapanewon Panggang, Purwosari, Paliyan, Rongkop, Tanjungsari, Patuk, Nglipar, dan Gedangsari. Pemerintah daerah menyebut jumlah bantuan air yang disiapkan tahun ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
Pada musim kemarau 2025, BPBD hanya memiliki sekitar 300 tangki air untuk distribusi. Tahun ini jumlah tersebut meningkat lima kali lipat menjadi 1.500 tangki.
“Dengan jumlah tangki yang meningkat signifikan, kami berharap air bersih dapat menjangkau seluruh desa terdampak sehingga warga tidak mengalami kekurangan air selama musim kemarau,” kata Purwono.
BPBD juga mengimbau masyarakat agar menggunakan air secara hemat dan segera melaporkan apabila terjadi kendala distribusi di lapangan.
BMKG Prediksi Kemarau Lebih Panjang pada 2026
Langkah antisipasi pemerintah daerah dilakukan menyusul prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Gunungkidul yang memperkirakan musim kemarau tahun 2026 akan berlangsung lebih panjang dan lebih kering dibanding tahun sebelumnya. Kondisi tersebut dinilai berpotensi meningkatkan risiko kekeringan di berbagai wilayah.
Untuk mendukung penanganan kekeringan, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul mengalokasikan anggaran sebesar Rp500 juta untuk program dropping air bersih. Dana tersebut digunakan untuk pengadaan dan distribusi 1.500 tangki air ke masyarakat.
“Jumlah air yang akan didistribusikan tahun ini lebih banyak dibanding tahun lalu karena prediksi kemarau lebih panjang dan kering,” ujar Purwono.
Selain menyiapkan anggaran, BPBD juga melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan bersama pemerintah kapanewon dan kalurahan. Langkah itu dilakukan untuk menentukan prioritas penanganan berdasarkan tingkat kerawanan di masing-masing wilayah.
Berdasarkan kajian risiko bencana tahun 2025, wilayah selatan Gunungkidul yang dinilai paling rawan terdampak kekeringan meliputi Purwosari, Panggang, Paliyan, Saptosari, Tepus, Tanjungsari, dan Rongkop.
Kepala Bidang Pencegahan, Kesiapsiagaan, Rehabilitasi, dan Rekonstruksi BPBD Gunungkidul, Nanang Irawanto, mengatakan musim kemarau juga berpotensi meningkatkan kejadian kebakaran hutan dan lahan di wilayah setempat.
“Sebagai upaya mitigasi, BPBD akan mengeluarkan surat edaran ke kalurahan, meningkatkan sosialisasi melalui media sosial, serta mengedukasi masyarakat langsung di lapangan,” ujar Nanang.
Ia menyebut langkah mitigasi menjadi bagian penting dalam menekan dampak bencana selama musim kemarau.
“Kami berharap langkah-langkah ini bisa membantu warga bertahan hingga musim hujan tiba,” pungkasnya.