
KabarJawa.com – Kabupaten Sleman mencatat 791 titik kejadian bencana sepanjang Januari hingga Februari 2026. Data tersebut dirilis Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman dan menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan total kejadian sepanjang 2025 yang berjumlah 462 titik.
Dalam dua bulan pertama 2026, jumlah kejadian hampir dua kali lipat dari catatan satu tahun sebelumnya. Bencana yang terjadi meliputi hujan deras, angin kencang, banjir, dan tanah longsor di berbagai wilayah, mulai dari lereng Merapi hingga kawasan permukiman urban.
Sebanyak 897 jiwa terdampak dalam periode tersebut. Dua orang dilaporkan meninggal dunia dan delapan orang mengalami luka berat.
BPBD Sleman juga mencatat dampak kerusakan fisik sebagai berikut:
- 13 rumah rusak berat
- 548 rumah rusak ringan
- 533 pohon tumbang
- 22 jaringan telepon rusak
- 85 jaringan listrik terdampak
- 25 tempat usaha rusak
- 40 kandang ternak terdampak
- 8 fasilitas pendidikan rusak
- 7 fasilitas ibadah terdampak
- 18 fasilitas umum rusak
- 4 jaringan irigasi terganggu
Wilayah Sleman bagian utara menjadi kawasan paling terdampak akibat intensitas hujan tinggi dan angin kencang yang memicu banjir, longsor, serta kerusakan infrastruktur.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman, Bambang Kuntoro, menyatakan sebagian besar kejadian dipicu kondisi cuaca ekstrem.
“Banyaknya kejadian bencana karena cuaca ekstrem,” ujarnya, Selasa.
Ancaman Bibit Siklon dan Potensi Lanjutan
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menginformasikan adanya tiga bibit siklon tropis yang bergerak mendekati wilayah Indonesia. Ketiganya adalah Bibit Siklon 90S di selatan Banten atau selatan Jawa bagian barat, Bibit Siklon 93S di barat laut Australia, serta Bibit Siklon 92P di selatan Papua.
Pergerakan sistem tersebut berpotensi meningkatkan intensitas hujan dan angin kencang di sejumlah wilayah, termasuk Daerah Istimewa Yogyakarta.
Di kawasan aliran Kali Gendol, tepatnya di wilayah timur Kepuharjo, sempat terjadi banjir lahar hujan. Namun, Bambang menyampaikan kondisi terkini telah aman dan terkendali.
BMKG sebelumnya memprediksi puncak musim hujan berlangsung pada Januari hingga Februari. Memasuki dasarian pertama Maret, wilayah DIY mulai memasuki masa pancaroba atau peralihan musim. Meski demikian, periode ini tetap berpotensi menghadirkan hujan lebat disertai angin kencang.
Imbauan Kesiapsiagaan Warga
Kepala Pelaksana BPBD Sleman, R. Haris Martapa, mengingatkan masyarakat untuk tidak lengah selama masa pancaroba. Ia memperkirakan dalam dua hingga tiga dasarian ke depan, potensi banjir dan tanah longsor masih cukup tinggi.
BPBD mengidentifikasi potensi banjir berada di sepanjang sungai yang berhulu di Gunung Merapi serta di lereng perbukitan Prambanan. Genangan juga berpotensi terjadi di ruas jalan ringroad dan kawasan permukiman akibat sistem drainase yang tidak optimal.
BPBD Sleman mengimbau masyarakat membersihkan saluran irigasi dan drainase lingkungan, memangkas pohon tinggi yang rawan tumbang, menghindari aktivitas di wilayah rawan saat cuaca ekstrem, serta menyiapkan tas siaga bencana.
Haris menjelaskan tas siaga perlu berisi dokumen penting, obat-obatan, pakaian darurat, senter, makanan ringan, dan perlengkapan esensial lainnya yang dapat segera dibawa saat evakuasi.
“Jika sewaktu-waktu terjadi bencana, kita bisa langsung menggunakan dan menyelamatkan perlengkapan yang sangat kita butuhkan,” tegasnya.
BMKG memperkirakan puncak musim kemarau terjadi pada Agustus 2026. Dengan demikian, Sleman masih menghadapi periode dinamika cuaca dalam beberapa bulan ke depan.
BPBD Sleman menyatakan akan terus melakukan pemantauan dan pembaruan informasi situasi kebencanaan kepada masyarakat.