
KabarJawa.com – Jalur Clongop di Kalurahan Watugajah, Kapanewon Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul kembali dibuka setelah sebelumnya tertutup material longsor.
Meski demikian, potensi longsor susulan masih mengancam kawasan tersebut karena kondisi lereng yang belum stabil.
Jalur ini merupakan akses penghubung penting antara wilayah Gedangsari di Gunungkidul dengan kawasan Wedi, Kabupaten Klaten.
Hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi dalam beberapa hari terakhir memicu pergerakan tanah di lereng bukit sekitar jalur tersebut.
Material tanah dan batu sempat menutup badan jalan dan menghambat arus kendaraan yang melintas.
Rekahan Tanah Terpantau di Puncak Bukit
Petugas gabungan yang melakukan pemantauan menemukan tanda-tanda pergerakan tanah di area sekitar lokasi longsor.
Rekahan tanah terlihat di bagian puncak bukit yang berada tepat di atas jalur Clongop.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul, Edy Winarta, mengatakan kondisi tersebut menunjukkan bahwa potensi longsor susulan masih cukup tinggi.
Menurutnya, rekahan tanah menandakan lapisan tanah di lereng bukit belum stabil dan dapat kembali bergerak apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi.
“Dari hasil pengamatan di lapangan, masih terdapat rekahan tanah di bagian atas bukit. Karena itu potensi longsor susulan masih cukup tinggi, terutama jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi,” ujar Edy.
Selain melakukan pembersihan material longsor yang menutup jalan, petugas juga melakukan pemotongan sejumlah pohon di sekitar tebing untuk mengurangi beban tanah di lereng bukit.
Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya mitigasi darurat untuk mengurangi potensi volume material jika terjadi longsor susulan.
Tiga Alat Berat Dikerahkan
Longsor susulan yang terjadi pada Sabtu (7/3/2026) membuat tim gabungan kembali melakukan pembersihan material di lokasi.
BPBD Gunungkidul mengerahkan tiga alat berat untuk mempercepat proses pembersihan tanah, batu, dan batang pohon yang menutup badan jalan.
“Kami melakukan pembersihan material longsor susulan ini dengan menerjunkan tiga alat berat,” kata Edy.
Proses pembersihan dilakukan secara intensif mengingat jalur Clongop merupakan akses vital bagi warga yang beraktivitas antara wilayah Gunungkidul dan Klaten.
Penutupan jalur tersebut sebelumnya memaksa sebagian warga menggunakan rute alternatif dengan jarak tempuh yang lebih jauh.
Setelah material longsor berhasil dibersihkan, jalur tersebut kembali dapat dilalui kendaraan.
Longsor Terjadi Tiga Kali dalam Sepekan
Rangkaian kejadian longsor di jalur Clongop terjadi dalam waktu relatif singkat.
Longsor pertama terjadi pada Sabtu (28/2/2026) setelah hujan deras mengguyur kawasan perbukitan Gedangsari.
Material tanah dari tebing menutup badan jalan sehingga arus kendaraan terhenti.
Beberapa hari kemudian, longsor kedua terjadi pada Selasa (3/3/2026) di lokasi yang sama.
Tim gabungan membutuhkan waktu beberapa hari untuk membersihkan material longsoran yang cukup tebal.
Setelah jalur berhasil dibuka kembali pada Sabtu (7/3/2026) sore, longsor ketiga kembali terjadi di titik yang sama.
Peristiwa tersebut membuat jalur penghubung menuju wilayah Wedi kembali ditutup sementara demi keselamatan pengguna jalan.
Penanganan Masih Bersifat Darurat
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono, mengatakan penanganan yang dilakukan saat ini masih bersifat sementara.
Fokus utama petugas adalah memastikan badan jalan tetap dapat dilalui dengan membersihkan material longsor yang jatuh ke jalan.
“Penanganan sementara yang kami lakukan saat ini masih difokuskan pada pembersihan material longsoran agar jalan tetap bisa dilalui,” kata Purwono.
Sementara itu, Kepala Seksi Pembangunan Jalan dan Jembatan Bina Marga DPUP-ESDM DIY, Wira Sasongko Putro, menyebut penanganan permanen masih menunggu kajian teknis dari tim ahli.
Menurutnya, pemerintah belum dapat menentukan bentuk pengamanan lereng sebelum kajian tersebut selesai dilakukan.
“Penanganan saat ini masih sebatas membersihkan material yang menutupi jalan. Di sekitar lokasi juga masih rawan longsor susulan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pemerintah saat ini tengah menyiapkan kajian teknis untuk menentukan desain pengamanan permanen di lokasi tersebut.
“Sekarang masih dikaji. Mudah-mudahan segera ada hasilnya sehingga dapat dilakukan penanganan secara permanen,” katanya.
Pengendara Diminta Tetap Waspada
Panewu Gedangsari, Eko Krisdiyanto, memastikan jalur Clongop saat ini sudah kembali dibuka setelah longsor susulan yang terjadi pada Sabtu (7/3/2026).
Namun ia mengingatkan bahwa kawasan tersebut masih tergolong rawan longsor, terutama saat hujan deras mengguyur wilayah perbukitan.
“Jalur sudah kembali dibuka setelah terjadi longsor susulan pada Sabtu kemarin,” ujarnya.
Ia mengimbau pengendara untuk meningkatkan kewaspadaan ketika melintas di jalur tersebut, terutama saat kondisi cuaca buruk.
Jika hujan turun dengan intensitas tinggi, masyarakat disarankan menggunakan jalur alternatif yang lebih aman.
Pengendara dapat memilih jalur Jelok di Kalurahan Mertelu atau jalur Serut sebagai rute alternatif menuju wilayah tujuan.
“Kalau hujan deras sebaiknya menghindari jalur Clongop. Bisa lewat Jelok di Kalurahan Mertelu atau jalur Serut. Sebenarnya kalau tidak hujan, jalur Clongop tetap aman dilewati,” kata Eko.