
KabarJawa.com— Pada Selasa, 25 November 2025, Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) kembali optimis ketika Menteri Kehutanan memimpin apel penanaman pohon dan melepasliarkan Elang Jawa di Blok Sentong, Desa Keningar, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang.
Kegiatan ini berlangsung dalam rangka Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) Tahun 2025 dan menjadi simbol dimulainya rehabilitasi ekologis di kawasan Merapi.
Pagi di Blok Sentong menyambut rombongan Menteri Kehutanan dengan udara yang basah dan pepohonan yang menyimpan luka.
Gunung Merapi yang megah sering tertutup kabut indah, tapi di balik itu tanahnya telah lama tercabik aktivitas tambang ilegal.
Kerusakan itu memantik keprihatinan berbagai pihak dan menjadi latar dramatis dari penanaman pohon yang digelar serentak di seluruh Indonesia.
Pelepasliaran Elang Jawa
Balai TNGM berkolaborasi dengan sejumlah instansi, mulai dari Direktorat Pemulihan Ekosistem dan Bina Areal Preservasi, BPDAS Serayu Opak Progo, Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak, hingga Star Energy Geothermal Salak.
Lebih dari 40 instansi hadir di kaki Merapi, mencerminkan betapa pentingnya kegiatan ini. Pimpinan Komisi IV DPR RI, Gubernur Jawa Tengah dan DIY, jajaran kepolisian dan TNI, para bupati, forum perangkat daerah dua provinsi, hingga perguruan tinggi hadir memberi dukungan.
Kedatangan Menteri Kehutanan disambut kesenian Soreng, pertunjukan tradisional yang menghidupkan suasana dengan ritme dinamis dan gerak yang dramatik.
Kepala Desa Keningar kemudian menyerahkan hasil bumi sebagai tanda hormat sekaligus simbol syukur. Masyarakat ingin menunjukkan bahwa keberadaan Gunung Merapi menghadirkan berkah dalam kehidupan pertanian mereka.
Momen paling emosional terjadi ketika Menteri Kehutanan melepasliarkan seekor Elang Jawa betina bernama Lestari.
Burung berumur 2,5 tahun itu sebelumnya menjalani rehabilitasi selama satu tahun di Pusat Suaka Elang Jawa Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak.
Lestari berasal dari serahan Komunitas Lestari di Jawa Barat dan tiba di TNGM bersama tim ahli. Setelah memenuhi seluruh syarat perilaku dan kemampuan berburu, ia akhirnya kembali ke langit Merapi.
Saat Lestari mengepakkan sayapnya, suara decak kagum terdengar. Ternyata, Merapi bisa kembali pulih.
Penanaman Pohon
Penanaman pohon di TNGM terhubung dengan kegiatan serupa di provinsi lain melalui telekonferensi nasional. Menteri Kehutanan menyapa peserta di berbagai daerah dan menegaskan bahwa aksi menanam adalah aksi membangun masa depan.
Menteri kemudian menyerahkan langsung 2.000 bibit buah kepada masyarakat Jawa Tengah, terdiri atas alpukat, mangga, durian, dan manggis.
Kepala Desa Keningar menerima penyerahan simbolis sebagai perwakilan desa-desa penyangga TNGM. Penyerahan bibit ini bertujuan memperkuat ekonomi warga sekaligus memulihkan tutupan hijau kawasan.
Dalam sambutan, Menteri Kehutanan menegaskan bahwa HMPI bukan sekadar seremoni, melainkan langkah konkret memulihkan ekologi.
dengan tegas menyinggung ironi kondisi TNGM yang indah namun terdampak tambang ilegal.
Ia meminta seluruh pihak menjaga Merapi dari eksploitasi serampangan. Penanaman tanaman keras endemik Merapi serta pembagian bibit buah akan mampu memperbaiki ekologi dan meningkatkan nilai ekonomi masyarakat.
Kepala Balai TNGM, Dr. Muhammad Wahyudi, memaparkan bahwa penanaman di Blok Sentong menghasilkan total 650 bibit tertanam.
Semua bibit merupakan jenis asli TNGM, seperti 25 batang pulai, 25 batang nyamplung, 25 batang duwet, 325 batang pronojiwo, 150 batang tesek, 50 batang pasang dan 50 batang berasan
Jenis-jenis tersebut akan memastikan ekosistem Merapi kembali pulih sesuai karakter alamnya. Penanaman ini menjadi langkah awal mengembalikan ruang yang rusak akibat penambangan ilegal.
Selain Lestari, Balai TNGM juga melepasliarkan 100 burung lain, mulai dari perkutut, kutilang, merbah cerukcuk, kerak kerbau, hingga bondol haji.
Kepala Balai TNGM menyatakan rasa syukur atas dukungan berbagai pihak yang memungkinkan pelepasliaran besar ini.
Keberadaan burung-burung itu akan menghidupkan kembali langit Merapi, memperkaya keanekaragaman hayati, dan memperkuat rantai ekologi kawasan. (ef linangkung)