
KabarJawa.com – Gunung Merapi kembali meluncurkan awan panas guguran sejauh 1,5 kilometer pada Minggu malam, 25 Januari 2026. Awan panas tercatat meluncur ke arah barat daya, tepatnya ke hulu Kali Bebeng, pada pukul 18.29 WIB.
Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan, awan panas guguran tersebut memiliki durasi 160,72 detik dengan amplitudo maksimum 39,96 milimeter.
Arah angin saat kejadian bertiup ke timur sehingga material panas tidak mengarah ke kawasan permukiman.
Kepala BPPTKG Agus Budi Santosa menyampaikan bahwa peristiwa tersebut berkaitan dengan aktivitas suplai magma yang masih berlangsung di tubuh Gunung Merapi.
Kondisi ini berpotensi memicu kembali terjadinya awan panas guguran dalam periode mendatang.
Aktivitas Kegempaan
Dalam laporan Magma-VAR Badan Geologi untuk periode pengamatan 25 Januari 2026 pukul 12.00–18.00 WIB, tercatat 26 kali gempa guguran dengan amplitudo 2–20 milimeter dan durasi hingga 148,6 detik.
Selain itu, terekam 37 kali gempa hybrid atau fase banyak yang menunjukkan pergerakan magma di dalam tubuh gunung. Satu gempa tektonik jauh juga tercatat dalam periode tersebut.
Secara visual, puncak Gunung Merapi tertutup kabut dengan intensitas 0 hingga III. Pada periode pengamatan tidak teramati asap kawah.
Badan Geologi menetapkan tingkat aktivitas Gunung Merapi pada Level III (Siaga) dan status tersebut tetap diberlakukan. Status Siaga telah berlaku sejak 5 November 2020 dan dipertahankan karena suplai magma masih berlangsung.
Potensi bahaya utama berupa guguran lava dan awan panas di sektor selatan hingga barat daya, meliputi alur Sungai Boyong, Bedog, Krasak, dan Bebeng dengan potensi jarak luncur hingga 7 kilometer.
Sektor tenggara mencakup alur Sungai Woro dan Sungai Gendol. Apabila terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik berpotensi mencapai radius hingga 3 kilometer dari puncak.
Imbauan kepada Masyarakat
Badan Geologi mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas di kawasan rawan bahaya, meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi awan panas guguran dan lahar, terutama saat terjadi hujan, serta mengantisipasi gangguan abu vulkanik.
“Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, tingkat aktivitas Gunung Merapi akan ditinjau kembali,” demikian keterangan dalam laporan resmi Badan Geologi yang disusun oleh Rachmad Widyo Laksono.
Masyarakat diminta memantau informasi resmi dari BPPTKG dan Badan Geologi serta tidak terpengaruh oleh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.