
KabarJawa.com-Kabupaten Gunungkidul mencatat lonjakan signifikan produksi padi sepanjang tahun 2025. Pemerintah daerah berhasil mendorong peningkatan produksi hingga 10 persen melalui percepatan pembangunan infrastruktur irigasi.
Upaya ini sekaligus mengubah wajah pertanian Gunungkidul dari sistem tadah hujan menjadi pertanian berkelanjutan.
Pembangunan jaringan irigasi, sumur bor, dan sistem pipanisasi menjadi tulang punggung kenaikan produksi padi tersebut.
Infrastruktur pengairan ini memungkinkan petani mengelola air secara lebih stabil dan terencana, sehingga mereka tidak lagi sepenuhnya bergantung pada curah hujan musiman.
Peningkatan Produksi Padi Gunungkidul
Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono, menegaskan bahwa kehadiran infrastruktur irigasi membawa perubahan besar pada sistem tanam petani.
Petani yang sebelumnya hanya mampu menanam padi satu hingga dua kali dalam setahun kini berhasil meningkatkan frekuensi tanam hingga tiga kali.
“Pembangunan irigasi, sumur bor, dan pipanisasi sangat memengaruhi pola tanam petani. Terjadi peningkatan produksi sekitar 10 persen dibandingkan tahun 2024,” ujar Raharjo.
Raharjo menjelaskan bahwa data produksi padi hingga November 2025 menunjukkan hasil yang menggembirakan.
Luas panen padi di Kabupaten Gunungkidul mencapai 55.576 hektare dengan total produksi sebesar 299.624 ton gabah kering giling (GKG).
Pada periode Januari hingga April 2025 atau subround pertama, petani mengolah lahan seluas 45.965 hektare.
Dari luasan tersebut, petani menghasilkan 240.159 ton GKG dengan tingkat produktivitas mencapai 52,25 kuintal per hektare.
Memasuki subround kedua pada Mei hingga Agustus 2025, aktivitas panen tetap berjalan stabil.
Luas panen pada periode ini tercatat 9.158,4 hektare dengan produktivitas rata-rata mencapai 61,87 kuintal per hektare. Petani berhasil memanen sebanyak 56.663,3 ton GKG.
Sementara itu, pada subround ketiga periode September hingga Desember 2025, petani tetap mampu mempertahankan produktivitas tinggi meski luas panen lebih terbatas.
Dari lahan seluas 452 hektare, petani menghasilkan 2.802 ton GKG dengan produktivitas sekitar 62 kuintal per hektare.
“Jika kami akumulasikan, total produksi padi Gunungkidul pada tahun 2025 mencapai 299.624 ton GKG,” jelas Raharjo.
Raharjo menambahkan bahwa capaian tersebut jauh melampaui produksi tahun 2024 yang terdampak fenomena El Nino.
Kondisi musim kering berkepanjangan pada 2024 menekan hasil panen secara signifikan. Sebaliknya, pada 2025 curah hujan relatif stabil sehingga tanaman padi tumbuh lebih optimal.
Sektor Pascapanen
Selain fokus pada peningkatan produksi, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul juga mulai memperkuat sektor pascapanen.
Pemerintah daerah mendorong hilirisasi produk pertanian agar petani tidak hanya bergantung pada penjualan gabah mentah.
“Kami terus mengupayakan hilirisasi melalui penguatan UMKM pertanian berbasis kelompok tani dan gabungan kelompok tani. Langkah ini kami harapkan dapat meningkatkan nilai tambah dan kesejahteraan petani,” tandas Raharjo.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Rismiyadi, menyatakan bahwa capaian produksi padi tahun 2025 tidak hanya menunjukkan keberhasilan program irigasi, tetapi juga melampaui target pembangunan daerah.
“Target produksi padi tahun 2025 dalam RPJMD sebesar 291 ribu ton GKG. Alhamdulillah, capaian produksi mencapai 299.624 ton GKG,” ujar Rismiyadi.
Rismiyadi mengapresiasi kerja keras petani yang terus beradaptasi dengan teknologi dan pola tanam baru.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan ini memperkuat posisi Gunungkidul dalam menjaga ketahanan pangan daerah.
“Kami sangat mengapresiasi dedikasi para petani. Capaian ini membuktikan bahwa kolaborasi antara pemerintah dan petani mampu menghasilkan lompatan besar bagi sektor pertanian Gunungkidul,” pungkasnya.
Dengan penguatan irigasi, peningkatan produktivitas, serta pengembangan pascapanen, Kabupaten Gunungkidul kini menatap masa depan pertanian yang lebih mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan. (ef linangkung)