Waspada Musim Hujan! Dinkes Kota Yogyakarta Catat 26 Kasus Leptospirosis, Enam Warga Meninggal Dunia

Bagikan :
Kepala Seksi Pencegahan, Pengendalian Penyakit Menular, dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Endang Sri Rahayu/Foto: Pemkot Yogyakarta

KabarJawa.com– Memasuki musim penghujan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta kembali mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit leptospirosis.

Penyakit karena bakteri Leptospira ini kerap muncul saat curah hujan meningkat dan lingkungan menjadi lembap, terutama di wilayah perkotaan yang masih bergelut dengan masalah tumpukan sampah dan genangan air.

Kepala Seksi Pencegahan, Pengendalian Penyakit Menular, dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Endang Sri Rahayu, mengungkapkan fakta mencengangkan.

Kasus Leptospirosis

Sejak Januari hingga akhir Oktober 2025, pihaknya mencatat 26 kasus leptospirosis, dengan enam di antaranya berujung kematian. Kasus terakhir bahkan terjadi pada Oktober lalu, menimpa seorang warga Kelurahan Bumijo.

“Ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk tidak menyepelekan leptospirosis. Bila terlambat ditangani, penyakit ini bisa menyebabkan gagal ginjal atau gangguan paru yang fatal,” tegas Endang.

Endang menjelaskan, meningkatnya kasus leptospirosis erat kaitannya dengan musim hujan. Curah hujan tinggi menciptakan kelembapan yang ideal bagi berkembangnya bakteri Leptospira.

Sementara itu, tumpukan sampah yang belum tertangani menjadi tempat favorit tikus bersarang dan mencari makan. Hewan pengerat ini merupakan sumber utama penularan penyakit tersebut.

Baca juga  Rekomendasi Spot Wisata di Daerah Kaliurang Yogyakarta, Wisata Alam yang Sejuk di Kaki Gunung

“Semakin banyak sampah, semakin banyak tikus. Pencegahan bisa dimulai dari rumah. Jaga kebersihan lingkungan, tutup makanan dan minuman agar tidak terkontaminasi, serta biasakan mencuci tangan dan kaki setelah beraktivitas, terutama setelah kerja bakti atau bersentuhan dengan tanah dan air,” katanya.

Endang menegaskan pentingnya mengenali gejala awal leptospirosis agar penanganan bisa dilakukan secepat mungkin. Dia meninta warga untuk mewaspadai munculnya gejala penyakit Leptospirosis ini.

“Jika muncul nyeri otot, terutama di bagian betis, disertai mata menguning atau rasa nyeri saat betis ditekan. Jangan tunggu parah, segera periksa ke puskesmas atau rumah sakit terdekat,” ujarnya.

Ia menyesalkan bahwa sebagian besar kasus kematian terjadi karena pasien datang dalam kondisi sudah parah. Di mana biasanya tanda-tanda tersebut datang saat minggu kedua infeksi, ketika ginjal dan organ lain sudah rusak.

“Jadi sudah terlambat untuk diselamatkan,” tambahnya.

Dinkes Perkuat Tenaga Medis dan Fasilitas Rujukan

Sebagai langkah antisipasi, Dinkes Kota Yogyakarta memperkuat kapasitas tenaga medis di seluruh puskesmas.

Pelatihan bersama dokter spesialis penyakit dalam telah berlangsung agar diagnosis dan tata laksana pasien bisa lebih cepat dan tepat. Dinkes juga menggandeng enam rumah sakit rujukan untuk menangani kasus berat.

Baca juga  Festival Angkringan Jogja 2025 Resmi Digelar, Tawarkan Rasa Otentik dan Nostalgia Tak Terlupakan

“Obat untuk leptospirosis sebenarnya tersedia. Tapi masalahnya, pasien sering datang terlambat. Karena itu kami butuh dukungan media dan masyarakat untuk menyebarkan pesan kewaspadaan ini,” ujar Endang.

Selain itu, Dinkes juga mengimbau masyarakat yang bekerja di area berisiko tinggi seperti petugas kebersihan, pengelola sampah, dan pekerja drainase untuk menggunakan alat pelindung diri (APD), seperti sepatu bot dan sarung tangan panjang. Luka terbuka juga harus ditutup rapat sebelum bekerja di area lembap atau berlumpur.

Ketua Tim Kerja Surveilans, Pengelolaan Data, dan Sistem Informasi Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Sholikhin Dwi Ramtana, menambahkan bahwa upaya pencegahan leptospirosis di Kota Yogyakarta sudah berjalan sesuai Permenko Nomor 17 Tahun 2022 tentang Pencegahan, Pengendalian, dan Penanggulangan Zoonosis.

“Kami menerapkan dua lapis pencegahan, yaitu pencegahan primer dan sekunder. Pencegahan primer dilakukan lewat edukasi lintas sektor dan pengendalian faktor risiko lingkungan. Pencegahan sekunder dilakukan dengan meningkatkan kewaspadaan tenaga kesehatan agar mampu mengenali gejala lebih dini,” jelas Sholikhin.

Dalam rangka memperkuat deteksi dini, Dinkes telah melakukan survei reservoir di dua lokasi, yakni kawasan Perumahan Lapas dan Bumijo. Petugas mengambil sampel air dan tanah, serta menangkap tikus untuk pemeriksaan laboratorium.

Baca juga  Indonesia Shopping Festival 2026 Hadir di 8 Mal Yogyakarta, Ini Agenda dan Promo Menariknya

“Hasil di kawasan Lapas menunjukkan sebagian besar tikus yang tertangkap positif mengandung bakteri Leptospira. Ini artinya lingkungan kita memang sudah berisiko tinggi,” ungkapnya.

Sholikhin menegaskan bahwa selain tikus, beberapa hewan mamalia lain seperti anjing, sapi, kambing, dan kuda juga berpotensi menularkan leptospirosis.

Namun, di kawasan perkotaan seperti Yogyakarta, tikus tetap menjadi sumber utama penyebaran penyakit tersebut.

“Kalau tidak segera ditangani, penyakit ini bisa berkembang cepat dan menyebabkan komplikasi berat, terutama pada ginjal. Ujungnya adalah kondisi terminal yang sulit diselamatkan,” ujarnya.

Dengan meningkatnya curah hujan dan risiko lingkungan yang lembap, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta menyerukan agar warga tidak menganggap remeh gejala ringan seperti demam, nyeri betis, atau mata menguning.

“Leptospirosis bukan penyakit biasa. Begitu muncul gejala, segera periksa. Lebih cepat ditangani, lebih besar peluang sembuh,” pungkas Endang. (ef linangkung)

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Lokasi Tilang Operasi Patuh Progo 2026 Jogja
Titik Lokasi Rawan Tilang di Jogja, Operasi Patuh Progo 2026: ETLE Sleman, Bantul dan Sekitarnya
Roberto Carlos masih hidup pada Agustus 2026. Simak kondisi kesehatan, karier, dan perannya sebagai pemegang saham Fursan Hispania. (Foto: instagram/oficialrc3)
Apakah Roberto Carlos Masih Hidup Agustus 2026? Ini Kondisi Terbaru Legenda Brasil dan Real Madrid